Wednesday, 17 Syawwal 1443 / 18 May 2022

Wednesday, 17 Syawwal 1443 / 18 May 2022

KH Hasyim Asy'ari, Berita Nahdlatoel Oelama 1938: Kisah Paham Anti-Arab

Senin 17 Jan 2022 05:26 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Para pendiri NU pada tahun 1938 ternyata sudah bersikap soal paham anti Arab

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Lukman Hakiem, Peminat Sejarah, Mantan Staf M Natsr, dan Ahli Wapres Hamzah Haz dan Mantan Anggota DPR RI

Di majalah Berita Nahdlatoel Oelama 28 Syawal 1356/1 Januari 1938, halaman 2-4, terdapat tulisan berjudul “Aliran Anti Arab”. Di paruh ketiga abad XX itu, isu anti-Arab rupanya sudah merebak di Tanah Air kita.

 Bagaimana kalangan Nahdhiyyin pada saat itu menyikapi isu anti-Arab, mari kita ikuti tulisan yang dimuat di majalah yang dipimpin oleh Ch.M. Machfoedz Shiddiq dengan Mede Redacteur K.H. Hasjim Asj’ari Tebuireng, K.H. Abdulwahab Chasboellah Surabaya, dan K.H. Bisri Denanyar.

Begini isi tulisan itu yang saya disalin sesuai dengan aslinya, dengan penyesuaian ejaan dan penambahan subjudul:

 Berita Nahdoetoel Oelama 1938.

 Sekali peristiwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Sayyidina Salman: “Salman! Janganlah kamu membenci aku, maka kamu mencerai Igamamu (agamamu,red).” Sembah Sayidina Salman: “Betapakah hamba membenci Paduka, padahal Allah ta’ala memberi hidayah hamba dengan perantaraan Paduka?” Maka sabda beliau: “Yaitu kamu membenci bangsa Arab, maka (akhirnya) kamu membenci aku.” Hadits hasan gharib.

 Tujuan Lebih Dalam

 Jikalau kami menulis tentang aliran anti-Arab, barangkali pembaca kita menyangka bahwa kami akan menulis pergolakan di Palestina, dalam mana aliran anti-Arab dalam kalangan bangsa Yahudi makin menjadi-jadi.

 Akan tetapi sangkaan itu keliru. Aliran anti-Arab yang hendak kami tulis tidak lain melainkan suatu aliran yang semakin merajalela dalam kalangan saudara kita, umat Islam Indonesia, terutama dalam kota-kota besar yang merasa dirinya sudah insyaf, tidak akan bisa tertipu lagi dan diabui penglihatannya. Suatu aliran yang asal mulanya ditanam oleh pihak yang menghendaki perpisahan orang kita dari Igamanya, Igama Islam.

Baca juga : Perti: Moderasi Agama Sudah Ada dalam Islam Sejak Dulu

Mereka sesungguhnya bukan orang insyaf, jikalau mereka hanya pandai melihat sesuatu pada kulit-kulitnya sahaja. Tidak sampai pada bahagian dalamnya, terutama akibat-akibatnya.

Alat yang dipergunakan orang untuk menghamburkan benih anti (membenci) Arab adalah gerak-gerik bangsa Arab di Indonesia sini. Ialah perbuatan-perbuatan yang tidak hanya diperbuat oleh bangsa Arab melulu, misalnya: merentenkan duit, mengawini putri-putri Indonesia dengan semena-mena dan tidak diperlakukan sebagaimana wajib dan mestinya, menjalankan penipuan, merasa dan meminta dirinya diutamakan, dan lain-lain sebagainya.

Sungguhpun kami sesalkan perbuatan-perbuatan yang tidak bagus itu, bukan saja karena tidak dibenarkan oleh Igama Islam, juga pun seharusnya mereka menjadi cermin tauladan di dalam keluhurannya budi, kesetiaannya menjunjung syariat Islam, dan ketangkasannya bergerak memperharum Islam.

Akan tetapi jikalau sungguh kebencian (anti) Arab dipersebabkan sebab-sebab itu, mengapakah aliran demikian diratakan sampai-sampai mengenai ke-Arab-an? Mengapakah aliran demikian tidak terdapat dan tidak ditujukan juga pada pihak yang sama bahkan lebih tidak bagus lagi perbuatan dan anggapannya. Inilah suatu dalil bahwa aliran itu mempunyai tujuan lebih dalam pula.

Baca juga : Ini yang Ditunggu, Biaya Sertifikasi Halal Reguler Turun Jadi Hanya Rp 650 Ribu

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id
 

BERITA TERKAIT

 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
hide ads show ads
desktop mobile