Friday, 4 Rabiul Awwal 1444 / 30 September 2022

Friday, 4 Rabiul Awwal 1444 / 30 September 2022

 

4 Rabiul Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Remaja Kesepian Jadi Incaran Kelompok Radikal

Senin 21 Dec 2020 21:37 WIB

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Gita Amanda

Radikalisme(ilustrasi)

Radikalisme(ilustrasi)

Foto: punkway.net
Kepolisian Inggris memperingati agar keluarga memperhatikan remaja yang kesepian

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Kepolisian Inggris memperingati agar keluarga memperhatikan remaja yang kesepian selama pandemi Covid-19. Menurut pihak berwenang, remaja bisa menjadi sasaran empuk untuk direkrut oleh para ekstremis.

 

Unit Rujukan Internet Kontra-Terorisme (CTIRU) mencatat peningkatan dramatis pada konten daring terkait terorisme di Inggris. Laporan jumlah materi kelompok ekstrem sayap kanan naik hingga 43 persen.

Sebanyak 134 konten rujukan yang tercatat pada 2019 kini menjadi 192 (periode 1 Januari sampai 20 November 2020). Begitu pula kenaikan konten yang dicurigai memuat gagasan tentang terorisme sebanyak 3.000 konten.

 

Jumlah itu naik sebesar tujuh persen, jika dibandingkan 2.796 konten yang tercatat pada 2019. Semakin banyak pemuda belasan tahun yang ditangkap karena pelanggaran terorisme, sedangkan jumlah orang dewasa menurun.

Dari Januari hingga September 2019, terdapat 11 remaja yang berusia di bawah 18 tahun ditahan akibat pelanggaran itu. Periode Januari sampai September 2020, jumlahnya meningkat menjadi 17 orang.

Antara 1 Januari 2020 sampai 30 Juni 2020, sekitar 1.500 anak berusia 15 tahun ke bawah teridentifikasi berisiko mengalami radikalisasi. Inspektur Kevin Southworth, Kepala Detektif CTIRU, mengatakan itu adalah konsekuensi tak terduga dari pandemi.

Akibat krisis kesehatan, sebagian besar kaum muda menghabiskan banyak waktu di rumah dan mengakses dunia maya. Sebagian yang tidak memiliki dasar pengetahuan yang kuat rawan menjadi korban radikalisasi.

"Mungkin dalam beberapa kasus, mereka hanya memiliki lebih sedikit orang untuk diajak bicara. Mungkin mereka menggunakan media sosial karena terjebak saat isolasi mandiri dan kekurangan kawan," kata Southworth.

CTIRU merilis blog yang memperingatkan orang tua untuk mendampingi anak saat mengakses internet. Remaja yang tidak banyak kontak dengan orang lain dan punya kerentanan mendasar ditengarai memiliki kemungkinan tertarik pada materi ekstrem, dikutip dari laman Belfast Telegraph.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f

 

 

BERITA LAINNYA

 

 

hide ads show ads
desktop mobile