Sholat Witir Sesudah Sholat Isya, Sebelum Tidur, atau di Sepertiga Malam Akhir?
Sholat witir mempunyai sejumlah keutamaan
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Sholat witir mempunyai sejumlah keutamaan. Terdapat waktu-waktu terbaik untuk melakukan sholat witir setiap malam. Sholat witir bagi seorang Muslim memiliki tiga derajat, salah satunya dianggap paling baik dan paling sempurna.
Guru besar syariah Islam Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud, Prof Saad Al-Khatslan, mengungkapkan dalam sebuah video yang dia unggah di kanal YouTube-nya, ulama asal Arab Saudi ini mengatakan bahwa sholat witir memiliki tiga derajat.
Tingkatan pertama, yang paling utama, adalah melaksanakan sholat witir di sepertiga malam terakhir yang terdiri dari dua rakaat dan satu rakaat tersendiri.
Derajat yang kedua adalah melaksanakannya sebelum tidur. Jika tidak memungkinkan baginya untuk bangun di akhir malam, atau khawatir tidak bisa bangun di akhir malam, maka dia melaksanakannya sebelum tidur.
Hal ini dianjurkan oleh Nabi SAW kepada sebagian sahabatnya, seperti Abu Hurairah RA yag sering bergadang untuk menghafal hadits-hadits yang telah dihafalnya dari Nabi SAW.
Abu Hurairah merasa khawatir tidak bisa bangun di pengujung malam, sehingga dia melaksanakan sholat witir sebelum tidur, maka dia berkata, "Kekasihku telah menganjurkan kepadaku tiga perkara. Di antaranya agar aku melaksanakan sholat witir malam hari sebelum tidur.” (HR Bukhari).
Al-Khatslan juga mengutip riwayat dari Abu Bakar Ash-Shiddiq RA. Dikisahkan Abu Bakar biasa berwudhu sebelum tidur karena khawatir tidak bangun di akhir malam.
Mereka tidak memiliki jam weker atau jam tangan atau semacamnya, dan Umar biasa bangun di akhir malam.
BACA JUGA: Masya Allah, Anak Kecil Ini Jawab Tes Alquran Syekh Senior Al Azhar Mesir dengan Cerdas
Abu Bakar pun mengambil tindakan yang paling hati-hati, dan mungkin saja dia bangun tetapi tidak melakukan witir, tetapi dia melakukan witir sebagai tindakan berjaga-jaga sebelum tidur. Jadi sebagian sahabat biasa melakukan witir sebelum mereka tertidur.
Jika tidak ada satu pun yang memungkinkan, maka berpindah ke tingkatan ketiga, yaitu melakukan witir setelah sholat Isya.
Jadi, witir memiliki tiga tingkatan yaitu tingkatan pertama, yang paling sempurna dan terbaik, harus dilakukan pada sepertiga malam terakhir. Derajat kedua, sebelum tidur dan derajat ketiga setelah sholat Isya.
Al-Khatslan menyimpulkan dengan menasehati bahwa seorang Muslim harus bersemangat dalam sholat witir.
Ini adalah sunah yang sangat ditegaskan, bahkan Nabi Muhammad SAW, tidak meninggalkannya dalam perjalanan, dia biasa menjaganya saat bepergian atau tengah di rumah saja.
Jadi seorang Muslim harus bersemangat bahkan jika dia tidak dapat melaksanakannya di akhir malam atau sebelum ia tertidur, dia melakukan sholat witir setelah sholat malam.
Surat yang dibaca
Kerap kali imam tarawih membaca surat Al-A'la pada rakaat pertama sholat witir usai membaca surah Al-Fatihah.
Dilanjutkan pada rakaat kedua membaca surat Al-Kaafirun dan pada rakaat ketiga yakni Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Nas. Mengapa surat-surat tersebut selalu dibaca ketika sholat witir?
Ahli tafsir Alquran, Prof Quraish Shihab dalam bukunya "Menjawab ?...1001 Soal Keislaman Yang Patut Anda Ketahui" menjelaskan mengenai bacaan-bacaan setelah Al-Fatihah pada sholat witir terjadi perbedaan pendapat.
Namun menurut Prof Quraish yang perlu dipahami terlebih dahulu dalam ibadah adalah melaksanakan ibadah harus sesuai dengan tuntunan Nabi SAW.
Sebagai orang awam maka sepatutnya mengikuti apa yang dikatakan ulama selama sumbernya jelas. Mengikuti anjuran ulama, menurut Prof Qurasih ibarat seseorang yang sedang sakit dan harus mengikuti petunjuk dokter ketika berobat. Rasulullah Saw bersabda:
صلوا كما رأيتموني أصلي "Sholatlah sebagaimana kalian melihat aku sholat."
Mengenai bagaimana Rasulullah SAW sholat witir dan apa yang dibaca, hal ini yang menimbulkan perbedaan pendapat. Namun yang pasti para ulama menyepakati setiap rakaat diawali dengan surat Al-Fatihah.
BACA JUGA: 3 Pesan Kuat untuk Israel Saat Tentara Mereka Sendiri Spontan Cium Kepala Pejuang Hamas
Kendati demikian ada perbedaan riwayat bacaan apa yang dibaca setelah Surat Al-Fatihah dalam sholat witir. Imam Abu Hanifah berpendapat Rasulullah SAW membaca surat Al-A’la pada rakaat pertama, Al-Kafirun di rakaat kedua dan Al-Ikhlas pada rakaat ketiga.
Abu Hanifah berpegang kepada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, an-Nasai, Ibnu Majah dari sahabat Nabi Ubai bin Ka'ab.
Dan informasi serupa datang dari Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah. Begitupun dengan Imam Syafi'i. Hanya saja Imam Syafi'i menganjurkan membaca surat Al-Falaq dan An-Nas sesudah surat Al-Ikhlas pada rakaat ketiga.
Pendapat ini bersumber dari hadits yang diriwayatkan oleh istri Nabi Aisyah yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa'i, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban.
Tetapi apabila sholat witir dikerjakan hanya satu rakaat, menurut Imam Malik menganjurkan agar membaca surah Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Nas.
Namun mereka menganjurkan melaksanakan sholat witir sebanyak tiga rakaat dengan dua kali salam.
Dalam rakaat pertama pada sholat pertama sesudah Al-Fatihah dianjurkan membaca Al-A’la dan Al-Kafirun pada rakaat kedua.
Sholat witir merupakan sholat sunnah yang memiliki rakaat ganjil minimal satu rakaat. Dan mayoritas di Indonesia melaksanakan sholat witir tiga rakaat dengan dua kali salam, satu salam pada dua rakaat pertama dan satu salamnya lagi pada satu rakaat terakhir. Rasulullah SAW bersabda dalam hadits riwayat Bukhari berikut:
وَعَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا : أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( صَلاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى ، فَإذَا خِفْتَ الصُّبْحَ فَأَوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ )) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ .
Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Shalat malam itu dua rakaat salam, dua rakaat salam. Maka apabila engkau takut masuk waktu subuh, hendaklah melakukan witir satu rakaat.”
Orang yang melakukan shalat malam dan memiliki sedikit waktu untuk tidur merupakan ciri – ciri orang yang bertaqwa. Seperti yang dijelaskan pada surat Adz Dzariyat ayat 17-18,
كَانُوْا قَلِيْلًا مِّنَ الَّيْلِ مَا يَهْجَعُوْن وَبِالْاَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ
Artinya : “Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar.”
BACA JUGA: Menyoal Rangkap Jabatan Menag, Kepala Badan Pengelola Sekaligus Imam Besar Istiqlal
Menurut tafsir tahlili kemenag, ayat ini menerangkan sifat – sifat orang yang taqwa. Mereka dalam melakukan ibadah malamnya merasa tenang dan penuh dengan kerinduan, dan dalam munajatnya kepada Allah sengaja memilih waktu yang sunyi dari gangguan makhluk lain seperti dua orang pengantin baru dalam menumpahkan isi hati kepada kesayangannya, tentu memilih tempat dan waktu yang nyaman dan aman, bebas dari gangguan siapa pun.
Di akhir-akhir malam (pada waktu sahur) mereka memohon ampun kepada Allah SWT. Sengaja dipilihnya waktu sahur itu oleh karena kebanyakan orang sedang tidur nyenyak, keadaan sunyi dari segala kesibukan sehingga mudah menjalin hubungan dengan Tuhannya.