REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING — Pemerintah China akan mendorong masyarakat Taiwan mempromosikan reunifikasi dan menolak kemerdekaan pulau tersebut. Hal itu diperkirakan memperburuk hubungan Beijing dan Taipei.
“Kami akan mendorong mereka bergabung dengan kami dalam menentang kemerdekaan Taiwan serta mempromosikan reunifikasi China. Dengan upaya ini kita pasti dapat menciptakan masa depan yang indah untuk peremajaan bangsa China,” kata Perdana Menteri China Li Keqiang pada Jumat (22/5).
China menerjemahkan kata tong yi sebagai reunifikasi. Namun kata itu pun dapat diterjemahkan sebagai unifikasi, sebuah istilah dalam bahasa Inggris yang sangat disukai banyak orang di Taiwan. Hal itu karena menunjukkan pemerintahan komunis China tak pernah memerintah Taiwan sehingga tak mungkin disatukan kembali.
Menanggapi pidato Li, Dewan Urusan Daratan Taiwan mengatakan rakyatnya dengan tegas menentang proposal “satu negara dua sistem”. Hal itu merendahkan Taiwan serta merusak status quo di Selat Taiwan.
China memang telah menawarkan model “satu negara dua sistem” kepada Taiwan. Dengan model itu, tingkat otonomi yang tinggi dijamin. Namun semua partai besar Taiwan telah menolaknya.
Saat dilantik untuk masa jabatan keduanya, Presiden Taiwan Tsai Ing-wen mengatakan tidak dapat menerima gagasan menjadi bagian dari China di bawah tawaran otonomi satu negara dua sistem. Tsai menyebut Taiwan sudah menjadi negara merdeka dengan nama resmi Republik China.