Monday, 2 Jumadil Awwal 1443 / 06 December 2021

Monday, 2 Jumadil Awwal 1443 / 06 December 2021

Pengidap Long Covid Berisiko Sakit Ginjal, Kenali Gejalanya

Rabu 08 Sep 2021 17:18 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Reiny Dwinanda

Pengidap long Covid berisiko mengalami sakit ginjal.

Pengidap long Covid berisiko mengalami sakit ginjal.

Foto: Republika.co.id
Studi mengungkap pengidap long Covid berisiko alami sakit ginjal.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Sebuah studi terbaru mengungkap pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit, bahkan mereka yang bergejala ringan, ternyata cenderung mengalami kerusakan ginjal. Bahkan, ada yang sampai memasuki penyakit ginjal stadium akhir atau end-stage kidney disease (ESKD).

Secara khusus, saat orang mengalami infeksi pernapasan akibat Covid-19, biasa virusnya juga menyerang organ vital lain di tubuh, berikut fungsinya. Tim peneliti di Veterans Affairs St. Louis Health Care System dan Washington University, Amerika Serikat (AS) menganalisis data kesehatan untuk mengukur risiko disfungsi ginjal dan penyakit ginjal, salah satu penyebab utama kematian di Negeri Paman Sam.

Karena penyakit ginjal cenderung tidak menunjukkan gejala, National Kidney Foundation memperkirakan bahwa 90 persen dari 37 juta orang Amerika yang mengidapnya tidak menyadari kondisinya. Sanjeev Gulati, dokter yang juga menjadi ahli nefrologi dan transplantasi ginjal di Rumah Sakit Fortis, India mengatakan bahwa penyakit ginjal dapat terjadi tanpa gejala, namun secara bersamaan 80 persen dari seluruh fungsi organ ini sudah hilang.

Menurut penelitian, Covid-19 dikaitkan dengan peningkatan risiko gejala sisa pascainfeksi akut yang melibatkan sistem organ paru dan ekstraparu, atau dikenal sebagai long Covid. Namun, penilaian rinci hasil ginjal dalam pasien yang mengalami masalah ini belum tersedia, menyebutkan studi yang dilakukan dari 1 Maret 2020 hingga 15 Maret 2021 terhadap 1.726.683 orang, termasuk di antaranya 89.216 penyintas.

“Orang-orang yang dirawat di rumah sakit karena Covid-19 atau membutuhkan perawatan di unit intensif berada pada risiko tertinggi,” ujar penulis senior studi, Ziyad Al-Aly, dalam siaran pers Universitas Washington, dilansir India Today, Rabu (8/9).

Akan tetapi, Al-Aly mengatakan bahwa risikonya tidak nol bagi pasien Covid-19 yang memiliki kasus yang lebih ringan. Faktanya, risiko ini signifikan dan perlu diingat bahwa belum diketahui mengenai implikasi kesehatan secara menyeluruh.

Baca juga : Kemenkes Awasi Munculnya Varian Baru Covid-19

Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
 
 
hide ads show ads
desktop mobile