Ketika Para Rasul Menjadi Saksi di Pengadilan Akhirat

Rep: Fuji Eka Permana/ Red: Agung Sasongko

 Selasa 17 May 2022 06:01 WIB

Alquran Foto: Republika/Agung Supriyanto Alquran

Para Rasul akan menjadi saksi bagi umat mereka di pengadilan akhirat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Para Rasul akan menjadi saksi bagi umat mereka di pengadilan akhirat. Sehingga dengan demikian, umat-umat yang tidak mau beriman kepada Allah SWT tidak bisa lagi beralasan atau membela diri atas kesalahannya semasa hidup di dunia. Hal ini dijelaskan dalam Surah An-Nahl Ayat 84 dan tafsirnya.

وَيَوْمَ نَبْعَثُ مِنْ كُلِّ اُمَّةٍ شَهِيْدًا ثُمَّ لَا يُؤْذَنُ لِلَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَلَا هُمْ يُسْتَعْتَبُوْنَ

Baca Juga

Dan (ingatlah) pada hari (ketika) Kami bangkitkan seorang saksi (Rasul) dari setiap umat, kemudian tidak diizinkan kepada orang yang kafir (untuk membela diri) dan tidak (pula) dibolehkan memohon ampunan. (QS An-Nahl: 84)

Dalam penjelasan Tafsir Kementerian Agama, ayat ini mengandung arti bahwa Allah SWT menjelaskan bahwa pada hari kiamat, para Rasul menjadi saksi atas umat mereka masing-masing. Merekalah yang mengetahui sikap umatnya ketika mereka berdakwah, apakah umatnya menerima dengan baik ajakan dan seruan yang disampaikan, ataukah mereka kufur dan menolaknya.

Kesaksian para Rasul atas penerimaan dan penolakan umatnya disertai dengan penjelasan yang cukup dan bukti yang benar. Berdasarkan kesaksian itu, hukuman dijatuhkan kepada mereka. Mereka tidak diberi kesempatan untuk menyampaikan alasan untuk membela diri ataupun minta maaf akan segala perbuatan dan tindakan mereka pada masa hidup di dunia.

Allah berfirman: Inilah hari, saat mereka tidak dapat berbicara, dan tidak diizinkan kepada mereka mengemukakan alasan agar mereka dimaafkan. (Al-Mursalat: 35-36)

Allah berfirman: Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat pertengahan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Kami tidak menjadikan kiblat yang (dahulu) kamu (berkiblat) kepadanya melainkan agar Kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik ke belakang. Sungguh, (pemindahan kiblat) itu sangat berat, kecuali bagi orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sungguh, Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada manusia. (QS Al-Baqarah: 143)

Allah berfirman: (Ingatlah), pada hari (ketika) Kami panggil setiap umat dengan pemimpinnya; dan barang siapa diberikan catatan amalnya di tangan kanannya mereka akan membaca catatannya (dengan baik), dan mereka tidak akan dirugikan sedikit pun. (QS Al-Isra': 71)

Hari akhirat adalah hari pembalasan atas amal perbuatan di dunia dan bukan waktu bertobat serta melakukan amal kebaikan untuk menebus dosa. Pada hari kiamat, manusia hanya menerima keputusan dari Allah yang memberikan keputusan dengan seadil-adilnya, masuk surga atau masuk neraka.

Allah berfirman: Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya, dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. (QS Az-Zalzalah: 7-8)

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini