Sunday, 6 Rabiul Awwal 1444 / 02 October 2022

Sunday, 6 Rabiul Awwal 1444 / 02 October 2022

 

6 Rabiul Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Industri Makanan dan Minuman Mulai Kekurangan Gula

Ahad 12 Jun 2016 05:26 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Nur Aini

Ilustrasi pertumbuhan industri makanan dan minuman di Tanah Air.

Ilustrasi pertumbuhan industri makanan dan minuman di Tanah Air.

Foto: Republika/ Wihdan

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Gabungan Pengusaha Industri Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) mengkhawatirkan kekurangan suplai gula rafinasi untuk kebutuhan industri saat Ramadhan dan Lebaran. Sebab, musim giling pada tahun ini mundur sehingga industri rafinasi harus mengerjakan giling untuk gula konsumsi dan di sisi lain tetap memenuhi kontrak terhadap industri makanan dan minuman.

 

"Ini masalahnya kapasitas pabrik, bukan kuota sehingga akan menganggu stok. Saat ini ada 10 industri makanan dan minuman yang sudah S.O.S gula rafinasi, mereka mengkhawatirkan bisa kekurangan sebelum Lebaran," ujar Ketua Umum GAPMMI Adhi Lukman di Jakarta, Ahad (12/6).

Rata-rata kebutuhan gula rafinasi 10 perusahaan tersebut yakni antara 10 ribu ton hingga 70 ribu ton per tahun. Adhi mengatakan, untuk pabrik yang membutuhkan gula rafinasi sebesar 70 ribu ton per tahun, saat ini baru dipenuhi sebanyak 30 ribu ton di kuartal I 2016. Padahal, dalam menghadapi Ramadhan dan Lebaran dibutuhkan jumlah yang besar sehingga semestinya pada kuartal I 2016 bisa dipenuhi 40 ribu ton.

"Ini pelajaran bagi pemerintah agar antisipasinya harus lebih awal, karena memang sekarang stok gula nasional makin menipis. Apalagi musim giling mundur akibat hujan, dan kalau musim hujan maka rendemen tebu akan menjadi rendah," kata Adhi.

Menipisnya suplai gula rafinasi tersebut membuat industri makanan dan minuman kesulitan karena harganya menjadi mahal. Namun, Adhi menegaskan, industri makanan dan minuman tidak menaikkan harga di tingkat konsumen. Apabila akan melakukan perubahan harga di tingkat konsumen, kata dia, membutuhkan proses yang panjang yakni ada pemberitahuan sebulan sebelumnya.

Adhi memprediksi penjualan industri makanan dan minuman pada Ramadhan tahun ini mengalami kenaikan sebesar 30 persen. Hal tersebut terlihat dari meningkatnya permintaan bahan baku industri seperti gula dan garam. Selain itu, pada 2016 ini industri makanan dan minuman tidak menaikkan harga, sedangkan tahun lalu terjadi kenaikan harga antara 10 persen sampai 15 persen.

Adhi mengatakan, pada pekan depan GAPMMI bersama dengan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin Indonesia), dan Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) akan keliling di Pasar Tanah Abang dan Thamrin City untuk memantau harga. Hal ini sangat penting dilakukan sebab, dari pabrik tidak menaikkan harga dan jangan sampai di level distribusi malah naik.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f

 

 

BERITA LAINNYA

 

 

hide ads show ads
desktop mobile