REPUBLIKA.CO.ID, DAMASKUS -- Ribuan anak-anak Suriah memulai tahun akademik baru di sekolah tepat pada Ahad (15/9) waktu setempat. Menyusul adanya kekahwatiran sekolah tidak akan dibuka tepat waktu karena ancaman serangan militer Amerika Serikat (AS).
Di Damaskus, banyak sekolah telah berubah menjadi barak untuk rumah pribadi yang dapat menjadi target serangan AS. Pada Ahad pagi, sebagian besar tentara keluar ini menandakan Presiden Bashar al-Assad tidak lagi khawatir akan serangan AS setelah ada kesepakatan antara AS dan Rusia untuk menghancurkan senjata kimia Suriah.
Jalan-jalan di Damaskus ramai kembali setelah berminggu-minggu mengantisipasi serangan militer. Sejumlah jalan utama mengalami kemacetan lalu lintas.
Ratusan anak perempuan masuk ke sekolah menengah khusus perempuan di Damaskus barat pada pukul 13.00 waktu setempat, membawa buku teks baru dan tas plastik putih.
"Ini musim panas yang panjang, dan anak-anak telah terkurung lama di rumah dan saya senang mereka keluar rumah dan kembali ke rutinitas mereka," kata Mayse, ibu dari tiga anak dikutip, Al-Arabiya, Senin (16/9).
Dia menunggu anaknya di luar sekolah. Sejak pembicaraan rencana serangan ke Suriah bulan lalu, banyak keluarga meninggalkan Suriah ke Lebanon dan memutuskan tinggal di sana untuk tahun ajaran sekolah. Karena gejolak ekonomi, harga seragam sekolah sekarang tiga sampai lima kali sebelum peperangan dimulai.