Friday, 19 Syawwal 1443 / 20 May 2022

Friday, 19 Syawwal 1443 / 20 May 2022

Saat Pakistan Tolak Ilmuwan non-Muslim

Ahad 16 Jan 2022 21:42 WIB

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Muhammad Hafil

Saat Pakistan Tolak Ilmuwan non-Muslim. Foto: Bendera Pakistan.

Saat Pakistan Tolak Ilmuwan non-Muslim. Foto: Bendera Pakistan.

Foto: EPA
Pakistan sempat tak mengakui ilmuan non-Muslim.

REPUBLIKA.CO.ID,ISLAMABAD -- Pervez Hoodbhoy, seorang fisikawan dan penulis yang tinggal di Islamabad, menuliskan kerugian yang dialami Pakistan karena menolak mengakui kehadiran ilmuwan non-Muslim.

Sebuah artikel DAWN yang mengulas tentang Har Gobind Khorana (1922-2011) membawanya kembali ke 50 tahun yang lalu. Kala itu, bersama dengan 600 mahasiswa lainnya, ia memadati ruang kuliah terbesar MIT 26-100 untuk mendengarnya berbicara.

Baca Juga

Karena tidak mengerti dasar-dasar biologi molekuler, ia memutuskan hanya bertahan setengah jalan. Keingintahuan telah mendorong ia menuju ruangan itu, mengingat profesor MIT yang terkenal ini telah memenangkan Hadiah Nobel 1968 dan memulai bidang baru. Lebih menarik lagi, dia adalah seorang warga Lahore dengan gelar sarjana dan master dari Universitas Punjab.

Lahore disebut tidak tahu, atau bahkan tidak peduli, terkait pria ini. Hal yang sama juga berlaku untuk Subrahmanyan Chandrasekhar (1910-1995), yang menjadi Pemenang Nobel sebagai pengakuan atas karya definitifnya tentang kematian bintang.

Saat ini satelit NASA bernama Chandra menjelajahi langit untuk mencari bintang neutron, lubang hitam, dan objek astronomi tidak biasa lainnya.

Adapun kisah Abdus Salam (1926-1996) terlalu terkenal untuk diulang di sini. Ia merupakan pemenang Nobel fisika 1979, yang belajar di Government College (GC) Lahore dan mengajar di Universitas Punjab. Namun, tidak ada jalan atau landmark di Lahore yang menyandang nama Salam, Khorana, atau Chandrasekhar.

Dilansir di DAWN, Sabtu (15/1), ada sebuah lembaga afiliasi GC bernama Sekolah Studi Matematika Abdus Salam. Namun, untuk menampilkan namanya di papan nama bisa berbahaya, terlebih di kota yang sering dicengkeram oleh semangat keagamaan.

Di GC, ada dua ahli matematika dalam teori bilangan. Salah satunya adalah Sarvadaman Chowla, seorang ahli matematika ulung yang mengepalai departemen matematika dari tahun 1937 hingga 1947.

Menjadi seorang Hindu, ia meninggalkan Lahore setelah kerusuhan dimulai dan pergi ke Universitas Princeton, kemudian Universitas Colorado di Boulder, dan akhirnya menjadi profesor di Universitas Pennsylvania. Dia meninggal pada 1995 dan dirayakan sebagai ahli teori bilangan terkenal oleh American Mathematical Society dengan beberapa teorema penting atas namanya.

Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
hide ads show ads
desktop mobile