Sempat 'Mati Suri', Desa Wisata Grogol Berupaya Bangkit Kembali

Rep: c02/ Red: Yusuf Assidiq

Lokasi Desa Wisata Grogol di Margodadi, Seyegan, Sleman, DIY.
Lokasi Desa Wisata Grogol di Margodadi, Seyegan, Sleman, DIY. | Foto: Muhammad Noor Alfian

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Pandemi covid yang terjadi selama dua tahun, membuat roda perekonomian terhambat. Kondisi itu pada akhirnya berimbas pada sektor pariwisata, tak terkecuali yang dialami oleh Desa Wisata Grogol yang terletak di Margodadi, Seyegan, Sleman, DIY.

Hampir dua tahun lebih Desa Wisata Grogol ini mati suri akibat pagebluk Covid 19. “Kita vakum karena pandemi kurang lebih sudah dua tahun lamanya. Saya kira di tempat lain sama nasibnya seperti di sini. Ya bisa dikatakan, bidang pariwisata lumpuh karena pandemi,” ungkap Bugiman, salah satu pengelola desa wisata itu, saat ditemui, Sabtu (4/6/2022).

Bugiman, yang akrab dipanggil Bugi itu mengatakan, dulu selain para tamu takut karena Covid 19 juga karena ketatnya pembatasan pada wisatawan. Ia menambahkan, selain faktor risiko yang terlalu besar, banyak pertimbangan untuk para tamu untuk ke sini yang kebanyakan juga para siswa sekolahan.

“Bisa dikatakan juga waktu itu tamu yang ingin berwisata ke sini takut virus, juga ada peraturan yang ketat. Kebanyakan tamu di sini adalah wisatawan lokal seperti siswa sekolahan, mulai dari TK sampai perguruan tinggi. Tentunya, para siswa lebih rentan terhadap virus dan banyak pertimbangannya dari pihak sekolah dan keluarga,” kata Bugi.

Padahal sebelum pandemi merebak, Bugi mengatakan jumlah pengunjung yang datang dapat mencapai lebih dari dua ratusan orang per harinya. Tak ketinggalan juga, ada tamu dari luar negeri berkunjung ke sini katanya.

“Dulu, sebelum pandemi jumlah tamu bisa mencapai 250 orang per hari. Ada juga tamu dari Korea, Turki, Qatar, Australia, dan Belanda,” tegas Bugi.

Namun, sejak Maret tahun ini, menyusul penurunan angka covid dan dilonggarkannya sejumlah pembatasan, Desa Wisata Grogol mulai buka dan aktif kembali. Bugi mengatakan, wisata mulai pulih dan menggeliat.

Pengunjung pun mulai berdatangan kembali ke sini. “Alhamdulillah, untuk saat ini sudah mulai ramai lagi. Mulai dari 100 sampai 150 orang per harinya berkunjung ke sini,” ungkapnya.

Walaupun pengunjung yang datang tidak sebanyak sebelumnya, geliat pariwisata itu telah menjadi berkah tersendiri untuk pengelola dan warga. Bugi mengatakan, pengelola sekaligus masyarakat sekitar bersemangat dan bahagia karena menemukan kembali tambahan mata pencaharian.

“Karena berbasis masyarakat, aktifnya wisata Grogol dapat menambah semangat warga yang sekaligus pengelola wisata. Soalnya, warga kembali mendapatkan kerja dan tambahan pemasukan untuk sehari-hari,” jelas dia.

Wisata alam

Sebenarnya, menurut Bugi tujuan awal Desa Wisata Grogol bukan hanya untuk menjual pesona wisata alamnya saja. Melainkan, kekayaan khas budaya yang dimiliki di sini. Akan tetapi, lantaran sepi peminat membuat wisata budaya tenggelam dan kurang populer dibandingkan dengan wisata alamnya.    

“Pada awalnya, niat kita sebenarnya itu tidak hanya menjual wisata alamnya saja. Tetapi potensi budaya yang ada di sini. Tetapi minatnya hanya sedikit untuk itu, ” kata Bugi.  

Sementara itu, di balik wisata alam yang asri milik Desa Wisata Grogol. Bugi mengatakan, banyak potensi wisata lainnya yang dapat dikembangkan. Mulai dari kuliner yang memanjakan lidah, ragam kesenian, dan berbagai jenis kerajinan.

“Untuk kuliner, wisatawan disuguhkan makanan khas sini, masakan ndeso. Mulai dari gudangan, cenil, grontol, mangut ikan lele, dan lainnya sebagainya,” kata Bugi.

Selanjutnya, untuk kesenian yang ada di sini bagi wisatawan, Bugi mengatakan mereka dapat mengamati ataupun langsung praktik untuk pentas kesenian dan sebagainya. Ia menambahkan di sini ada berbagai macam kesenian, mulai dari wayang, ketoprak, badui, karawitan, jathilan, keroncong, hingga campursari.

Wisatawan dibebaskan untuk memilih dan menentukan apa yang mereka mau. “Kita tergantung mereka pesan apa. Ya semisal dulu, ada wisatawan dari Korea di sini sepuluh hari, dan mereka minta diajarkan untuk memainkan gamelan, ya kita ajarin, kita masukkan ke salah satu kegiatan mereka di sini,” ujarnya.

Sedangkan untuk kerajinan di Desa Wisata Grogol, wisatawan dapat langsung praktik. Dari membuat jamu, gamelan, souvenir, hingga membuat batik. Semua proses akan diajarkan langsung melalui interaksi dan arahan dari warga.

“Ya kalau ada yang pesan terkait kesenian semisal membuat batik. Kita akan ajarkan dari awal hingga akhir,” tambah Bugi.

Ke depannya, Bugi berharap agar semua warga memiliki peran aktif di Desa Wisata Grogol. “Saya harap ke depannya semua warga dapat berperan di sini. Hal tersebut agar mereka juga dapat menikmati hasilnya bersama-sama,” ungkapnya.

Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id

Terkait


Ini Tiga Syarat Penentu Transisi Pandemi ke Endemi di Indonesia

Sekitar 89.500 Warga Korut Alami Demam, Pemerintah Revisi Kebijakan Antiepidemi

Infografis Korut Dihantam Badai Covid-19

Acara GPDRR 2022, dari Bali untuk Mitigasi Bencana Dunia

Korut Klaim Berhasil Perangi Covid-19

Republika Digital Ecosystem

Kontak Info

Republika Perwakilan DIY, Jawa Tengah & Jawa Timur. Jalan Perahu nomor 4 Kotabaru, Yogyakarta

Phone: +6274566028 (redaksi), +6274544972 (iklan & sirkulasi) , +6274541582 (fax),+628133426333 (layanan pelanggan)

yogya@republika.co.id

Ikuti

× Image
Light Dark