Friday, 4 Rabiul Awwal 1444 / 30 September 2022

Friday, 4 Rabiul Awwal 1444 / 30 September 2022

 

4 Rabiul Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Petani Tebu Tolak Harga Pembelian Bulog

Senin 30 Jul 2018 05:32 WIB

Red: Nidia Zuraya

Proses produksi gula dalam pabrik (ilustrasi)

Proses produksi gula dalam pabrik (ilustrasi)

Foto: fxcuisine.com
Bulog diminta membeli gula petani dengan harga Rp 9.700 per kilogram

REPUBLIKA.CO.ID, CIREBON -- Petani tebu di Cirebon, Jawa Barat, menolak harga pembelian gula oleh Perum Bulog sebesar Rp 9.700 per kilogram (kg). Harga pembelian dari Bulog ini dinilai merugikan petani.

 

"Kami menolak pembelian gula yang hanya dihargai Bulog sebesar Rp 9.700, ini tidak berdasar dan sangat merugikan petani tebu," kata petani tebu Mae Azhar di Cirebon, Jabar, Senin (30/7).

Menurut dia, penetapan harga pembelian Rp 9.700 dari Bulog itu tidak masuk akal, karena ongkos produksinya sudah melebihi harga itu, sehingga petani dipastikan merugi. Azhar yang juga Wakil Ketua DPD Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Jabar mengatakan sudah empat tahun terakhir harga gula petani dipermainkan dan petani terus dirugikan dengan kebijakan pemerintah.

Baca juga, Bulog Beli 20 Ribu Ton Gula Petani

"Setiap musim giling, harga gula petani terus turun dan murah, kemudian nanti Bulog menawarkan untuk membeli, agar seolah-olah hadir untuk membantu petani, padahal tidak," tuturnya.

Sementara itu, petani lain, Syafii juga mengeluhkan turunnya harga gula, sehingga membuatnya bingung dan bimbang apakah pada musim tanam pada 2019 akan menanam tebu lagi atau tidak. "Sama seperti tahun-tahun kemarin, harga gula anjlok lagi dan untuk tanam tahun 2019 itu kami masih mengambang atau bingung, karena tidak ada modal dan harga gula merugikan," katanya.

Syafii yang menanam tebu seluas tiga hektare itu harus selalu gigit jari saat musim panen dan giling tiba, karena harga gula tidak menguntungkan. Padahal, biaya untuk tanam tebu, setiap tahun terus naik seperti pupuk, sewa lahan, dan ongkos tenaga kerja.

"Tapi gula kita selalu turun dan tidak pernah laku, jadi tentu saja sangat merugikan," ujar Syafii. 

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f

 

 

BERITA LAINNYA

 

 

hide ads show ads
desktop mobile