Friday, 4 Rabiul Awwal 1444 / 30 September 2022

Friday, 4 Rabiul Awwal 1444 / 30 September 2022

 

4 Rabiul Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Dokter Anak: Tumbuh Kembang di Masa Pandemi Menuntut Perhatian Ekstra

Jumat 15 Jul 2022 11:15 WIB

Red: Gilang Akbar Prambadi

Pengawasan terhadap tumbuh kembang anak harus selalu diawasi orang tua (ilustrasi).

Pengawasan terhadap tumbuh kembang anak harus selalu diawasi orang tua (ilustrasi).

Foto: Pixabay
Asupan tambahan, salah satunya makanan cair bernutrisi, menjadi salah satu opsi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Salah satu faktor pendukung tumbuh kembang anak adalah berat badan optimal. Memantau pertumbuhan dan berat badan anak dapat membantu mengidentifikasi masalah nutrisi yang mungkin saja dimiliki anak. Dokter Spesialis Anak RS Bunda Menteng Jakarta, Dokter Ayu Partiwi, mengatakan pertumbuhan dan perkembangan anak menjadi salah satu penentu si kecil untuk bisa sehat dan pintar.

 

"Pemantauan tumbuh kembang anak terutama di 1.000 hari pertama kehidupan sangatlah penting untuk buah hati karena pertumbuhan dan perkembangan akan sangat pesat pada periode ini. Yang dimaksud dengan 1.000 hari pertama kehidupan adalah sejak saat pembuahan di dalam kandungan ibu hingga anak berusia dua tahun," kata wanita yang akrab disapa Dokter Tiwi dalam peringatan Hari Anak Internasional Grofato Cone Call Party di Menteng, Jakarta, dilansir pada Jumat (15/7/2022).

Baca Juga

Dokter Tiwi menambahkan, pertumbuhan dan perkembangan otak juga terjadi sangat pesat pada usia anak di bawah 2 tahun. Pada fase ini disebut dengan periode kritis perkembangan, dan merupakan waktu yang tepat untuk melakukan terapi bila ada gangguan.

"Saya concern karena di masa pandemi Covid ini, kesempatan konsultasi sering terkendala dengan kondisi jumlah kasus, di mana akhirnya rasa khawatir orang tua terhadap resiko penularan, mengurangi kesempatan anak diobservasi dengan optimal," katanya.

Apa yang menjadi perhatian Ayu Partiwi cukup beralasan. Riset Kesehatan Dasar 2018 menyebutkan status vaksinasi dasar anak turun ke angka 57,9% dari 59,2% pada tahun 2013. Begitu satus gizi buruk dan gizi kurang yang masih berada di angka 17,7%.

Itulah sebabnya, menurut Ayu Partiwi, asupan tambahan, salah satunya makanan cair bernutrisi, menjadi salah satu opsi untuk mengejar ketinggalan berat badan, tinggi badan, maupun gizi anak secara keseluruhan.

"Hari ini juga hadir pasien saya yang lahir dengan berat sekitar 3kg. Setelah 2 tahun penambahan berat badannya sempat stagnan, tapi hari ini, berat badannya sudah di atas 20kg, tingginya juga tadi dihitung sudah 124cm. Itu karena orang tuanya aware dan konsul secara berkala," kata dia.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f

 

 

BERITA LAINNYA

 

 

hide ads show ads
desktop mobile