Tuesday, 1 Rabiul Awwal 1444 / 27 September 2022

Tuesday, 1 Rabiul Awwal 1444 / 27 September 2022

 

1 Rabiul Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Butuh 28 Hari untuk Mengetahui Daya Tahan Booster

Senin 10 Jan 2022 13:01 WIB

Red: Nora Azizah

Butuh 28 hari setelah penyuntikan untuk mengetahui daya tahan booster.

Butuh 28 hari setelah penyuntikan untuk mengetahui daya tahan booster.

Foto: www.pixabay.com
Butuh 28 hari setelah penyuntikan untuk mengetahui daya tahan booster.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI Penny K Lukito mengemukakan, uji klinik terhadap daya tahan vaksin penguat (booster) antibodi diketahui 28 hari setelah penyuntikan. "Uji klinik dilihat dari aspek keamanan dan imunogenisitas atau peningkatan kapasitas dan manfaat titer antibodi dilihat 28 hari usai pemberian booster," kata Penny K Lukito dalam konferensi pers yang digelar di Gedung BPOM RI, Jakarta Pusat, Senin (10/1/2022).

 

Penny mengatakan, saat ini ada lima jenis vaksin penguat yang mendapatkan izin penggunaan darurat (Emergency Use Authorization/EUA) yakni Coronavac dari PT Bio Farma, Pfizer, AstraZeneca, Moderna, Zifivax. Sejak November 2021, kata Penny, BPOM dan sejumlah pakar dari perwakilan asosiasi sudah melakukan kajian keamanan khasiat dan mutu sebagai vaksin primer dan dievaluasi sebagai vaksin penguat. Hasilnya, kelima vaksin tersebut digunakan dalam dua metode pemberian, yakni homolog atau jenis vaksin yang sama dengan dosis lengkap vaksin primer atau heterolog yang merupakan jenis vaksin berbeda dari dosis lengkap vaksin primer. 

Baca Juga

Vaksin penguat yang masuk dalam kriteria homolog di antaranya CoronaVac, Pfizer, AstraZeneca dan Moderna. Sedangkan kriteria heterolog adalah Moderna dan Zifivax. 

"Moderna untuk homolog dan heterolog booster," katanya.

Penny mengatakan, vaksin penguatModerna dapat dikombinasikan untuk melengkapi vaksin primer AstraZeneca, Pfizer, dan Johnson and Johnson. Sedangkan Zifivax menjadi penguat pelengkap untuk Sinovac atau Sinopharm. BPOM hingga saat ini masih menanti hasil uji klinik vaksin penguatheterolog merek Sinovac, sebagai salah satu vaksin dengan pengguna terbanyak di Indonesia.

"Kami sedang tunggu heterolog vaksin penguat Pfizer, AstraZeneca dengan vaksin primernya Sinovac," katanya. 

Selain itu, BPOM menunggu hasil uji klinik vaksin penguat dengan vaksin primer AstraZeneca. Calon vaksin penguatheterolog yakni Sinovac dan Pfizer.

"Uji klinis Sinopharm juga masih berlangsung dan mudah-mudahan secepatnya data homolog dan heterolog keluar," katanya.

sumber : Antara
Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f

 

 

BERITA LAINNYA

 

 

hide ads show ads
desktop mobile