REPUBLIKA.CO.ID, CRIMEA -- Crimea telah memutuskan kembali ke tanah sejarahnya di Rusia dan tidak akan kembali ke Ukraina. Perdana Menteri Crimea, Sergei Aksyonov mengatakan aneksasi Rusia tahun lalu adalah aksi demokratis yang membawa mereka kembali, Ahad (15/3).
Crimea telah secara resmi menjadi bagian Rusia pada 18 Maret, meski dikecam oleh internasional. Merapatnya Crimea ke Rusia berdasarkan keputusan referendum yang diboykot pemerintah Ukraina.
Hal ini membuat AS dan Uni Eropa menerapkan sanksi pada organisasi dan individual Rusia, termasuk Aksyonov. Meski demikian, ia tetap membela Rusia dan mengatakan tidak ada yang salah dengan tindakan Rusia.
''Saya katakan, tidak ada seorang pun yang mengambil apa pun,'' kata Aksyonov pada BBC. Menurutnya, orang Crimea memutuskan sendiri nasibnya. Sehingga ini, tambahnya, tidak bisa disebut agresi, tapi ini tindakan demokrasi yang nyata.
Aksyonov mengatakan hal ini tidak dimengerti para pemimpin barat. ''Orang-orang salah mendapat informasi sehingga mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di Crimea tahun lalu,'' kata Aksyonov yang membela Presiden Vladimir Putin.
Dalam siaran televisi Rusia yang menayangkan Putin, ia mengatakan Krimea adalah teritorial Rusia berdasar sejarah. ''Orang Rusia hidup di sana, mereka dalam bahaya. Kami tidak bisa menelantarkan mereka,'' kata Putin.
Siaran tersebut direkam sebelumnya namun disiarkan Ahad (15/3). Ia mengatakan Rusia telah siap menempatkan senjata nuklir di sana untuk berjaga-jaga.