Jumat 17 May 2013 08:43 WIB

Jangan Terlena Hadapi Komunitas Ekonomi ASEAN

Red: Zaky Al Hamzah
Peta ASEAN
Foto: confluence.furman.edu
Peta ASEAN

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pemerintah dan dunia industri jangan terlena menghadapi komunitas masyarakat ekonomi ASEAN (Asean Economy Community/AEC). Regulator, pelaku, dan konsumen industri nasional harus bekerja sama menghadapi era kebebasan perdagangan ASEAN pada 2015.

“Indonesia jangan asyik dengan kondisi saat ini, padahal AEC sudah dekat,” kata Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan (Kemendag) Indonesia Gunaryo kepada Republika seusai membuka acara program edukasi publik mengenai AEC 2015 di Jakarta, Kamis (16/5).

Menurut Gunaryo, Indonesia memiliki potensi peran besar dalam perdagangan dan industri di AEC. Namun demikian, Indonesia masih dipandang belum maksimal menggalang kerja sama dalam negeri guna menghadapi suasana bisnis baru pada 2015.

AEC, kaat Gunaryo, adalah suatu hal yang tidak dapat dihindari karena Indonesia bersama-sama menetapkan AEC pada 2003 yang kemudian diperkuat pada 2007. AEC akan terjadi kurang dari dua tahun lagi. Karena itulah, berbagai perjuangan serta usaha diperlukan untuk menghadapinya.

Gunaryo menuturkan supaya Indonesia memiliki daya saing dengan negara lain, Indonesia harus melakukan peningkatan kemampuan di bidang perdagangan, barang, maupun jasa. “Jadi, tidak hanya mengandalkan ekspor barang bahan mentah dan tenaga lagi.”

Dengan melihat potensi-potensi yang ada, Indonesia masih punya waktu untuk meningkatkan daya saing kompetensi kualitas dan kuantitas secara maksimal. Menurutnya, Indonesia dapat mengedepankan produksi barang-barang di dalam negeri dan tidak hanya mencukupi kebutuhan nasional, tetapi juga melakukan ekspor. Apalagi, Indonesia memiliki potensi ekspor di minyak sawit mentah (CPO) dan karet. Namun, Indonesia terlihat belum memaksimalkan ekspor merujuk pada fakta ekspor Indonesia di pasar ASEAN saat ini yang baru menyentuh angka 25 persen. Orientasi pasar Indonesia masih terpusat ke Amerika Serikat (AS), Cina, dan Jepang.

Untuk menghadapi AEC, kata Gunaryo, kerja sama dan saling bantu antarunsur sangat diperlukan. Pemerintah, industri, dan konsumen tidak bisa bekerja sendiri-sendiri. Saat ini, pemerintah menggandeng Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dengan harapan sinergi keduanya dapat berperan dalam pasar tunggal.

BUMN akan berperan menghadapi persaingan produsen negara-negara ASEAN lainnya. BUMN juga dapat diandalkan melakukan penetrasi dan ekspansi guna meningkatkan keuntungan dan mendatangkan pendapatan ke negara. Apalagi, sekarang sudah ada BUMN yang mendapat apresiasi negara lain, seperti PT Dirgantara Indonesia (DI) yang pesawatnya sampai diminati oleh Malaysia. Gunaryo menuturkan dengan prestasi tersebut, sebetulnya Indonesia mampu bersaing di AEC.

Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) menilai pemerintah belum melakukan tindakan apa pun untuk menghadapi AEC 2015. Ketua Umum Asmindo Ambar Tjahyono mengatakan di antara negara-negara di Asia Tenggara saat ini, hanya Indonesia yang kebanjiran barang impor. Sebenarnya, perdagangan di antara negara-negara ASEAN sudah bagus dengan tren yang terus meningkat. Apalagi, pasar AS dan Eropa sekarang sedang jatuh akibat krisis. Peluang itu direspons positif oleh negara-negara ASEAN dan Cina untuk memajukan industri dalam negeri mereka dan memaksimalkan ekspor.

“Saya khawatir Indonesia hanya akan dibanjiri barang impor saat AEC terjadi, Indonesia hanya akan menjadi pasar dan bukan pelaku AEC,” ujar Ambar.

Ambar mencontohkan para pelaku usaha mebel dan kerajinan selama ini terus meningkatkan kualitas produknya guna menghadapi AEC. Namun, sayangnya, pemerintah, termasuk Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian, belum melakukan tindakan nyata untuk menghadapi AEC. “Pemerintah hanya berbicara,” tuturnya.

Padahal, kata Ambar, pelaku industri dan perdagangan membutuhkan tindakan nyata dari pemerintah. Pemerintah terkesan lamban merumuskan tindakan yang lebih jelas dan konkret dan terkesan berjalan sendiri.n c62 ed: eh ismail

Berita-berita lain bisa dibaca di harian Republika. Terima kasih.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement