Selasa 03 Jan 2017 17:15 WIB

Bank Syariah Diproyeksikan Bangkit

Red:

JAKARTA -- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) optimistis industri perbankan syariah pada tahun ini akan kembali tumbuh normal setelah terkena imbas perlambatan ekonomi global dan  domestik. Tahun lalu, perbankan syariah melakukan konsolidasi untuk meminimalkan dampak perlambatan ekonomi.

"Perbankan syariah pada 2017 bisa back to normal setelah melalui masa yang tidak mudah, terutama dampak dari penurunan ekonomi yang menghantam beberapa sektor tertentu," kata Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D Hadad dalam konferensi pers tutup tahun, akhir pekan lalu.

Untuk menjaga stabilitas industri perbankan syariah, OJK akan terus melakukan serangkaian pengawasan dan pembinaan secara berkelanjutan. Harapannya supaya industri perbankan syariah bisa tumbuh seperti tahun-tahun sebelumnya.

Berdasarkan data OJK per September 2016, pembiayaan perbankan syariah tumbuh 12,91 persen atau mencapai Rp 235.01 triliun. Pada tahun-tahun sebelumnya, pembiayaan  perbankan syariah selalu tumbuh di atas 20 persen.

Dari sisi dana pihak ketiga, kinerja perbankan syariah cukup menggembirakan karena mengalami peningkatan 20,16 persen menjadi 263,52 triliun.

Adapun non-performing financing (NPF) atau pembiayaan bermasalah berada pada level 3,20 persen per November 2016. "Di tengah kondisi perlambatan ekonomi, level NPF masih terjaga jauh di bawah threshold lima persen," kata Muliaman.

Menurut laporan Ernst & World Islamic Banking Young Competitiveness Report 2014-2015, aset perbankan syariah internasional telah melampaui 778 miliar dolar AS pada 2014. Keuntungan global bank syariah diprediksi meningkat tiga kali lipat pada 2019. Sementara, di enam pasar syariah utama, yakni Uni Emirat Arab, Qatar, Arab Saudi, Indonesia, Malaysia, dan Turki, aset perbankan syariah diperkirakan akan mencapai 1,8 triliun dolar AS pada 2019 mendatang.

Sementara, dalam Islamic Financial Service Industry Stability Report 2016 yang diluncurkan di Kuala Lumpur pada Mei 2016, kinerja industri syariah global memasuki fase konsolidasi sejak 2014 dan pada 2015 pertumbuhan perbankan syariah serta takaful hanya satu digit. Sedangkan, volatilitas pasar modal syariah seperti sukuk, saham  syariah, dan reksa dana syariah meningkat seiring dengan penurunan kinerja korporasi dan sentimen pasar.

Muliaman menuturkan, pemulihan ekonomi global masih berjalan lambat dan diwarnai risiko ketidakpastian. Risiko yang dihadapi berasal dari inflasi negara-negara maju, kecuali Amerika Serikat yang tingkat inflasinya masih jauh dari target seiring permintaan domestik yang masih lemah.

Risiko lainnya yakni pengetatan kebijakan moneter AS yang lebih cepat, perekonomian Cina sebagai lokomotif dunia tumbuh melambat dan munculnya gerakan nasionalisme, khususnya di negara maju yang cenderung lebih protektif.

Sepanjang tahun 2016, Bank Dunia dan Dana Moneter Intenasional (IMF) merevisi ke bawah pertumbuhan ekonomi global. Pemangkasan proyeksi pertumbuhan global juga disertai  penurunan volume perdagangan dunia tahun 2016 yang semakin menegaskan belum solidnya pemulihan ekonomi global.

Pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2017 diproyeksikan sedikit mengalami penurunan dibandingkan proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2016.

Sejalan dengan perlambatan perekonomian global, pertumbuhan ekonomi domestik tahun 2016 menunjukkan pertumbuhan yang cukup baik daripada negara emerging markets  lainnya.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III 2016 tercatat sebesar 5,02 persen, sedikit melambat dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar 5,19 persen. Meski demikian,  pertumbuhan ini masih lebih tinggi dibandingkan kuartal III 2015 sebesar 4,74 persen.

CEO Karim Consulting Adiwarman Karim mengatakan, perbankan syariah pada 2017 diprediksi akan mendapatkan tambahan aset sebesar Rp 33 triliun hingga Rp 40 triliun. Tambahan aset tersebut berasal dari beberapa perubahan yang diproyeksikan terjadi pada tahu ini.

Perubahan tersebut, antara lain, selesainya konsolidasi bank umum syariah (BUS). Selain itu, adanya konversi bank umum konvensional (BUK) menjadi BUS. Adiwarman menambahkan, setelah Bank Aceh melakukan konversi pada Agustus 2016, tahun ini giliran Bank NTB yang akan melakukan konversi.

"Apabila proyeksi ini berhasil maka Bank NTB akan menyumbangkan tambahan aset bagi perbankan syariah di Indonesia hingga Rp 8 triliun," ujar Adiwarman, di Jakarta, belum lama ini. rep: Rizky Jaramaya  ed: Satria Kartika Yudha

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement