Rabu 26 Feb 2025 16:39 WIB

Bank Emas Resmi Diluncurkan, Airlangga: 1.800 Ton Emas Siap Dikapitalisasi 

Indonesia memiliki cadangan emas yang besar.

Rep: Dian Fath Risalah/ Red: Friska Yolandha
Presiden Prabowo Subianto meresmikan Layanan Bank Emas Pegadaian dan Bank Syariah Indonesian di The Gade Tower, Jakarta Pusat, Rabu (26/2/2025).
Foto: Republika.co.id/Erik Purnama Putra
Presiden Prabowo Subianto meresmikan Layanan Bank Emas Pegadaian dan Bank Syariah Indonesian di The Gade Tower, Jakarta Pusat, Rabu (26/2/2025).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Pemerintah resmi meluncurkan bullion bank atau bank emas pada Rabu (26/2/2025) hari ini sebagai langkah strategis dalam mengoptimalkan potensi emas nasional. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan, bank emas ini akan membuka peluang baru bagi masyarakat dalam mengelola aset emasnya.  

"Alhamdulillah sudah bisa dioperasikan," ujar Airlangga kepada wartawan usai Peresmian Bank Emas Pegadaian dan BSI di Jakarta, Rabu (26/2/2025).  

Baca Juga

Saat ini, Indonesia memiliki cadangan emas yang besar, dengan jumlah emas di masyarakat diperkirakan mencapai 1.800 ton. Airlangga menekankan bahwa nilai emas tersebut, jika dihitung dengan harga saat ini, mencapai sekitar Rp 300 triliun.  

"Ya targetnya tentu kan di masyarakat jumlah emasnya itu besar 1.800 ton. Nah itu kalau dinilai kira-kira kalau nilai sekarang Rp 300 triliun," jelasnya.  

Dengan adanya bullion bank, emas yang tersimpan di masyarakat dapat lebih dikapitalisasi untuk berbagai keperluan finansial. "Sehingga dengan adanya bank emas ini bisa dikapitalisasi untuk dijadikan jaminan, dijadikan simpanan, bisa menambah sumber-sumber pembiayaan untuk kebutuhan keluarga," lanjutnya.  

Selain itu, produksi emas nasional yang berasal dari tambang seperti Freeport juga diproyeksikan terus bertambah setiap tahun. "Dan tentu dengan diproduksinya emas nanti di Freeport itu juga jumlah emas yang bisa ditambahkan, setiap tahun bisa tambah 50 ton sampai 60 ton," katanya.  

Untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam ekosistem bullion bank, pemerintah juga berupaya menawarkan berbagai produk emas yang lebih likuid. "Saya rasa masyarakat hampir semua kan sekarang menyimpan emas dalam bentuk perhiasan terutama ibu-ibu," ujar Airlangga.  

Ia juga menambahkan bahwa keberadaan pegadaian telah membantu meningkatkan likuiditas emas yang dimiliki masyarakat. "Dan dengan adanya pegadaian, likuiditas sudah bisa dirasakan tetapi nanti kalau kita bisa masukkan lagi dalam bentuk deposito emas atau yang lain, itu akan lebih likuid lagi," jelasnya.  

Dalam beberapa bulan terakhir, pertumbuhan investasi emas di perbankan syariah juga menunjukkan tren positif. "Sekarang sudah tumbuh di BSI aja 1 bulan ini 117 persen (produk emas BSI) sudah naik, jadi masyarakat sudah sangat kenal dengan emas," ujar Airlangga.  

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement