Agar Bahagia Saat Malam Pertama di Alam Kubur
Kematian adalah sesuatu yang pasti menghampiri setiap orang.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Sesudah roh terpisah dari jasad, manusia pun memasuki alam barzakh. Di alam kubur, bekal yang berguna baginya hanyalah iman serta amal dan perbuatan selama hidup dahulu di dunia fana.
Syekh Aidh al-Qarni dalam buku Malam Pertama di Alam Kubur menjelaskan, pada hari seorang insan ditempatkan di lubang kubur, ia akan seorang diri. Tiada teman, istri, dan anak-anak di sisinya.
Allah SWT berfirman dalam Alquran surah al-An’am ayat 62,
ثُمَّ رُدُّوۡۤا اِلَى اللّٰهِ مَوۡلٰٮهُمُ الۡحَـقِّؕ اَلَا لَهُ الۡحُكۡمُ وَهُوَ اَسۡرَعُ الۡحَاسِبِيۡنَ
Artinya, “Kemudian mereka (hamba-hamba Allah) dikembalikan kepada Allah, penguasa mereka yang sebenarnya. Ketahuilah bahwa segala hukum (pada hari itu) ada pada-Nya. Dan Dialah pembuat perhitungan yang paling cepat.”
Syekh Aidh menggambarkan malam pertama di alam kubur sebagai malam yang di dalamnya para ulama menangis, para pemimpin mengadu, dan para penyair meratap. Dalam arti, itulah momen yang teramat genting.
Sungguh, bila kematian sudah datang, maka sekali-kali manusia tidak akan mungkin dikembalikan lagi ke dunia.
“Maka pada hari itu engkau akan melihat semua amal perbuatan. Hari itu juga engkau akan menyesal; yakni ketika memang dirimu tak bisa lagi berbuat (sebagaimana di dunia),” kata Syekh Aidh.
Ketika sampai di alam kubur, manusia tidak akan bisa mengajak bicara mereka yang masih hidup. Ia tidak akan keluar menemui keluarganya. Ia tidak bisa menciumi anak-anaknya. Tidak sekalipun ia bangun untuk melihat istrinya yang telah ditinggalkannya.
Itulah malam pertama di alam kubur. Namun demikian, ada malam-malam lain bagi orang Mukmin yang baik perbuatannya. Allah SWT berfirman dalam Alquran surah at-Thur ayat 21
وَالَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا وَاتَّبَعَتۡهُمۡ ذُرِّيَّتُهُمۡ بِاِيۡمَانٍ اَلۡحَـقۡنَا بِهِمۡ ذُرِّيَّتَهُمۡ وَمَاۤ اَلَـتۡنٰهُمۡ مِّنۡ عَمَلِهِمۡ مِّنۡ شَىۡءٍؕ كُلُّ امۡرِیءٍۢ بِمَا كَسَبَ رَهِيۡنٌ
Artinya, “Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga), dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal (kebajikan) mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya.”
Dengan demikian, lanjut Syekh Aidh, dengan kebaikan itulah seorang insan akan ditemani di liang kubur. Ia pun mengingatkan para pembaca tentang betapa pentingnya iman dan amal saleh. Sebab, dunia yang kita huni kini sesungguhnya adalah ladang tempat kita menanam demi kebaikan di akhirat.