Tuesday, 5 Jumadil Awwal 1444 / 29 November 2022

Tuesday, 5 Jumadil Awwal 1444 / 29 November 2022

5 Jumadil Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Bahaya Menatap Meteor Jatuh Saat Menuju Bumi

Jumat 26 Nov 2021 13:06 WIB

Rep: Meiliza Laveda/ Red: Dwi Murdaningsih

Pemandangan meteor jatuh ke Bumi (ilustrasi).

Pemandangan meteor jatuh ke Bumi (ilustrasi).

Foto: Reuters
Kadang, cahaya pada meteor sangat terang hingga bisa merusak mata.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Astronom Swinburne dan Direktur Institut Teknologi dan Industri Luar Angkasa Profesor Alan Duffy mengatakan bahaya jika manusia mencoba menatap asteroid atau meteor saat menuju Bumi. Dia merekomendasikan untuk tidak melakukan itu.

“Saran terbaik saya jangan menatap asteroid walaupun itu sulit dilakukan karena ada kecerahan dari benda-benda yang terbakar di atmosfer,” kata Duffy dalam podcast I’ve Got News For You.

Baca Juga

Jika manusia menatap asteroid yang sangat cerah ini, akan menyebabkan kerusakan di retina. Itu yang terjadi pada orang-orang di Chelyabinsk, Rusia.

Batu ruang angkasa besar terakhir yang masuk ke Bumi adalah Meteor Chelyabinsk yang terbakar di atas Rusia pada Februari 2013. Cahaya dari meteor itu sedikit lebih terang dari matahari dan terlihat hingga 100 kilometer.

Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika (NASA) kini telah memulai misi yang dapat mencegah situasi serupa seperti di Chelyabinsk. NASA akan menembakkan rudal bermuatan bahan peledak ke asteroid besar untuk melihat apakah mereka dapat menjatuhkannya.

Dilansir News.com.au, Jumat (26/11), misi Double Asteroid Redirection Test (DART) NASA menembakkan roket SpaceX pada 24 November dengan rudal yang diperkirakan akan menghantam Dimorphos pada September 2022. Namun, Duffy mengatakan seharusnya tidak ada kekhawatiran besar tentang batu luar angkasa raksasa yang menabrak Bumi.

"Asteroid adalah masalah, seperti ukuran milik Dimorphos sekitar 160 meter. Itu dikenal sebagai pembunuh kota yang pada dasarnya bisa menghancurkan seluruh wilayah metropolitan. Hal-hal itu akan menghantam bumi sekitar sekali setiap 1.000 atau 2.000 tahun. Jadi, ini bukan peristiwa yang sangat langka menurut standar geologi, tetapi mungkin bukan sesuatu yang akan kita khawatirkan,” tambahnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
hide ads show ads
desktop mobile