Monday, 11 Jumadil Awwal 1444 / 05 December 2022

Monday, 11 Jumadil Awwal 1444 / 05 December 2022

11 Jumadil Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Hikmah PMK, Peternak: Sapi Terjual Lebih Sedikit Tapi Omzet Lebih Besar

Ahad 10 Jul 2022 13:01 WIB

Rep: Dea Alvi Soraya/ Red: Andri Saubani

Jamaah Masjid Al Furqon Bandung menyembelih hewan kurban menggunakan mesin perebah sapi lingkungan masjid, Ahad (10/7/2022). Tahun ini warga menyembelih 13 ekor sapi dan 14 ekor kambing yang didistribusikan ke sekitar wilayah perumahan warga.

Jamaah Masjid Al Furqon Bandung menyembelih hewan kurban menggunakan mesin perebah sapi lingkungan masjid, Ahad (10/7/2022). Tahun ini warga menyembelih 13 ekor sapi dan 14 ekor kambing yang didistribusikan ke sekitar wilayah perumahan warga.

Foto: Republika/Yogi Ardhi
Dengan pasokan yang sedikit harga sapi menjadi melonjak.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG—Harga hewan sapi dalam perayaan Idul Adha 1443 H melonjak naik di Bandung. Kenaikan merupakan imbas dari adanya wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang awalnya melanda hewan ternak sapi di provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah. Wilayah tersebut merupakan pasokan sapi terbesar di Jawa Barat dan Jakarta.

Salah satu peternak sapi dan domba, Asep Sukmana, mengaku bahwa omzet penjualan di 2022 lebih baik dibandingkan tahun lalu. Pasalnya, dengan supply sapi yang terbatas harga bisa melonjak naik dan membuat peternak memiliki keuntungan omzet. 

Baca Juga

“Jauh (perbandingannya) dari tahun kemarin. Tahun ini jual 92 ekor, di mana dua ekornya dipotong keluarga, tapi omzet sampai Rp 400 jutaan. Itu pendapatan modal kembali ya, kalau keuntungan itu bisa sampai Rp 650 jutaan. Variatif kan ya keuntungannya, ada yang satu ekor Rp 5 juta, ada yang satu ekor Rp 6 juta bahkan ada yang satu ekor Rp 10 juta,” ujar pria yang akrab disapa Ace itu, Ahad (10/7/2022). 

Menurutnya, di tahun lalu, dari penjualan 150 ekor per tahun Ace meraup keuntungan di angka Rp 680 juta. Keuntungan tidak berbeda jauh dengan jumlah penjualan sapi yang lebih sedikit di tahun ini. “Lebih baik tahun sekarang terjual 92 ekor dengan angka nominal pendapatan modal plus keuntungan nyampe di 650 jutaan (rupiah),” tuturnya. 

Pria yang memasarkan ternaknya di sekitar Bandung Raya ini menambahkan, perbandingan kenaikan harga sapi dibanding tahun lalu berkisar antara Rp 1 juta- Rp 1,5 juta per ekor. Sapi jogrog (taksiran bobot timbangan) per ekor berada di kisaran harga mulai dari Rp 19 juta sampai Rp 35 juta.  

Sedangkan untuk domba, Ace mengaku bahwa ada kenaikan signifikan di tahun ini. Domba dengan bobot 15 kg berada di harga Rp 3,2 juta. “Kalau misalkan jogrog itu mulai dari 2,9 juta sampai Rp 7 juta yang ready di kandang. Kalau kenaikan  domba di tahun ini sekarang di Rp 500 ribu sampai Rp 750 ribu,” jelas Ace. 

Wabah PMK ini, tambah Ace, memang membawa hikmah untuk para peternak. Kendati demikian,  pihaknya tentu harus memberi perawatan intensif kepada ternak miliknya. Ia juga memiliki kekhawatiran terkait konsumen yang berisiko menularkan PMK karena sudah masuk ke kandang dengan sapi yang terpapar PMK. 

“Tapi alhamdulillah semuanya sehat 92 ekor. Saya sering sosialisasikan ke rekan pegawai tentang sanitasi kebersihan kandang. Di usahakan pagi itu kandang harus tetap bersih, sore juga harus dibersihkan jadi jangan sampai ada genangan air atau sisa kotoran,” terangnya. 

Tak hanya itu, dengan supply sapi yang terbatas dan penambahan biaya perawatan, Ace kerap memberikan pemahaman kepada konsumen. “Kita utarakan ke pembeli, memang itu tanggung jawab kita sebagai pemilik sapi (untuk merawat). Namun tetap kita informasikan ke pembeli, kalau ada biaya perwatan mau gak dibebankan. Misalkan untuk pembeli 30 persen, pemilik 70 persen,” bebernya. 

Hingga saat ini, Ace mengatakan dirinya mendapat kisaran konsumen sebanyak 175 orang. Dengan mayoritas yayasan, dimana satu yayasan bisa mengambil 3-7 ekor hewan ternak sekaligus. Sedangkan untuk konsumen pribadi, berada di angka 75 orang. 

Ia berharap, pascapeluncuran vaksin pemerintah juga harus lebih rutin melakukan kontrol sanitasi ke kandang-kandang ternak. Memberi edukasi dan presentasi terkait masalah kesehatan hewan dan kebersihan kandang.

“Saya harap ada sinergi antara peternak dengan pemerintah yang diwakilkan petugas yang turun di lapangan,” ujarnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
 
 
 
 
hide ads show ads
desktop mobile