Merdeka untuk Palestina: Suara dalam Puisi Penyair Indonesia
Merdeka untuk Palestina: Suara dalam Puisi Penyair Indonesia
Catatan Penyusun
Buku ini berawal dari gagasan para pemuda yang menggalang bantuan untuk warga Palestina yang tak henti-henti dirongrong penjajah bangsa Israel. Berawal dari diskusi di grup WA, muncullah ide untuk membuat gerakan menulis puisi sekaligus donasi sebagai respons atas apa yang terjadi di Palestina belakangan ini.
Mengikuti perkembangan terkini, pada pengujung Ramadhan 1442 Hijriyah, penyerangan kembali terjadi di Kompleks al Aqsa dan Perbatasan Gaza. Kedua serangan yang dilancarkan Israel itu mengakibatkan ratusan korban jiwa berjatuhan. Dilansir Republika.co.id (19/5/2021), Kementerian Kesehatan Palestina menyebut, sedikitnya 219 warga Palestina telah gugur dalam peristiwa penyerangan nahas itu. Termasuk di dalamnya adalah 63 anak-anak dan 36 wanita meninggal, sementara 1.530 lainnya terluka dalam serangan Israel di Jalur Gaza sejak 10 Mei 2021. Sebuah fakta yang mengerikan.
Mengingat perkembangan kondisi yang demikian, warga dan bangsa Indonesia terus memberikan dukungan dan bantuan, baik berupa morel maupun materiel, kepada bangsa Palestina. Upaya yang dilakukan dengan gerakan #MenulisUntukKebaikan. #MenulisUntukKemanusiaan ini menjadi bagian dari kesadaran kami untuk berperan dan hadir membantu saudara kita yang sedang didera kesulitan saat ini.
Ali bin Abi Thalib berkata, "Dia yang bukan saudaramu dalam iman, adalah saudaramu dalam kemanusiaan." Jadi, sudah sepantasnya 'dunia kita semua' mulai membuka mata bahwa konflik yang terjadi di Palestina belakangan ini adalah perkara kejahatan kemanusiaan, bukan belaka perkara agama. Sentimen agama memang mampu menghadirkan atensi besar sekaligus luapan emosi yang menggebu. Namun, apakah sentimen agama mampu menjadi solusi bagi konflik yang terjadi? Atau, semangat keagamaan mesti hadir dalam wujud sentimen kemanusiaan universal. Sebab, segala kejahatan kemanusiaan adalah musuh yang nyata bagi agama manapun.
Mengapa puisi? Donasi uang tunai--lebih-lebih dalam bentuk puisi--mungkin merupakan hal yang kecil, jika dilihat dari segi materi. Namun, ini merupakan upaya untuk membantu meringankan beban bangsa Palestina. Di sisi lain, puisi memiliki kekuatan menyampaikan ide perdamaian dan kemerdekaan.
Puisi, seperti kata Goenawan Mohamad, merupakan sebuah peristiwa, atau setidaknya gambaran peristiwa. Dalam peristiwa itulah 'bunyi' hadir menjadi kekuatan. Bunyi pada puisi mampu menghadirkan sugesti kepada pembaca untuk mencerap, bahkan memaknai lebih luas deretan kata yang tersaji. Semoga demikian pula dengan puisi-puisi dalam buku Merdeka untuk Palestina ini.
Syahdan, sebagai penyusun buku ini, saya berharap gagasan-gagasan yang tersaji dalam buku kecil ini memberikan pesan agar kita memiliki keberpihakan yang nyata. Bahwa sekecil apa pun bentuknya, kita mesti bersikap dan memastikan berada di pihak yang mana. Membela yang tertindas atau abai sama sekali. Tabik!
Identitas Buku
Judul: Merdeka untuk Palestina; Sehimpun Puisi Penyair Indonesia
Penulis: Kyai Cepu, Hasta Indriyana, Hilmi Faiq, Desvian Bandarsyah, dkk.
Penyusun: Ahmad Soleh
ISBN: 978-623-96778-8-6
Penerbit: Irfani
Cetak pertama, Juni 2021
Harga: Versi digital Rp30.000, versi cetak Rp50.000
Preorder terakhir tanggal 14 Juni 2021 ke WA 085717051886
100% HASIL PENJUALAN BUKU INI DIDONASIKAN UNTUK PALESTINA