Senin 16 Feb 2015 14:27 WIB
Gugatan BG Dikabulkan

Praperadilan BG Dikabulkan, Massa Tinggalkan Istana

Rep: CR02/ Red: Angga Indrawan
Sejumlah personil kepolisian dan massa pendukung Budi Gunawan menggendong personel kepolisian sebagai ungkapan syukur usai sidang praperadilan pemohon Komjen Budi Gunawan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin, (16/2).
Foto: Republika/Agung Supriyanto
Sejumlah personil kepolisian dan massa pendukung Budi Gunawan menggendong personel kepolisian sebagai ungkapan syukur usai sidang praperadilan pemohon Komjen Budi Gunawan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin, (16/2).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Massa Pendukung Komjen Budi Gunawan akhirnya mulai meninggalkan Istana Negara setelah mengetahui gugatan calon Kapolri itu dikabulkan, Senin (16/2).

"Allahu akbar, Alhamdulillah ternyata kebenaran telah terungkap, mari kawan-kawan kita bersyukur atas terkabulnya gugatan pengadilan praperadilan BG," ujar orator aksi di depan Istana Negara, Jakarta, Senin (16/2).

700 demonstran yang hadir dalam unjuk rasa akhirnya satu persatu meninggalkan Istana Negara. Lalu lintas yang sebelumnya tersendat di Jalan Merdeka Utara, kini sudah mulai lengang.

Sebelumnya, massa gabungan dari Koalisi Masyarakat Tolak Kriminalisasi Polri ini ramai-ramai mendatangi Istana Negara. Mereka mencoba untuk merangsek masuk ke dalam istana dan membuat lalu lintas di Jalan Merdeka Utara macet total.

Massa mendesak Presiden Joko Widodo untuk segera melantik BG sebagai Kapolri yang baru. Mereka juga meminta agar Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bersih dari oknum-oknum yang ingin merusak lembaga anti korupsi tersebut.

"Kami mendesak Jokowi untuk segera melantik BG dan menghentikan aksi kriminalisasi terhadap Polri," ujar ketua koordinator Fadly Zein.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Yuk Ngaji Hari Ini
يَسْتَفْتُوْنَكَۗ قُلِ اللّٰهُ يُفْتِيْكُمْ فِى الْكَلٰلَةِ ۗاِنِ امْرُؤٌا هَلَكَ لَيْسَ لَهٗ وَلَدٌ وَّلَهٗٓ اُخْتٌ فَلَهَا نِصْفُ مَا تَرَكَۚ وَهُوَ يَرِثُهَآ اِنْ لَّمْ يَكُنْ لَّهَا وَلَدٌ ۚ فَاِنْ كَانَتَا اثْنَتَيْنِ فَلَهُمَا الثُّلُثٰنِ مِمَّا تَرَكَ ۗوَاِنْ كَانُوْٓا اِخْوَةً رِّجَالًا وَّنِسَاۤءً فَلِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْاُنْثَيَيْنِۗ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اَنْ تَضِلُّوْا ۗ وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ ࣖ
Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah, “Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu), jika seseorang mati dan dia tidak mempunyai anak tetapi mempunyai saudara perempuan, maka bagiannya (saudara perempuannya itu) seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mewarisi (seluruh harta saudara perempuan), jika dia tidak mempunyai anak. Tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki-laki dan perempuan, maka bagian seorang saudara laki-laki sama dengan bagian dua saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, agar kamu tidak sesat. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

(QS. An-Nisa' ayat 176)

Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement