Sabtu 16 Feb 2019 06:06 WIB

Surat Abu Hanifah yang Meluluhkan Hati

Sebuah surat berisikan petuah bijak mampu mengetuk hati yang kering kerontang.

Menulis Surat/Ilustrasi
Foto: blogspot.com
Menulis Surat/Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Alkisah, sebuah keluarga hidup serbakekurangan di Tanah Arab. Usut punya usut,  pemicu kondisi terpuruknya keluarga tersebut, yaitu sang kepala keluarga, yang bernama Abbad, sangat pemalas.

Ia tak pernah mau bekerja. Sehari-hari ia menghabiskan waktu untuk bersantai-santai dan bersenang-senang di rumah. Terkadang, istrinyalah yang disuruh untuk bekerja membanting tulang demi keluarganya.

Suatu hari, Imam Abu Hanifah lewat di depan rumah Abbad. Tampak dari jauh Sang Imam tersebut berjalan ke arah Abbad, ia pun telah mempersiapkan sebuah skenario agar bisa memperoleh santunan dari Sang Imam.

Sambil menangis tersedu-sedu, dengan suara keras Abbad pun mengeluh. “Nasibku sungguh malang sekali. Akulah orang termalang di dunia ini. Sejak pagi aku dan keluargaku belum makan sesuap nasi pun. Badanku pun menjadi lemah. Semoga ada orang yang mendengar rintihanku ini dan memberi kami sedekah,” ujarnya.

Mendengar pengaduan tersebut, Abu Hanifah pun tersentuh. Ia ingin menolong keluarga malang tersebut, tapi ia ragu karena tahu gelagat Abbad yang sangat malas bekerja tersebut.

Abu Hanifah pun akhirnya punya ide. Ia kembali pulang ke rumahnya dan memutuskan untuk membantu keluarga Abbad. Abu Hanifah mengambil uang dan makanan, lalu dibungkus dengan sebuah kertas. Sebuah surat untuk Abbad tertulis pada lembaran kertas itu.

Isi surat berbunyi: “Kawan, kau tak perlu mengeluhkan nasibmu hingga seperti itu. Selalu ingatlah pada kemurahan Allah dan jangan pernah lelah memohon padanya. Janganlah masuk dalam lembah keputusasaan, tetaplah berusaha kawan.”

sumber : Islam Digest Republika
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Yuk Ngaji Hari Ini
يَسْتَفْتُوْنَكَۗ قُلِ اللّٰهُ يُفْتِيْكُمْ فِى الْكَلٰلَةِ ۗاِنِ امْرُؤٌا هَلَكَ لَيْسَ لَهٗ وَلَدٌ وَّلَهٗٓ اُخْتٌ فَلَهَا نِصْفُ مَا تَرَكَۚ وَهُوَ يَرِثُهَآ اِنْ لَّمْ يَكُنْ لَّهَا وَلَدٌ ۚ فَاِنْ كَانَتَا اثْنَتَيْنِ فَلَهُمَا الثُّلُثٰنِ مِمَّا تَرَكَ ۗوَاِنْ كَانُوْٓا اِخْوَةً رِّجَالًا وَّنِسَاۤءً فَلِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْاُنْثَيَيْنِۗ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اَنْ تَضِلُّوْا ۗ وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ ࣖ
Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah, “Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu), jika seseorang mati dan dia tidak mempunyai anak tetapi mempunyai saudara perempuan, maka bagiannya (saudara perempuannya itu) seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mewarisi (seluruh harta saudara perempuan), jika dia tidak mempunyai anak. Tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki-laki dan perempuan, maka bagian seorang saudara laki-laki sama dengan bagian dua saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, agar kamu tidak sesat. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

(QS. An-Nisa' ayat 176)

Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement