Ahad 11 Dec 2011 14:36 WIB

Wa Ode Tersangka, PAN Nilai KPK Tebang Pilih

Rep: Adi Wicaksono/ Red: Djibril Muhammad
Ketua DPP Partai Amanat Nasional (PAN) Bima Arya Sugiarto
Ketua DPP Partai Amanat Nasional (PAN) Bima Arya Sugiarto

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Ketua DPP PAN Bima Arya menilai keputusan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Wa Ode Nurhayati sebagai tersangka sarat dengan nuansa politik. Menurutnya, ada indikasi upaya-upaya dari pihak tertentu untuk menyerang kader PAN tersebut.

"Kader kami ini belum diperiksa, saksi-saksi lain juga belum ada yang dinaikkan statusnya jadi tersangka, Namun tiba-tiba Wa Ode langsung ditetapkan jadi tersangka," katanya di sela Rakernas PAN di PRJ Kemayoran, Jakarta, Ahad (11/12).

Lebih lanjut, Bima menyesalkan putusan KPK yang terkesan terburu-buru tersebut. Berkaca pada penanganan kasus-kasus yang melibatkan politisi dari partai lain, Bima menilai KPK telah melakukan aksi tebang pilih.

"Kita bisa lihat dengan gamblang, banyak politisi dari partai lain bolak-balik diperiksa KPK, tapi sampai sekarang belum ditetapkan sebagai tersangka," tandasnya.

Selain itu, bukti-bukti yang diajukan KPK dalam penetapan status tersangka bagi Wa Ode dinilainya juga belum cukup kuat. Sejauh ini, KPK baru menyodorkan dua bukti, yakni pengakuan seseorang yang mengaku telah memberikan sejumlah dana kepada Wa Ode dan bukti tanda tangan dari sekertaris anggota Badan Anggaran DPR tersebut.

"Pengakuan itu kan harus ditelusuri lagi serta harus disertai bukti transaksi, tapi sampai sekarang KPK belum menyodorkan data apa pun," imbuh Bima.

Seperti diketahui, KPK menetapkan  Wa Ode Nurhayati sebagai tersangka kasus pembahasan anggaran dana Percepatan Pembangunan Infrastruktur Daerah (PPID) tahun 2011. Wa Ode diduga menerima sejumlah uang terkait proyek tersebut.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Yuk Ngaji Hari Ini
يَسْتَفْتُوْنَكَۗ قُلِ اللّٰهُ يُفْتِيْكُمْ فِى الْكَلٰلَةِ ۗاِنِ امْرُؤٌا هَلَكَ لَيْسَ لَهٗ وَلَدٌ وَّلَهٗٓ اُخْتٌ فَلَهَا نِصْفُ مَا تَرَكَۚ وَهُوَ يَرِثُهَآ اِنْ لَّمْ يَكُنْ لَّهَا وَلَدٌ ۚ فَاِنْ كَانَتَا اثْنَتَيْنِ فَلَهُمَا الثُّلُثٰنِ مِمَّا تَرَكَ ۗوَاِنْ كَانُوْٓا اِخْوَةً رِّجَالًا وَّنِسَاۤءً فَلِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْاُنْثَيَيْنِۗ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اَنْ تَضِلُّوْا ۗ وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ ࣖ
Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah, “Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu), jika seseorang mati dan dia tidak mempunyai anak tetapi mempunyai saudara perempuan, maka bagiannya (saudara perempuannya itu) seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mewarisi (seluruh harta saudara perempuan), jika dia tidak mempunyai anak. Tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki-laki dan perempuan, maka bagian seorang saudara laki-laki sama dengan bagian dua saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, agar kamu tidak sesat. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

(QS. An-Nisa' ayat 176)

Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement