Monday, 20 Safar 1443 / 27 September 2021

Monday, 20 Safar 1443 / 27 September 2021

Posisinya yang Terpencil, Mushola Rentan tak Terurus

Ahad 25 Jul 2021 04:40 WIB

Red: Joko Sadewo

Mushola tua (ilustrasi).

Mushola tua (ilustrasi).

Foto: blogspot.com
Memakmurkan masjid dan mushola merupakan perintah agama.

Oleh : Agung Sasongko, Jurnalis Republika.co.id

REPUBLIKA.CO.ID, Membangun gampang tapi memakmurkannya yang susah. Tantangan inilah yang bakal dihadapi para pengurus dewan kemakmuran masjid dan mushola.

Apalagi memakmurkan masjid dan mushola merupakan perintah agama. Hal tersebut tertuang dalam Alquran dalam Surat At Taubah ayat 18: “Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah, mereka adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir (Kiamat), serta tetap mendirikan sholat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk".

Ibnu Adil dalam tafsir al Lubab, membagi proses memakmurkan masjid dalam dua bagian. Pertama, memakmurkan masjid sesuai dengan fungsinya yakni mendatangi masjid dan membuat kegiatan di dalamnya. Kedua, memakmurkan masjid dari segi arsitektur dan pembangunannya.

Pada poin kedua, kita mungkin sudah melakukannya. Namun, pada poin pertama adalah tantangan terbesarnya.

Untuk ukuran masjid, mungkin persoalan yang ruwet itu tidak akan kentara. Pasalnya, ada banyak pihak yang terlibat dan memiliki kompetensi baik secara keilmuan maupun pengalamannya dalam masyarakat.

Berbanding terbalik dengan apa yang dialami kepengurusan mushola. Karena posisinya yang kecil, bahkan ada yang terpencil, kualitas pengembangan mushola jadi alakadarnya.

Apalagi, posisi mushola itu berada dalam satu lingkungan yang mengalami transisi dari anak muda menjadi orangtua atau keluarga baru. Masalah yang dihadapi pada lingkup ini adalah ilmu dan pengalaman. Tanpa keduanya sangat mungkin terjadi kegaduhan yang bukan main ruwetnya. Situasi ini bisa saja banyak dialami mushola di kota-kota besar di Indonesia.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkap 60 persen penduduk Indonesia berada di usia muda. Pada 2040, Indonesia diprediksi akan memiliki 195 juta penduduk usia produktif. Sementara, prosentase penduduk Muslim mencapai 87 persen. Generasi muda ini tentu membutuhkan bimbingan dan arahan agar dapat memakmurkan mushola.

Bagaimana cara mencapainya? Saya kira solusinya adalah melibatkan semua unsur. Mungkin terkesan remeh. Faktanya memang perlu ada bimbingan orangtua dan ulama untuk ini. Dari keduanya ditransfer ilmu dan pengetahuan sebagai bekal memakmurkan mushola.

Perlu berbagai pelatihan pada pengurus dan anggota masjid dan mushola serta harus mengelompokkan struktur organisasi pengurus agar dapat tersusun dengan baik dan terarah.

Melalui bekal pelatihan tersebut, akan berpengaruh pada berjalannya manajemen mushola. Dari manajemen berpengaruh lagi bagaimana membuat kajian keagamaan yang menarik jamaah untuk memperoleh hidayah. Saya yakin, para pemuda ini punya banyak ide tapi kesulitan mengimplementasikannya karena faktor ilmu dan pengalaman tadi.

Di sinilah, lagi-lagi letak pentingnya masukan para orangtua dan ulama agar materi pengajian tidak menyimpang namun sesuai kebutuhannya. Dari pengajian ini kemudian berlanjut hingga pada satu titik, hidayah. Selanjutnya, akan berpengaruh pada kemakmuran sekitar mushola melalui optimalisasi Zakat, Infaq, Sedekah dan Wakaf (Ziswaf).

Saya kira, baik Kementerian Agama maupun ormas islam seperti Nahdlatul Ulama atau Muhammadiyah untuk memberikan perhatian terhadap perkembangan keagamaan di mushola. Lulusan pesantren atau pendidikan agama juga ada baiknya mengabdi untuk membantu memakmurkan mushola.

Peralihan generasi merupakan tantangan sehingga diharapkan tidak putusnya tuntunan cara memakmurkan mushola. Hal ini tentu sesuai dengan harapan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas yang mendorong setiap Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) untuk memiliki program-program yang berkontribusi membangun masyarakat.

Ulama Tafsir terkemuka Mesir, Mutawalli Asy Syarawi dalam tafsirnya Asy Syarawi mengatakan, banyak keutamaan yang akan didapat oleh orang-orang yang memakmurkan masjid. Hal terbesar adalah mendapatkan hidayah, bimbingan atau petunjuk dari Allah SWT. Hidayah bisa berarti manhaj, yaitu ajaran Islam yang akan mengantarkan sesorang memasuki surga apabila diamalkan. Hidayah pun bisa berarti jalan atau wasilah yang akan menyampaikan sesorang pada tujuan.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA