Thursday, 18 Syawwal 1443 / 19 May 2022

Thursday, 18 Syawwal 1443 / 19 May 2022

Main Habis-habisan Dulu, Kalah Menang Belakangan

Ahad 28 Nov 2021 16:31 WIB

Red: Israr Itah

Para pemain timnas basket putra Indonesia saat melawan Lebanon di FIBA World Cup 2023 Qualifiers.

Para pemain timnas basket putra Indonesia saat melawan Lebanon di FIBA World Cup 2023 Qualifiers.

Foto: FIBA ASIA
Timnas basket putra Indonesia akan menghadapi game kedua melawan Lebanon.

Oleh: Israr Itah, Jurnalis Republika

REPUBLIKA.CO.ID, "Kalau lu nggak pengen menang, tidur aja di rumah, nggak usah datang ke lapangan," kata seorang pelatih basket kawakan Tanah Air saat kami berdiskusi kecil soal ekspektasi dan realita dalam olahraga. Perbincangan ini terjadi belasan tahun lalu, saat saya baru mengawali pekerjaan sebagai jurnalis yang meliput olahraga, khususnya bola basket.

Baca Juga

Konteksnya adalah bagaimana sikap tim, pelatih, dan pemain menghadapi lawan yang di atas kertas jauh diunggulkan. Menurut pelatih tersebut, mindset pelatih dan pemain tetap fokus pada memberikan perlawanan terbaik tanpa perlu khawatir memikirkan hasil akhir. Dimulai dari persiapan jelang laga hingga detik akhir bunyi buzzer tanda laga usai. Sederhananya, main habis-habisan dulu seolah-olah dengan itu kita bisa meraih kemenangan, tapi pada saat yang sama tak perlu mengkhawatirkan hasil laga karena toh posisi kita underdog.

Kata-kata si pelatih ini teringat kembali selepas menyaksikan pertandingan perdana timnas basket putra Indonesia di Grup C FIBA World Cup 2023 Qualifiers menghadapi Lebanon di Nouhad Nawfal Sport Complex, Zouk Mikael, Lebanon, Sabtu (27/11) dini hari WIB. Timnas basket putra Indonesia kalah telak 38-96. Kritikan dan hujatan mengalir deras di kolom percakapan Youtube FIBA yang menayangkan langsung laga ini.

Belum cukup, kata-kata pedas berlanjut di media sosial akun-akun basket Tanah Air. Yang jadi sasaran kritik, yakni PP Perbasi selaku induk olahraga basket Tanah Air, pelatih kepala Rajko Toroman, manajemen timnas basket putra, dan para pemain.

Hal yang dibahas beragam. Untuk coach Toro misalnya, ia dinilai tak cocok memegang timnas basket kita dan layak diganti karena tak mampu meningkatkan performa pasukannya. Strateginya dipandang monoton dan seperti tak punya rencana cadangan saat game plan utama tak berjalan. Ia juga dianggap tak maksimal dalam merekrut  pemain-pemain terbaik di Tanah Air ke dalam timnya.

Keluhan yang terakhir ini, pada saat yang sama, juga tertuju kepada manajemen timnas yang dinilai memilih pemain itu-itu saja. Suka tak suka, ini juga merembet kepada personal beberapa pemain. Sejumlah nama  dinilai tak pantas berada di timnas basket putra sekarang dan lebih baik memberikan kesempatan kepada pemain lain yang dianggap bisa memberikan kontribusi positif.

Dasar alasannya, tak ada perkembangan berarti meskipun sudah berlatih lama, termasuk digembleng di Amerika Serikat. Mental yang tak siap, dan lain sebagainya. Padahal para pemain ada di dalam roster timnas basket karena dipilih, bukan mendaftar!

Sementara, yang mendudukkan persoalan sedikit lebih fair, menanyakan soal absennya Arki Dikania Wisnu dan Lester Prosper. Arki adalah pemain paling senior di timnas, sementara Lester merupakan penggawa naturalisasi yang dibutuhkan mengisi pos di bawah ring. Keduanya absen pada laga ini tanpa ada penjelasan resmi dari PP Perbasi. Tanpa Arki, dan Lester terutama, timnas kita tak berdaya. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
hide ads show ads
desktop mobile