Saturday, 2 Jumadil Awwal 1444 / 26 November 2022

Saturday, 2 Jumadil Awwal 1444 / 26 November 2022

2 Jumadil Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Makna Ikhlas yang Sesungguhnya

Jumat 07 Oct 2022 09:17 WIB

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Muhammad Hafil

Berbuat ikhlas agar umat Islam tidak menjadi umat penyembah berhala. (ilustrasi)

Berbuat ikhlas agar umat Islam tidak menjadi umat penyembah berhala. (ilustrasi)

Foto: www.moslemsubang.wordpress.com
Seorang Muslim mengemban tugas untuk beramal shaleh dengan ikhlas.

REPUBLIKA.CO.ID,KAIRO -- Seorang Muslim mengemban tugas untuk beramal shaleh dengan ikhlas. Amal shaleh apapun itu, menjadi bernilai di mata Allah SWT karena di dalam perbuatan tersebut tersimpan keikhlasan. Karena itu, keikhlasan sangat penting dalam melakukan amal shaleh.

Lantas sejatinya apa itu ikhlas? Apa makna yang sebenarnya? Ikhlas adalah salah satu dari amalan hati dan merupakan ujung tombak dari amalan hati. Karena, suatu amalan tidak akan diterima kecuali dengan ikhlas. Dengan demikian, dapat dikatakan, ikhlas tempatnya ada di hati.

Baca Juga

Orang yang ikhlas, adalah orang yang beramal dengan mengharapkan ridha Allah SWT dan membersihkan amal tersebut dari berbagai hal yang bersifat pribadi dan duniawi. Seseorang tidak melakukan amal shaleh kecuali untuk Allah SWT dan tempat yang kekal yakni akhirat.

Amal shaleh yang dikerjakan dengan ikhlas, tidak akan bercampur dengan keburukan, baik yang tampak maupun keburukan yang tersembunyi.

Amalan yang ikhlas tidak bercampur dengan suatu hal yang dapat menodainya. Ada berbagai bentuk noda-noda yang dimaksud. Di antaranya, hasrat hawa nafsu, hasrat terhadap harta, uang kedudukan, popularitas, citra yang baik di mata orang lain, pujian orang lain, hasrat menyenangkan orang lain, memuji orang lain, atau bahkan hasrat menghilangkan kebencian yang terpendam, merespons kecemburuan yang tersembunyi, menanggapi kesombongan orang lain, dan berbagai bentuk ketidakmurnian lainnya.

Singkatnya, perkara yang bisa menodai keikhlasan didasarkan pada kehendak untuk selain Allah SWT.

Allah SWT berfirman, "Katakanlah, 'Sesungguhnya aku diperintahkan untuk menyembah Allah dengan penuh keikhlasan kepada-Nya dalam menjalankan agama. Dan aku diperintahkan agar menjadi orang yang pertama-tama berserah diri.' Katakanlah, 'Sesungguhnya aku takut akan azab yang akan ditimpakan pada hari yang besar jika aku durhaka kepada Tuhanku.' Katakanlah, 'Hanya kepada Allah aku menyembah dengan penuh keikhlasan kepada-Nya dalam menjalankan agamaku.'" (QS Az-Zumar ayat 11-14)

Dalam Surah lain, "Katakanlah, 'Tuhanku menyuruhku untuk berlaku adil. Dan hadapkanlah wajahmu (kepada Allah) pada setiap shalat, dan sembahlah Dia dengan mengikhlaskan ibadah semata-mata hanya kepada-Nya. Kamu akan dikembalikan kepada-Nya sebagaimana kamu diciptakan semula.'" (QS Al-A'raf ayat 29)

Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah tidak menerima amal perbuatan kecuali dilakukan dengan ikhlas dan mengharap ridha-Nya." (HR Abu Dawud dan An-Nasa'i)

Sumber:

https://fiqh.islamonline.net/%D8%AD%D9%82%D9%8A%D9%82%D8%A9-%D8%A7%D9%84%D8%A5%D8%AE%D9%84%D8%A7%D8%B5-%D9%88%D8%B9%D9%84%D8%A7%D9%85%D8%A7%D8%AA%D9%87/

(Umar Mukhtar)

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
 
 
 
 
hide ads show ads
desktop mobile