Ini Dia Fotografer Perempuan Pertama di Masjidil Haram Sepanjang Sejarah

Arab Saudi perbolehkan fotografer perempuan di Masjidil Haram

ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan
Ilustrasi Masjidil Haram. Arab Saudi perbolehkan fotografer perempuan di Masjidil Haram
Red: Nashih Nashrullah

REPUBLIKA.CO.ID, MAKKAH – Nada Al Ghamdi berhasil menjadi fotografer wanita pertama yang memperoleh lisensi untuk mengambil foto di Masjidil Haram, tempat suci dan tujuan utama umat Islam dari berbagai belahan dunia.

Baca Juga


Selain itu, Nada juga telah diberi wewenang oleh badan yang bertanggung jawab atas lokasi yang luas itu untuk mengambil foto udara di Mekkah bekerja sama dengan Dinas Penerbangan Keamanan.

Dengan menjadi fotografer wanita Saudi pertama di Masjidil Haram, Nada telah mewujudkan impiannya yang telah lama diidam-idamkan sejak kecil.

“Sejak kecil, saya bermimpi mengambil foto di dalam Masjidil Haram,” ujar Nada dikutip dari Gulfnews, Jumat (28/3/2025).

Meskipun banyak tantangan, termasuk pembatasan fotografi di dalam Masjidil Haram, Nada tidak pernah putus asa.

"Atas karunia Allah, Otoritas Umum untuk Dua Masjid Suci memberi saya keyakinan penuh untuk bekerja di bidang ini," ucapnya kepada TV Saudi Al Ekhbariya.

Selama puasa Ramadhan tahun ini, Nada juga dapat menyaksikan langsung ratusan ribu umat Islam berbondong-bondong ke Masjidil Haram untuk beribadah dan melaksanakan ibadah umrah atau haji kecil. Arus masuk semakin membesar pada hari-hari terakhir bulan suci ini.

BACA JUGA: PMII Serukan Boikot Nasional Produk Global Pro Israel, Ini 25 Daftar Mereknya

Dalam beberapa tahun terakhir, Arab Saudi memang telah meningkatkan upaya untuk memberdayakan perempuan dalam berbagai bidang kehidupan dan mengangkat mereka dalam jabatan kepemimpinan sebagai bagian dari perubahan besar di kerajaan.

Perempuan juga didorong untuk memulai bisnis dan usaha mereka sendiri. Setidaknya ada enam duta besar wanita yang mewakili Arab Saudi di negara lain.


Sebelumnya, pada 2018, Kerajaan Saudi mengizinkan kaum perempuan untuk mengemudi untuk pertama kalinya dalam sejarahnya, mengakhiri larangan mengemudi bagi kaum perempuan yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Menyetir mobil adalah hal yang dilarang bagi kaum Hawa di Arab Saudi. Namun kini pembatasan tersebut tak berlaku lagi.

Raja Salman mengumumkan bahwa aturan yang melarang wanita mengemudi telah dicabut. Dikutip dari laman Al Jazeera Rabu (27/9/2017) surat keputusan pencabutan larangan mengemudi sudah ditandatangani oleh Raja Salman. Dalam surat keputusan itu tertulis bahwa kaum wanita boleh mengemudi asalkan sesuai dengan prinsip-prinsip Islam.

Komite tingkat tinggi Arab Saudi kini sedang menyusun UU yang mengatur implementasi keputusan tersebut. Komite akan segera mengeluarkan rekomendasi dalam 30 hari ke depan. Rencananya, pembolehan wanita untuk mengemudi akan diberlakukan mulai akhir Juni 2018.

Pengumuman ini tentu saja membawa angin segar bagi isu kebebasan wanita di Arab Saudi. Negara ini semakin memberi kelonggaran kepada kaum wanita setelah sebelumnya sudah membolehkan wanita pergi ke stadion.

Langkah ini dinilai sebagai ancang-ancang Pemerintah Arab Saudi guna menghadapi visi 2030. Pada 2030 negara ini akan mereformasi bidang sosial dan ekonomi sebagai persiapan memasuki masa yang disebut 'post-oil era'.

Sebelum larangan ini dicabut, Arab Saudi adalah satu-satunya negara di dunia yang melarang wanita mengemudi mobil. Aktivis-aktivis yang memperjuangkan hak-hak wanita dengan lantang menuntut pemerintah mencabut aturan itu.

Namun mereka justru harus mendekam di penjara. Perlakuan serupa juga dikenakan kepada wanita yang nekat menyetir mobil.

Pada 2016 pangeran Alwaleed bin Talal menyerukan pentingnya pencabutan larangan mengemudi bagi wanita. Pangeran yang cukup berpengaruh ini menyatakan usulnya tidak hanya mempertimbangkan hak-hak wanita. Tetapi juga didasarkan atas pertimbangan ekonomi.

BACA JUGA: Mahasiswa Indonesia Buat Konten Joget di Masjid Al Azhar Mesir, UAS Marah Besar

Menurut Alwaleed, melarang wanita mengemudi sungguh tidak adil dan sama buruknya dengan melarang mereka mengenyam pendidikan. "Saya rasa larangan ini mencerminkan pandangan tradisional dan melebihi aturan yang ditetapkan oleh agama," kata Alwaleed.

Dalam langkah lain yang meningkatkan pemberdayaan perempuan, Arab Saudi mengizinkan perempuan untuk bepergian tanpa persetujuan penjaga laki-laki dan untuk mengajukan paspor, sehingga mengurangi kontrol yang sudah lama diberlakukan terhadap mereka.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Berita Terpopuler