Monday, 7 Rabiul Awwal 1444 / 03 October 2022

Monday, 7 Rabiul Awwal 1444 / 03 October 2022

 

7 Rabiul Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Studi: Tidak Ada Bukti Antibiotik Efektif Lawan Virus Covid-19

Rabu 16 Feb 2022 11:09 WIB

Rep: Santi Sopia/ Red: Nora Azizah

Ahli ingatkan penggunaan berlebihan antibiotik bisa timbulkan resistensi.

Ahli ingatkan penggunaan berlebihan antibiotik bisa timbulkan resistensi.

Foto: freepik
Ahli ingatkan penggunaan berlebihan antibiotik bisa timbulkan resistensi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perawatan Covid-19 bisa dilakukan secara medis. Penelitian baru kali ini mengeksplorasi kombinasi pengobatan Covid-19 baru yang melibatkan antibiotik. 

 

Sebuah penelitian kecil menunjukkan bahwa merawat pasien yang memiliki Covid-19 sedang atau berat dengan ceftazidime atau cefepime, ditambah steroid deksametason, sama efektifnya dengan perawatan standar. Pengobatan antibiotik-plus-steroid dikaitkan dengan efek samping yang lebih sedikit dibandingkan dengan perawatan standar, yang dapat melibatkan tujuh atau lebih obat yang berbeda.

Baca Juga

Tes laboratorium dan simulasi komputer menemukan bahwa kedua antibiotik menghambat enzim kunci yang digunakan oleh SARS-CoV-2, virus penyebab Covid-19. Namun, saat ini tidak ada bukti dari uji klinis bahwa antibiotik efektif melawan virus, dan para ahli memperingatkan bahwa penggunaan berlebihan meningkatkan resistensi antibiotik.

Profesional perawatan kesehatan selalu menekankan bahwa antibiotik tidak efektif melawan infeksi virus, dengan beberapa pengecualian yang jarang terjadi. Antibiotik telah menyelamatkan nyawa jutaan orang sejak mulai digunakan secara luas di awal abad ke-20, tetapi penggunaan yang berlebihan juga bisa mempercepat evolusi resistensi bakteri terhadap obat. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), ada lebih dari 2,8 juta kasus infeksi yang kebal antibiotik dan menyebablan 35.000 kematian setiap tahun di Amerika Serikat.

“Oleh karena itu, ada kekhawatiran serius bahwa meresepkan antibiotik secara berlebihan kepada pasien Covid-19, tanpa adanya bukti koinfeksi bakteri, berpotensi mendorong penyebaran resistensi antibiotik,” demikian laporan Medical News Today, Rabu (16/2/2022).

Di Inggris Raya, National Institute for Health and Care Excellence melaporkan bahwa di bawah delapan persen orang yang dirawat di rumah sakit karena Covid-19 juga memiliki infeksi bakteri. Tetapi satu penelitian di Inggris menemukan bahwa sekitar 85 persen pasien Covid-19 menerima pengobatan dengan antibiotik selama mereka tinggal di rumah sakit

Selama pandemi, ada harapan awal bahwa antibiotik azitromisin mungkin merupakan pengobatan yang efektif untuk Covid-19. Namun, tinjauan Cochrane baru-baru ini terhadap uji klinis tidak menemukan bukti untuk itu.

Artinya temuan penelitian kecil yang menunjukkan salah satu dari dua antibiotik, dalam kombinasi dengan steroid deksametason, untuk pengobatan Covid, masih kontroversial.

 

Waktu pemulihan lebih cepat?

Penelitian tersebut melibatkan 370 pasien dengan Covid-19 sedang atau berat yang dirawat di Rumah Sakit Beni-Suef University di Beni Suef, Mesir. Para peneliti secara acak menugaskan pasien ke dalam tiga kelompok, yaitu pengobatan dengan cefepime plus deksametason ke 124 pasien. 

Lalu pengobatan dengan ceftazidime plus deksametason untuk 136 pasien. Kemudian pengobatan standar Covid-19, seperti yang direkomendasikan dalam pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan protokol manajemen Mesir, dengan tujuh obat atau lebih, sebanyak 110 pasien.

Waktu pemulihan rata-rata untuk pasien yang menerima pengobatan dengan cefepime atau ceftazidime masing-masing adalah 12 hari dan 13 hari, sedangkan waktu pemulihan rata-rata dengan pengobatan standar adalah 19 hari. Para peneliti menekankan bahwa penelitian ini bukan uji klinis dan jumlah pasien di setiap kelompok tidak mencukupi untuk menarik kesimpulan yang tegas.

Namun, mereka juga melakukan tes laboratorium dan simulasi komputer, yang menunjukkan bahwa kedua antibiotik ini menghambat aktivitas enzim protease yang disebut Mpro. Mpro adalah bagian penting dari siklus hidup virus, penurunan aktivitas enzim mengganggu laju replikasi virus. Studi ini muncul dalam jurnal Antibiotik.

Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f

 

 

BERITA LAINNYA

 

 

hide ads show ads
desktop mobile