Monday, 13 Safar 1443 / 20 September 2021

Monday, 13 Safar 1443 / 20 September 2021

Ilmuwan Temukan Cara Deteksi Semburan Matahari Siluman

Senin 26 Jul 2021 13:07 WIB

Rep: Noer Qomariah Kusumawardhani/ Red: Dwi Murdaningsih

Matahari. ILustrasi

Matahari. ILustrasi

Foto: Dailymail
Tidak semua semburan massa korona bisa terdeteksi oleh perubahan warna.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tim peneliti dari International Space Science Institute menemukan cara melacak peristiwa semburan matahari, dengan lebih baik. Peristiwa lontaran massa korona atau Coronal mass ejection (CME) yang sangat besar relatif jarang terjadi. Ketika itu terjadi biasanya tidak diarahkan ke Bumi.

Peristiwa CME sempat terjadi pada 2012. Saat itu, ada suar besar matahari besar tidak mengenai Bumi. Namun, peristiwa itu bisa melumpuhkan jaringan listrik dan menghancurkan satelit di seluruh belahan Bumi. Suar sebesar yang terjadi pada 2012 relatif mudah dideteksi menggunakan metode pengindraan konvensional, karena ukuran dan juga posisinya.

Dilansir dari Science Alert, Senin (26/7), ada sensor yang dapat mengamati tanda-tanda pencerahan di permukaan Matahari yang mengindikasikan jilatan api matahari. Sensor ini juga bisa mendeteksi suar saat keluar dari Matahari menuju kegelapan ruang angkasa. Sayangnya, teknik ini tidak bisa mendeteksi jenis CME yang tidak menimbulkan efel kecerahan apa pun.

Baca Juga

CME ini yang tidak menghasilkan tanda apa pun di permukaan Matahari, dikenal sebagai CME “siluman”. Biasanya, CME ini baru bisa diketahui setelah peristiwa tersebut berdampak pada Bumi.

Kini, para peneliti menggunakan data yang dikumpulkan pada empat CME siluman oleh pesawat ruang angkasa STEREO NASA. Empat waktu dan teknik pencitraan yang berbeda menangkap CME 3 Maret 2011.

Ilmuwan menganalisis gambar yang terdiri dari beberapa skala kecerahan dan peredupan warna. Mereka kemudian menganalisis titik-titik asal tersebut dengan data lain yang dikumpulkan secara bersamaan. Ilmuwan melihat pola kecerahan yang berubah yang muncul untuk keempat CME siluman.

Mereka percaya perubahan ini merupakan indikasi dari pembentukan CME siluman, yang memungkinkan para ilmuwan memiliki waktu yang berharga untuk mendeteksi dan mempersiapkan potensi serangan CME lain setelah pola serupa terdeteksi.

Mendeteksi pola bisa terbukti rumit

Pekerjaan STEREO dalam menemukan wilayah sumber CME yang digunakan dalam penelitian ini cukup beruntung. Pesawat ruang angkasa kebetulan mencari di tempat yang tepat pada waktu yang tepat. Untuk menyempurnakan teknik ini, diperlukan lebih banyak data dari Bumi n untuk memodelkan struktur CME yang baru ditemukan dan wilayah asalnya.

Badan Antariksa Eropa (ESA) meluncurkan Solar Orbiter tahun lalu, yang seharusnya dapat mengumpulkan data yang diperlukan untuk penelitian ini. Ini juga dapat membantu masalah yang lebih menantang-mendeteksi “CME super siluman”, yang tidak muncul pada koronagraf, alat standar yang digunakan untuk mendeteksi jenis semburan matahari lainnya.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id
 

BERITA TERKAIT

 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA