Tuesday, 11 Muharram 1444 / 09 August 2022

Tuesday, 11 Muharram 1444 / 09 August 2022

11 Muharram 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Dalam Dzikir, Ingat dan Renungkanlah Ini

Kamis 26 May 2022 09:39 WIB

Rep: Muhyiddin/ Red: Muhammad Hafil

 Dalam Dzikir, Ingat dan Renungkanlah Ini. Foto:  Ilustrasi Al-Quran dan Berdzikir COVID-19.

Dalam Dzikir, Ingat dan Renungkanlah Ini. Foto: Ilustrasi Al-Quran dan Berdzikir COVID-19.

Foto: Republika/Thoudy Badai
Renungkan hal ini saat dzikir.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA – Dzikir dalam pengertian luas adalah kesadaran tentang kehadiran Allah Swt, di mana dan kapan saja, serta kesadaran akan kebersamaan-Nya dengan makhluk. Dalam konteks zikir yang diajarkan agama, tentu saja tidak keliru bahwa yang yang harus diingat dan disebut adalah Allah Swt, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya.

Namun, menurut pakar Tafsir M Quriash Shihab, kalau merujuk kepada Alquran, yang ditemukan dari ayat-ayat yang menggunakan redaksi perintah berzikir, cukup banyak yang disebut-Nya sebagai objek zikir.

Baca Juga

Berikut beberapa objek zikir yang diuangkapkan M Quriash dalam bukunya yang berjudul “Wawasan Al-Quran tentang Zikir dan Doa” tertiban Lentera Hati.

Pertama, mengingat Allah Swt. Dalam arti, mengingat sifat-sifat, perbuatan, dan keebsaran Allah Swt, bukan Dzat-Nya. “Inilah yang pertama dan utama, serta dari dan kepada-Nya lah berpagkal dan bersuah semua zikir,” jelas M Quraish.

Dalam surat al-Ahzab ayat 41 Allah Sw berfirman,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اذْكُرُوا اللّٰهَ ذِكْرًا كَثِيْرًاۙ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, berzikir (sebut-sebutlah nama Allah dan renungkanlah kebesaran-Nya) dengan zikir yang banyak.”

Kedua, meningat hari-hari Allah sebgaimana dijelaskan dalam surat Ibrahim ayat 5, di mana Allah Swt memerintahkan kepada Nabi Musa,

اَنْ اَخْرِجْ قَوْمَكَ مِنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِ ەۙ وَذَكِّرْهُمْ بِاَيّٰىمِ اللّٰهِ

Artinya: “Keluarkanlah kaummu dari kegelapan kepada cahaya terang-benderang dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah.”

M Quraish menjelaskan, hari-hari Allah Swt yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah hari-hari di mana terjadi peristiwa-peristiwa penting yang mereka alami baik yang positif (nikmat) maupun yang negatif (siksa). Menurut dia, itulah sebabnya mengapa Allah meningatkan Nabi Muhammad Saw agar berzikir, yakni merenung dan meningat tentang keadaan dan situasi yang pernah mereka alami.

Ketiga, mengingat kitab Allah atau ayat-ayat-Nya yang tertulis. Menurut M Quriash, secara khusus, Allah Swt mengingatkan wanita-wanita Muslimah agar berzikir dengan Alquran dan Sunnah Nabi Saw yaitu dengan firman-Nya,

وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلٰى فِيْ بُيُوْتِكُنَّ مِنْ اٰيٰتِ اللّٰهِ وَالْحِكْمَةِۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ لَطِيْفًا خَبِيْرًا

Artinya: “Dan berzikirlah (ingat dan renungkanlah) apa yang dibacakan di rumah-rumah kamu dari ayat-ayat Allah dan hikmah. Sesungguhnya adalah Allah Mahalembut lagi Maha Mengetahui.” (QS al-Ahzab [33]: 34).

M Quraish menjelaskan, ayat tersebut tidak memerintahkan membaca tetapi mengingat dan memelihara bacaan dan hikmah itu.

Keempat, mengingat tokoh yang baik atau yang buruk. M Quriash mengatakan, cukup banyak ayat yang menyebut sosok atau tokoh sebagai objek zikir, baik nabi maupun bukan, lelaki maupun perempuan, yang taat maupun yang durhaka.

Dalam surat Maryam misalnya, berulang-ulang ditemukan perintah berzikir, yakni mengingat dan merenungkan tentang Maryam, Ibrahim, Musa, Ismail, dan Idris. Tentu saja, menurut M Quriash, berzikir dan merenungkan tentang Nabi Muhammad Saw merupakan salah satu bentuk zikir yang amat utama.

Kelima, diri manusia. Menurut M Quriash, cukup banyak juga ayat Alquran yang menyebut manusia sebagai objek zikir. Ayat-ayat yang terkait hal ini merupakan perintah kepada manusia untuk merenungkan asal kejadiannya serta perjalanan hidupnya. Misalnya, dalam surat Maryam ayat 67, Allah Swt berfirman,

اَوَلَا يَذۡكُرُ الۡاِنۡسَانُ اَنَّا خَلَقۡنٰهُ مِنۡ قَبۡلُ وَلَمۡ يَكُ شَيۡـًٔـا

Artinya: “Tidakkah manusia itu mengingat (berpikir) bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakannya, sedang dia (sebelum diciptakan itu, dahulu) tidak ada sama sekali (dalam wujud ini)?” (QS. Maryam [19]: 67).

 

 

Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
hide ads show ads
desktop mobile