Kamis 17 May 2018 11:03 WIB

Palestina Tarik Dubesnya dari Empat Negara Eropa

Empat negara Eropa ikut merayakan peresmian kedutaan besar AS di Yerusalem.

Rep: Fira Nursya'bani/ Red: Nur Aini
Sebuah tanda di jembatan yang mengarah ke kompleks Kedutaan Besar AS menjelang pembukaan resmi di Yerusalem, Ahad (13/5). Pembukaan Kedutaan Besar AS pada hari ini, Senin (14/5), di Yerusalem yang diperebutkan oleh Israel dan Palestina.
Foto: Foto AP/Ariel Schalit
Sebuah tanda di jembatan yang mengarah ke kompleks Kedutaan Besar AS menjelang pembukaan resmi di Yerusalem, Ahad (13/5). Pembukaan Kedutaan Besar AS pada hari ini, Senin (14/5), di Yerusalem yang diperebutkan oleh Israel dan Palestina.

REPUBLIKA.CO.ID, RAMALLAH -- Otoritas Palestina pada Rabu (16/5) menarik duta besarnya dari empat negara Eropa yang ikut merayakan peresmian Kedutaan Besar AS di Yerusalem. Dubes Palestina untuk Austria, Republik Ceko, Hongaria, dan Rumania dipanggil pulang untuk ditanyai tentang dukungan negara-negara itu terhadap langkah AS.

Haaretz melaporkan, keempat negara itu tetap berpartisipasi dalam acara AS tersebut meskipun Uni Eropa telah mengeluarkan kebijakan menolak relokasi kedutaan AS dari Tel Aviv ke Yerusalem. "Kami sangat menghargai hubungan kami dengan semua negara anggota Uni Eropa. Hubungan tersebut didasarkan pada komitmen terhadap hukum internasional, resolusi PBB, dan Hak Asasi Manusia," kata Dr. Amal Jadou, pejabat Kementerian Luar Negeri Palestina.

"Oleh karena itu, kami menganggap partisipasi dalam acara tersebut bertentangan dengan nilai-nilai itu. Memindahkan kedutaan AS ke Yerusalem bukan hanya tindakan permusuhan terhadap rakyat Palestina saat kami tengah berduka atas 70 tahun Nakba, tetapi juga merupakan pelanggaran hukum internasional, khususnya Resolusi DK PBB 478," ujar Jadou memaparkan.

Pada Selasa (15/5), Presiden Palestina Mahmoud Abbas juga menarik utusan Palestina untuk Washington, Husam Zomlot. Zomlot sudah berada di perjalanan untuk kembali ke wilayah Palestina ketika pernyataan itu keluar, menurut perunding senior Palestina Saeb Erekat.