Friday, 11 Rabiul Awwal 1444 / 07 October 2022

Friday, 11 Rabiul Awwal 1444 / 07 October 2022

 

11 Rabiul Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Penjualan Generator Hidrogen Kian Meningkat Saat Pandemi

Selasa 29 Sep 2020 17:59 WIB

Rep: Novita Intan/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

inhalasi hidrogen bisa menjadi antioksidan dan tingkatkan imun tubuh terutama pasien Covid-19.

inhalasi hidrogen bisa menjadi antioksidan dan tingkatkan imun tubuh terutama pasien Covid-19.

Foto: istimewa
LiveWell mengklaim generator hidrogen bisa untuk perawatan pasien Covid-19

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penggunaan hidrogen untuk menjaga kesehatan dan bantu pencegahan berbagai penyakit di Indonesia sudah mulai diterapkan sebagian masyarakat. Hal ini diakui oleh Leonardo Wiesan, pendiri perusahaan LiveWell Global, distributor Hydro-Gen Fontaine PEM Inhaler dari Korea Selatan yang merupakan mesin generator portabel penghasil air bermolekul hidrogen tinggi. 

 

“Saat ini permintaan terhadap Hydro-Gen Fontaine PEM & Inhaler semakin tinggi. Saya rasa masyarakat Indonesia mulai memahami manfaat air hidrogen. Masyarakat di negara maju seperti Jepang, Korea , China sudah banyak menggunakan air minum berkandungan hidrogen sehari-harinya untuk menjaga kesehatan,” ujar Leonardo kepada wartawan, Selasa (29/9).

Leonardo juga menjelaskan, air dan inhalasi hidrogen juga telah mendapat respon positif dari para peneliti dunia untuk membantu perawatan pasien Covid-19 di China. “Hal ini bisa dilihat dalam jurnal Therapeutic Advances in Respiratory Disease yang diterbitkan situs penelitian NCBI berjudul Covid-19 dan Inhalasi Hidrogen, yang diterbitkan pada 30 Agustus 2020 lalu. Di artikel tersebut, tertulis mengenai laporan  Komisi Kesehatan Nasional Tiongkok dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China yang merekomendasikan terapi inhalasi perpaduan oksigen dan hidrogen pada perawatan pada pasien Covid-19 dengan pneumonia China,” jelas Leonardo. 

Gejala hipoksia bukan spesifik terjadi pada Pasien Covid-19 saja. Menurut dr. Bintang Cristo Fernando, SpBS, Kepala Instalasi Gawat Darurat  dan tim medis Covid-19 RS PGI Cikini, Jakarta, apabila kondisi  seseorang  memiliki gangguan atau kerusakan paru paru,  maka bisa berisiko menimbulkan gejala hipoksia, akibat ketidakmampuan memberikan oksigen yang cukup ke jaringan dan sel tubuh. 

"Contoh yang paling sering memang pada pasien yang menderita infeksi paru, penyakit paru obstruksi kronik, serta tumor paru atau hingga ke keganasan yang menyebar ke parenkim paru,” ujarnya.

Manifestasi hipoksia klinisnya mulai dari saluran napas atas hingga ke organ paru paru. “Apabila infeksi terjadi dan bergejala berat, artinya paru paru manusia sudah mulai berkurang kemampuannya untuk memberikan suplai oksigen yang cukup ke jaringan dan sel tubuh,” tutur dokter Bintang.

Hipoksia merupakan kondisi dimana tubuh tidak mendapatkan oksigen yang cukup. Menurut dokter Bintang, kondisi hipoksia ini biasa terjadi di jaringan dan sel yang kemudian dapat menimbulkan gejala atau keluhan klinis. 

“Berbeda dengan hipoksemia, dimana terjadi kondisi kekurangan oksigen di dalam darah. Kondisi hipoksemia kemudian dapat menimbulkan hipoksia,”ucap dokter spesialis bedah saraf ini.

Berdasarkan hasil penelitian Scientific Report pada  22 Mei 2018, yang diterbitkan situs penelitian NCBI, terapi hidrogen memperbaiki cedera paru yang diinduksi hipoksia. Pada penelitian ini dinyatakan, hidrogen dapat memperbaiki cedera paru paru yang diinduksi hipoksia dengan menghambat produksi radikal hidroksil (radikal bebas yang sangat reaktif) dan peradangan di paru-paru. 

Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f

 

 

BERITA LAINNYA

 

 

hide ads show ads
desktop mobile