Senin 02 Jan 2017 14:00 WIB

'Pergi Gelap, Pulang Gelap, Rezeki (Pun) Gelap'

Red:

Sinar matahari sangat menyengat siang itu. Beberapa pejabat di Lampung, termasuk Ketua MPR Zulkifli Hasan dan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menceburkan diri dalam kubangan tanah sawah petani. Mereka mencoba beberapa alat mesin pertanian (alsintan) bantauan pemerintah.

"Begitulah, Pak, jadi petani itu susah. Biar bapak-bapak merasakan susahnya jadi petani," ucap Mardi, salah seorang petani di Desa Bhakti Rasa, Kecamatan Sragi, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, Kamis (29/12).

Mardi beserta petani lainnya menyaksikan Zulkifli dan Amran Sulaiman serta pejabat lainnya membawa alsintan penanam padi. Zulkifli terseok 'kalah' dengan Amran yang sudah mencapai garis selesai. Ia terpaksa melepaskan traktor alsintannya. Zulkifli, menggunakan sepatu botnya tak kuasa melangkahkan kakinya di kubangan lumpur sawah. Ia dibantu dua ajudannya agar sampai di tepian sawah.

"Kalau Pak Mentan sudah biasa di sawah. Kalau saya kan tugasnya menyosialisasikan empat pilar kebangsaan," timpal Zulkifli tertawa sembari melangkahkan kakinya di sawah.

Kehadiran dua petinggi negara pada acara musim tanam dan panen gadu di Kabupaten Lampung Selatan memberikan motivasi kepada petani agar bekerja lebih giat setelah tibanya bantuan alsintan. "(Petani) pergi gelap, badan gelap, pulang gelap, dan rezeki (pun) gelap," kata Zulkifli yang juga putra kelahiran Kabupaten Lampung Selatan.

Menurut mantan menteri Kehutanan era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tersebut, sebagai anak petani ia merasakan peluh dan pedihnya nasib petani. Berangkat ke sawah masih gelap, bekerja siang hari kena terik matahari badan menjadi gelap, pulang dari sawah sudah malam. "Tapi hasilnya (produksi padinya) tidak seberapa," ujarnya saat berpidato di depan petani. 

Untuk itu, ia mengatakan, untuk mencapai produktivitas sektor pertanian maka petani perlu memanfaatkan teknologi untuk mengolah lahan pertaniannya. Saat ini, tidak bisa lagi bertani dengan cara konvensional.

"Kalau pertanian kita tidak memanfaatkan teknologi, sulit kita mencapai produktivitas yang tinggi. Jadi, teknologi satu keharusan. Saya selaku masyarakat Lampung Selatan terima kasih pada Pak Menteri (Mentan) membantu alat-alat pertanian," kata Zulkifli.

Dalam acara itu, Mentan Andi Amran Sulaiman membantu alsintan petani di Kecamatan Sragi, di antaranya, 25 traktor tangan, 24 unit pompa air, dan empat unit traktor besar. Mentan juga menjanjikan membantu bibit jagung dan pompa air tahun depan.

 "Kalau seperti kata Pak Ketua, jadi kita ini gelap-gelapan dan gelap gulita," kata Mentan Amran menimpali ujaran Zulkifli dalam sambutannya. "Nah, supaya rexekinya tidak gelap, kami bantu alat dan bibit agar petani lebih giat dan tidak malas-malasan bekerja," tambahnya.

Zulkifli mengatakan, dengan teknologi dalam bertani, satu hektare kalau dulu membutuhkan tenaga 25 orang, sedangkan menggunakan teknologi mesin bisa satu jam. Produktivitasnya berkali-kali. Begitu juga kalau mencangkul satu hektare membutuhkan tenaga 25 orang, kalau memakai traktor bisa satu-dua jam selesai.

"Bantuan menteri, bantu alat tanam, mesin traktor tangan, pompa air, badan agak terang sedikit, rezeki (petani) ikut terang. Jadi, teknologi satu keharusan. Tidak mungkin bertani seperti dulu, sawah tidak bertambah, tapi orangnya bertambah banyak," ujarnya.

Mentan Andi Amran Sulaiman mengatakan, tahun ini Indonesia tidak impor beras lagi, setelah 32 tahun sejak 1984, termasuk Kabupaten Lamsel peningkatan produksinya tinggi.

"Ini adalah termasuk dukungan ketua MPR. Tujuan dari alat pertanian tersebut untuk menekan biaya produksi, misalnya, dua juta, tinggal satu juta. Biasanya, produksi satu hektare enam juta menjadi 12 juta ton," ujarnya.

Menurut dia, sekarang petani nasibnya mulai terang, termasuk hasilnya, kita tidak impor beras, jagung impor dulu 60 persen tertinggi selama 71 tahun, bawang tidak impor lagi malah ekspor. Produksi beras 2016 sudah mencapai 79 juta ton, sedangkan target produksi beras tahun 2017 sebesar 78 juta ton. "Tahun ini sudah melewati target tahun depan," ujarnya.

Mengenai anggaran sektor pertanian, sebelumnya, sekitar Rp 361 miliar. Sejak ia menjadi menteri, naik menjadi Rp 1,4 triliun. Sedangkan, pada 2016 turun menjadi Rp 900 miliar. "Kalau anggaran turun produksi naik, berarti yang mengelola cerdas. Kalau bersandar pada anggaran, ini regulasi dana alokasi umum, jadi ada regulasi yang meningkatkan produksi," ujarnya. Oleh Mursalin Yasland ed: Muhammad Hafil

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement