Adu Jotos Ben Gvir VS Ronen Bar, dan Misteri Teroris Yahudi di Pemerintahan Netanyahu

Kelompok teroris Yahudi Kahanis menyusup dalam pemerintahan Netanyahu

Erdy Nasrul/Republika
Netanyahu Ronen Bar dan Ben Gvir
Red: Erdy Nasrul

REPUBLIKA.CO.ID, RAMALLAH -- Hari ini kita menyaksikan militer Israel membabi buta membombardir Gaza Palestina yang tak berdaya. Saking tak berdayanya, warga Palestina, sebagaimana diberitakan al Jazeera, mengatakan, “Kami tak punya apa dan siapa lagi untuk kami anggap hilang atau pergi dari kami.” Mereka, warga Gaza Palestina, betul-betul berada dalam titik kepasrahan yang tinggi.

Baca Juga


Militer Israel dengan alutsista canggihnya, seperti F-16, F-35, dan berbagai pesawat tempuh canggih Amerika, santai saja menjatuhkan dan meledakkan tanah Gaza, tempat warga warga tadi hidup di tengah reruntuhan.

Serangan militer itu sejak Selasa (18/3/2025) telah mengakibatkan 792 orang Gaza wafat dan melukai 1.663 orang. Dihitung sejak 7 Oktober 2023, jumlah warga Gaza yang syahid mencapai 50.144, 113.704 orang terluka. Ribuan lainnya hilang dan diperkirakan meninggal. Begitu data Kementerian Kesehatan Gaza Palestina.

Korban sebanyak itu, tak membuat Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan kabinetnya berduka. Justru mereka semakin bernafsu untuk terus menumpahkan darah warga Palestina, bahkan prajurit militernya sendiri plus sandera warga Israel yang kini bersama Hamas. Mengapa demikian? Ada dua alasan mendasar

Pertama adalah dasar pemikiran Netanyahu yang sejak kecil sudah ditanamkan kebencian terhadap orang Arab, yang ditanamkan ayahnya sendiri Ben Zion Netanyahu. Sang ayah merupakan orang yang mendapatkan pengaruh besar sejumlah ekstremis Yahudi pendukung fanatik zionisme. Mereka adalah orang – orang yang sejak lama sangat rasialistis, menganggap orang Yahudi unggul dari yang lain, bahwa jalan mewujudkan negara zionis hanya dengan merampasnya dari orang-orang Arab.

Kedua adalah dukungan dari ekstremis sayap kanan yang menjadi pendukung ‘die hard’ Netanyahu dalam koalisi pemerintahan. Dukungan ini terlihat jelas di Knesset dan juga pemerintahan eksekutif.

 

Dalam menjalankan roda pemerintahan, Netanyahu didukung oleh dua orang ekstremis: yaitu Itamar Ben Gvir yang pernah jadi menteri keamanan dalam negeri yang mengelola seluruh penjara di Israel, dan menteri keuangan Bezalel Smotrich. Dia juga menaruh kepercayaan yang tinggi kepada Menteri Pertahanan pengganti Yoav Gallant, yaitu Israel Katz (beberapa media menulis Yisrael Katz).

Ben Gvir adalah ekstremis yang paling mendapatkan sorotan. Dialah orang yang nekat berkonfrontasi dengan orang-orang Arab di sekitar Masjid al Aqsa, mengusir Muslim yang beribadah di sana, dan membuka pintu seluasnya kepada ekstremis Yahudi menistakan masjid suci ketiga umat Islam, tempat sujud yang menjadi pijakan Nabi Muhammad berangkat melaksanakan Mi’raj bertemu Allah.

Ben Gvir menjadi sosok yang berani menabrak sana sini, memunculkan kegaduhan dalam politik dalam negeri Israel. Baru-baru ini, sebuah pemberitaan menyebut si pria berkaca mata itu adu jotos dengan Kepala Shin Bet Ronen Bar dalam sebuah sesi rapat kabinet.

Bakuhantam keduanya merupakan puncak kekesalan si perusuh ekstremis Ben Gvir yang mengeklaim dirinya diintai oleh Shin Bet. Badan spionase tersebut dikabarkan mengumpulkan bukti dan keterangan yang mengaitkan Ben Gvir dengan kelompok organisasi teroris Yahudi bernama Kahanis.

 

Kelompok Kahanis beranggotakan mereka yang berideologi zionis garis keras. Tokoh utama gerakan ini adalah Rabbi Meir Kahane, pendiri Liga Pertahanan Yahudi dan partai Kach di Israel. Kahane berpandangan bahwa sebagian besar orang Arab yang tinggal di Israel adalah musuh orang Yahudi dan Israel sendiri, dan meyakini bahwa negara teokratis Yahudi harus diciptakan.

Partai Kach telah dilarang oleh pemerintah Israel. Pada tahun 2004, Departemen Luar Negeri AS menetapkannya sebagai Organisasi Teroris Asing . Pada tahun 2022, partai ini dihapus dari daftar hitam teroris AS karena "tidak cukup bukti" mengenai aktivitas kelompok tersebut yang sedang berlangsung, tetapi partai ini tetap ditetapkan sebagai entitas teroris global.

Partai Kahanist Otzma Yehudit yang dipimpin Ben Gvir memenangkan enam kursi dalam pemilihan umum 2022 dan merupakan anggota pemerintah Israel, meskipun tidak menjadi anggota antara 21 Januari dan 19 Maret 2025 karena pemerintah telah menyetujui gencatan senjata dalam perang Gaza selama waktu itu. Partai tersebut, dan gerakan Kahanist secara keseluruhan, telah digambarkan sebagai pendukung fasisme Yahudi.

Bentrokan fisik

Mengetahui dirinya diintai agen spionase, Ben Gvir memendam amarah. Namun itu tak tertahankan lagi. Ben-Gvir menerima laporan dari penasihatnya yang menyatakan bahwa Shin Bet, yang dipimpin oleh Ronen Bar, telah melakukan penyelidikan rahasia terhadap dirinya dan polisi Israel selama berbulan-bulan.

 

Penyelidikan tersebut, menurut Channel 12 Israel, difokuskan pada "penyusupan organisasi teroris Yahudi" ke dalam kepolisian, khususnya ekstremis Kahanist yang dianut Ben-Gvir.

Dalam rapat kabinet pada hari Minggu, 23 Maret 2025, Ben-Gvir menyerang Bar dengan keras, menyebutnya sebagai "penjahat" dan menuduhnya berusaha "merusak demokrasi" dan melakukan "kudeta" terhadap pejabat terpilih. Masalah meningkat menjadi perkelahian fisik, yang memerlukan campur tangan kepala Mossad dan Kepala Staf Angkatan Darat untuk menyelesaikan perselisihan.

Tanggapan Ben-Gvir tajam, menyerukan pemecatan Ronen Bar dengan segera, menggambarkannya sebagai "bahaya bagi demokrasi," dan menyerukan tuntutan pidana terhadapnya karena berusaha melakukan kudeta. Barr juga dituduh mengumpulkan materi terhadap Komisaris Polisi Danny Levy dan menganiaya kaum sayap kanan.

Sebaliknya, Shin Bet membantah melakukan penyelidikan apa pun terhadap Ben-Gvir, menurut Radio Angkatan Darat Israel. Kantor Netanyahu mengeluarkan pernyataan pada hari Senin, 24 Maret 2025, yang membantah mengetahui adanya investigasi apa pun, menyebut tuduhan tersebut sebagai "kebohongan terang-terangan" yang bertujuan untuk menggulingkan pemerintahan sayap kanan, dan menegaskan bahwa investigasi apa pun terhadap kepemimpinan politik "merusak demokrasi."

Perjalanan Ben Gvir

Ben-Gvir, pemimpin partai Otzma Yehudit, mewakili gerakan Kahanist ekstremis yang dikenal karena sikap rasisnya terhadap warga Palestina. Sejarahnya dipenuhi dengan hasutan, dan dia pernah dihukum di masa lalu atas tuduhan mendukung terorisme Yahudi.

 

Ia menjabat sebagai Menteri Keamanan Nasional dalam pemerintahan Netanyahu, tetapi mengundurkan diri pada 19 Januari 2025; Memprotes perjanjian gencatan senjata dengan Hamas, menganggapnya sebagai "kegagalan." Ia kembali ke pemerintahan pada tanggal 18 Maret 2025, setelah dimulainya kembali perang di Gaza, dalam sebuah langkah yang dipandang sebagai jalur hidup bagi Netanyahu untuk memastikan stabilitas koalisinya.

Sebaliknya, Ronen Bar, kepala Shin Bet, mewakili lembaga keamanan yang berusaha mempertahankan independensinya. Shin Bet bertanggung jawab atas keamanan internal dan memiliki sejarah dalam menghadapi para ekstremis Yahudi, khususnya Kahanist, yang merupakan kelompok Ben-Gvir. Penyelidikan rahasia terhadap Ben-Gvir dan polisi, jika benar-benar terjadi, mencerminkan upaya Shin Bet untuk mengekang pengaruh kelompok ekstrem kanan dalam lembaga negara, khususnya polisi, yang dikendalikan oleh Ben-Gvir.

Jangan lupa bahwa Netanyahu sendiri telah berkonflik dengan Shin Bet selama beberapa waktu. Pada tanggal 17 Maret 2025, ia mengumumkan niatnya untuk memberhentikan Bar, sebuah keputusan yang ditangguhkan sementara oleh Mahkamah Agung. Netanyahu membutuhkan dukungan Ben-Gvir untuk memastikan stabilitas koalisinya, dan dia juga takut akan pengaruh Shin Bet, yang dapat mengungkap kegagalannya dalam mengelola perang, terutama setelah serangan 7 Oktober 2023.

Playing victim Ben Gvir

Ben-Gvir menggambarkan dirinya sebagai korban konspirasi Shin Bet dan menuduh Bar mencoba "merusak demokrasi." Narasi ini bertujuan untuk meningkatkan citranya sebagai pemimpin kelompok sayap kanan, dan meraih simpati basis populernya. Namun Ben-Gvir sendiri tidak menyangkal posisi rasisnya dan upayanya untuk mengendalikan polisi dan mempersenjatai para pemukim, yang membuatnya menjadi target sah untuk diselidiki oleh badan seperti Shin Bet.

 

Walaupun Shin Bet membantah adanya penyelidikan terhadap Ben-Gvir, penyangkalan ini mungkin merupakan taktik untuk menghindari eskalasi. Jika penyelidikan itu nyata, hal itu mencerminkan upaya Shin Bet—yang menjalankan rezim kediktatoran dan apartheid utama di Tepi Barat—untuk melindungi sistem demokrasi dari pengaruh ekstremis Kahanist. Namun Shin Bet sendiri menghadapi kritik karena gagal memprediksi serangan 7 Oktober 2023, yang merusak kredibilitasnya.

Netanyahu berusaha terlihat netral, tetapi posisinya menguntungkan kepentingan pribadinya. Dia membutuhkan Ben-Gvir untuk memastikan kelangsungan hidup koalisinya, terutama setelah dia kembali ke pemerintahan pada 18 Maret 2025. Pada saat yang sama, dia berusaha melemahkan Shin Bet; Karena hal itu merupakan ancaman terhadap otoritasnya, terutama dengan penyelidikan terhadap kegagalan perang. Keseimbangan yang rapuh ini dapat merugikannya jika krisis meningkat.

Shin Bet, sebagai badan yang bertanggung jawab atas keamanan internal, menghadapi krisis kredibilitas besar. Jika penyelidikan terhadap Ben-Gvir dan polisi itu nyata, itu berarti kelompok ekstrem kanan telah menyusup ke lembaga-lembaga negara, terutama polisi, yang dikendalikan oleh Ben-Gvir. Pelanggaran ini dapat menyebabkan semakin banyaknya persenjataan bagi para pemukim dan meningkatnya kekerasan terhadap warga Palestina di Tepi Barat, yang mengancam terjadinya intifada ketiga.

Sebaliknya, jika Ben-Gvir berhasil melemahkan Shin Bet atau membubarkan Bar, ini akan membuka pintu bagi kontrol ekstremis dan teroris Yahudi atas badan keamanan, sehingga mengurangi kemampuan mereka dalam menghadapi ancaman internal dan eksternal. Situasi ini menimbulkan risiko keamanan yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi Israel, terutama dengan perang yang sedang berlangsung di Gaza.

Kurangnya kepercayaan antara pemerintah dan lembaga keamanan dapat menyebabkan kekacauan internal dan mungkin mendorong kelompok Yahudi ekstremis plus teroris Yahudi untuk melakukan serangan terhadap target oposisi Palestina atau bahkan Israel, yang selanjutnya memperburuk stabilitas.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Berita Terpopuler