Thursday, 13 Muharram 1444 / 11 August 2022

Thursday, 13 Muharram 1444 / 11 August 2022

13 Muharram 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Live Shopping TikTok di Eropa dan AS Kurang Diminati?

Rabu 06 Jul 2022 02:12 WIB

Rep: Meiliza Laveda/ Red: Dwi Murdaningsih

TikTok saat ini dapat memberikan harga 200 ribu dolar AS per unggahan (Foto: ilustrasi aplikasi tiktok)

TikTok saat ini dapat memberikan harga 200 ribu dolar AS per unggahan (Foto: ilustrasi aplikasi tiktok)

Foto: Vimeo
Sejah tahun lalu, TikTok menguji fitur belanja langsung di Inggris.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Platform media sosial berbagi video TikTok mengurangi rencana perdagangan langsungnya di Eropa dan Amerika Serikat (AS). Langkah tersebut diambil karena peluncuran awalnya dinilai belum berhasil.

Sejak akhir tahun lalu, TikTok sudah menguji fitur belanja langsung di Inggris yang dimulai dengan acara multi-merek yang dikenal “On Trend.” Namun, Financial Times melaporkan streaming langsung belanja tersebut belum menarik banyak penonton dan belum memicu banyak penjualan.

Baca Juga

Bahkan, sejumlah konten kreator yang terlibat dalam proyek TikTok Shop awal telah keluar. TikTok telah berencana meluncurkan Shop di Jerman, Prancis, Italia, dan Spanyol. Sementara untuk wilayah AS, Shop akan diluncurkan pada akhir tahun ini.

Namun, sepertinya TikTok akan memfokuskan diri untuk membuat fitur baru itu sukses di Inggris. Konsep belanja online langsung sebenarnya bisa berjalan baik di beberapa negara di Asia.

Dilansir The Verge, Rabu (6/7/2022), belanja online langsung yang dipimpin oleh kreator dan influencer merupakan bisnis besar bagi pemilik TikTok, ByteDance. Douyin, TikTok versi China yang juga dimiliki oleh ByteDance telah melihat penjualan langsung tersebut berubah menjadi acara rutin yang membawa keuntungan besar bagi pengecer, konten kreator, dan platform.

Sejauh ini, tidak banyak bukti yang menunjukkan bahwa model e-commerce langsung dapat berfungsi di mana saja. Persaingan belanja langsung online di platform lain selain TikTok bisa menjadi penyebab.

Meski begitu, TikTok tetap menjadi aplikasi populer. TikTok terus menjadi pusat budaya dan sebagian besar orang rela menghabiskan waktu mereka untuk menggulir video.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
hide ads show ads
desktop mobile