Mahfud MD, Pejabat Korup, dan Pedihnya Siksa Neraka di Dunia

Mahfud MD ungkap kisah neraka dunia yang dialami pejabat korup.

ANTARA FOTO/Bayu Pratama S
Guru Besar Hukum Tata Negara UII Mahfud MD.
Rep: Rizky Suryarandika Red: Erdy Nasrul

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pakar hukum tata negara, Mahfud MD mengungkapkan inti dari 30 hari berpuasa bagi umat Islam tidak lain untuk menahan diri dari hawa nafsu. Sehingga jika bulan suci Ramadan dianggap bulan reparasi diri, setelahnya harus bisa menahan diri untuk tidak tamak, serakah dan berbuat sewenang-wenang.

Baca Juga


Mahfud menekankan inti dari hidup merupakan bertakwa. Sehingga menurut Mahfud inti dari takwa itu menahan diri dari perilaku-perilaku serakah, berbohong, dan menipu, serta membuat takut terhadap akibat-akibat yang timbul dari setiap perbuatan tidak baik.

“Saya selalu percaya setiap perbuatan tidak baik itu akan menyebabkan kamu sengsara, akan mengalami neraka bukan hanya di akhirat nanti, tapi di dunia pun sudah muncul balasan-balasan Tuhan, dan tuntunan alam orang yang tidak baik akan celaka dalam hidupnya, hanya menunggu waktu, penuh ketakutan, penuh derita,” kata Mahfud dalam podcast Terus Terang di kanal YouTube Mahfud MD Official dikutip pada Kamis (3/4/2025).

Mahfud mengatakan kisah nyata pejabat korup yang setiap kali nego-nego untuk korupsi didengarkan supirnya. Dengan informasi itu, si supir sampai berani selingkuh dengan istri si pejabat, dan walau tahu supirnya sering ke kamar istrinya, si pejabat tidak berani apa-apa karena takut korupsinya dibongkar.

“Ngeri kan begitu, akibatnya, real story, pernah dimuat di majalah Tempo, kawin dengan supirnya, tidak diapa-apain, supirnya kawin tapi tidak berani dia menegur karena supir itu punya kartu, korupsinya kamu dengan siapa, istrinya dilapori, neraka dunia kan, hartanya banyak di rumah tersiksa begitu,” ujar Mahfud.

Mahfud pernah pula didatangi seorang teman ketika ke Malang, yang tiba-tiba menangis, bahkan sampai bersimpuh ke lututnya sambil meminta maaf. Orang itu ternyata meminta maaf lantaran merasa sudah mempermalukan almamater karena dia merupakan pejabat yang ditangkap dan dipenjara karena korupsi.

Kepada Mahfud, orang itu mengaku tidak bersalah karena tanda tangan yang diberikannya karena disuruh kepala daerah yang merupakan atasannya. Dia disuruh membagi-bagi proyek bantuan rakyat ke anggota-anggota DPR, yang ternyata mereka semuanya bohong, bahkan menggunakan proposal kegiatan palsu.

Walau mengaku sudah meminta atasannya yang merupakan kepala daerah itu membuat disposisi, tapi permintaan itu ditolak dan akhirnya dirinya yang memberi tanda tangan. Akhirnya, sekalipun apa yang dilakukan itu perintah kepala daerah secara lisan, dirinya yang masuk penjara usai kasus itu terbongkar.

Orang itu menceritakan, kalau sebelum dipenjara anaknya santri saleh yang selalu berprestasi di SD, SMP, SMA, namun menghilang usai mendengar kabar ayahnya ditangkap karena korupsi. Setelah bebas, orang itu mencari dan akhirnya menemukan anaknya sudah berpenampilan dan berperilaku seperti penjahat.

 

“Betapa sedihnya siksaan dunia. Ada lagi teman kita, korupsi, anaknya pakai mobil dengan teman-teman, disetop polisi, ini kamu turun, apa saya punya surat-surat, SIM ada, STNK ada, tidak ini bukan urusan surat, STNK, mobil ini disita negara, bapakmu jadi tersangka korupsi, ambil, apa tidak sakit, itu neraka dunia itu,” kata Mahfud.

Mahfud turut menceritakan kisah seseorang yang terpaksa menikahkan anaknya, membacakan ijab kabul dengan kedua tangan diborgol karena dia dipenjara. Mahfud mengingatkan, itu merupakan karma hidup dan siksaan Tuhan di dunia yang bisa diberikan atau dialami orang-orang yang berbuat tidak benar.

“Hadits Nabi yang sering saya bacakan, setiap dari dagingmu yang tumbuh dari makanan haram, yang diperoleh dengan cara haram, maka akan menjadi neraka bagi hidupmu, bagi hidupmu. Tidak usah menunggu akhirat, akhirat lain lagi nanti, kehidupan dunia sudah tidak enak,” ujar Mahfud.

KPK cegah koruptor masuk neraka

Menteri Agama (Menag) Nazaruddin Umar menyebut program pencegahan korupsi milik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) turut mencegah seseorang masuk neraka.

 

"Apa yang dilakukan oleh KPK sebetulnya itu artinya pencegahan neraka. Saya ingin mengatakan bahwa dengan adanya KPK, banyak sekali orang tercekal untuk tidak masuk neraka," kata Nazaruddin lewat kanal YouTube KPK yang dipantau dari Jakarta, Rabu.

Nazaruddin pun mengingatkan kepada semua pihak untuk tidak memandang KPK sebagai sesuatu yang seram, namun KPK harus dijadikan sebuah pendorong untuk hidup berintegritas.

"Jadi jangan melihat KPK itu wah itu seram dan sebagainya. Justru kita harus menjadikan KPK sebagai vitamin untuk menjalani kehidupan yang bergairah," ujarnya.

Menag juga menekankan bahwa integritas bukan hanya tuntutan hukum, tetapi juga kewajiban agama. Ia mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang menyerukan untuk mengatakan kebenaran meskipun pahit.

Dalam konteks ini, korupsi adalah tindakan haram yang menghancurkan keberkahan hidup. “Semua daging yang tumbuh dari barang yang haram hanya bisa dibersihkan oleh api neraka,” tegasnya.

 

Nasaruddin juga menyoroti pentingnya penggunaan bahasa agama dalam membentuk kesadaran moral masyarakat. Menurutnya, pendekatan religius lebih efektif dalam menyentuh aspek etika dan kesadaran spiritual.

“Contohnya, salah satu krisis yang kita hadapi adalah lingkungan hidup. Kalau hanya pakai bahasa birokrasi, tidak terlalu banyak manfaatnya. Tapi begitu kita mengharamkan, misalnya mengatakan ‘dosa kalau Anda bakar pohon’, efeknya akan lebih besar,” ujarnya.

Hal yang sama berlaku dalam pemberantasan korupsi. Diperlukan upaya dramatisasi dalam menggambarkan dampak buruk korupsi sebagai kejahatan kemanusiaan yang serius.

Menurutnya, pemahaman ini harus ditanamkan sejak dini agar masyarakat tidak terbiasa dengan praktik korupsi, sekecil apa pun bentuknya.

 

Nasaruddin mengingatkan tentang bahaya wilayah abu-abu, yaitu celah yang bisa menjerumuskan seseorang ke dalam praktik korupsi tanpa disadari. Pengendalian diri, terutama bagi pejabat publik, menjadi kunci utama dalam menutup celah tersebut.

“Tingkat pengendalian kita harus lebih tinggi daripada kita menjadi orang biasa,” ujarnya.

Sebagai penutup, Menteri Agama yang juga Imam Besar Masjid Istiqlal ini mengajak seluruh masyarakat untuk memperkuat nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari sebagai bentuk pencegahan terbaik terhadap korupsi. Dengan kata lain, membangun integritas bangsa harus dimulai dari kesadaran individu dan didukung oleh nilai-nilai spiritual yang kuat.

Kolaborasi antara negara dan elemen keagamaan menjadi langkah strategis untuk mengikis budaya korupsi. Sebab, sejatinya, perjuangan melawan korupsi bukan hanya soal aturan dan hukuman, tetapi juga soal kesadaran dan tanggung jawab moral setiap individu.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Berita Terpopuler