Sunday, 16 Muharram 1444 / 14 August 2022

Sunday, 16 Muharram 1444 / 14 August 2022

16 Muharram 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Perang Marj Dabiq: Pertempuran Menentukan Utsmaniyah

Senin 13 May 2019 10:47 WIB

Red: Agung Sasongko

Peta kekuasaan Dinasti Mamluk.

Peta kekuasaan Dinasti Mamluk.

Foto: Prezi.com
Di Dabiq, Utsmaniyah menaklukan Mamluk.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di wilayah Dabiq, pada 1516, pasukan dari Dinasti Turki Usmani berperang melawan pasukan Dinasti Mamluk. Pertempuran antara dua kerjaaan Islam yang besar pada abad ke-16 itu bernama "Perang Marj Dabiq". Inilah pertempuran militer yang paling menentukan dalam sejarah Timur Tengah antara Kekhalifahan Turki Usmani alias Ottoman dan Kesultanan Mamluk.

Pertempuran ini terjadi pada 24 Agustus 1515 di Dabiq, 44 km di utara Aleppo (Halab), Suriah. Marj Dabiq berarti 'padang rumput Dabiq'. Sultan Mamluk, pada saat itu, al-Ashraf Wansuh al-Ghawri, menghabiskan musim dingin 1515 hingga musim semi 1516 demi mempersiapkan pasukannya untuk merebut wilayah perbatasan Asia Minor.

Ketika ia sedang mempersiapkan pasukannya, seorang duta yang diperintahkan oleh Sultan Salim I dari Turki Usmani tiba di Mesir. Duta yang dikirim Kesultanan Ottoman itu menyatakan, kerajaan yang berpusat di Turki itu masih bersahabat dengan Kesultanan Mamluk. Sang duta besar juga meminta agar perbatasan untuk perjalanan barang dagangan dan para budak tetap dibuka.

Pada musim panas 1516, al-Ashraf bergerak dari Kairo dengan kekuatan yang besar, sekitar 20 ribu kesatria dan artileri. Dengan kekuatan penuh itulah pasukan yang dipimpin al-Ashraf melakukan perjalanan menuju Suriah. Pemimpin negeri tersebut, Khalifah al-Mutawakkil III, para syekh, anggota istana, muazin, dokter, dan pemusik mengikuti di atas keretanya.

Dalam perjalanan itu, al-Ashraf juga bertemu dengan anak penerus takhta Turki Usmani yang juga keponakan Sultan Salim I, Ahmad. Al-Ashraf mengajaknya untuk turut serta dalam rombongan itu. Meski kedua kerajaan Islam itu bersitegang, penguasa Mamluk tetap memperlakukan Ahmad dengan sopan, dengan harapan dapat mengambil simpati dari kekuatan Turki Usmani.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
hide ads show ads
desktop mobile