Diva Pop Aryana Sayeed Berhasil Keluar dari Afghanistan

Aryana Sayeed merupakan juri di ajang kompetisi menyanyi di Afghanistan.

Instagram
Penyanyi asal Afghanistan Aryana Sayeed telah meninggalkan Tanah Airnya. Ia kembali ke tempat tinggal permanennya di Turki.
Rep: Gumanti Awaliyah Red: Reiny Dwinanda

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penyanyi pop Aryana Sayeed telah mengonfirmasi pelariannya dari Afghanistan yang kini dikuasai Taliban. Sayeed mengatakan bahwa dia berhasil lolos dengan menumpang jet kargo AS pada Rabu.

Penyanyi yang baru-baru ini menjadi juri di ajang kompetisi menyanyi Afghanistan itu termasuk sedikit orang yang beruntung. Apalagi, banyak ekspatriat dari berbagai negara yang masih berjuang untuk menemukan penerbangan ke luar negeri.

"Saya masih hidup dan baik-baik saja, setelah melewati beberapa malam yang tak terlupakan. Saya sekarang telah sampai di Doha, Qatar, dan sedang menunggu penerbangan pulang ke Istanbul," kata Sayeed.

Dari Doha, Sayeed akan melanjutkan penerbangan ke Turki. Dia menetap di sana bersama suaminya Hasib Sayed, seorang produser musik Afghanistan. Kepada 1,3 juta pengikut di Instagram, Sayeed juga mengatakan bahwa dirinya masih terkejut dan tidak percaya dengan gejolak yang saat ini terjadi di Afganistan.

"Setelah sampai di rumah dan pikiran serta emosi saya kembali stabil, saya punya banyak cerita untuk dibagikan kepada kalian semua," kata Sayeed, seperti dilansir New York Post, Jumat (20/8).

Selama hidup, Sayeed termasuk orang yang vokal memerangi Taliban. Di sisi lain, masih banyak perempuan Afghanistan yang tidak seberuntung Sayeed. Misalnya, Gubernur distrik Hazara, Salima Mazari, yang telah ditangkap oleh Taliban pada Rabu.

Baca Juga


Baca juga : Taliban Ketuki Satu per Satu Rumah Warga, Ini yang Dilakukan

Sejak 2019, Mazari diketahui getol merekrut dan melatih militan untuk melawan Taliban. Keluarga Mazari adalah Muslim Syiah, sedangkan Taliban adalah Sunni.


Sementara itu, seorang juru bicara Taliban, Waheedullah Hashimi, mengatakan bahwa ulama mereka akan memutuskan apakah anak perempuan diizinkan bisa pergi ke sekolah atau tidak.

"Ulama kami juga akan memutuskan apakah mereka harus mengenakan jilbab, burqa, atau hanya kerudung plus abaya atau semacamnya. Itu terserah mereka. Tidak akan ada sistem demokrasi sama sekali, karena itu tidak memiliki tempat di negara kami," kata juru bicara tersebut.

Sementara itu, korban kekejaman Taliban, Malala Yousafzai, mengatakan bahwa Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden harus melakukan banyak hal dan mengambil langkah berani untuk melindungi rakyat Afghanistan. Dia juga meminta pemimpin dunia terutama AS dan Inggris agar bertindak melindungi warga sipil dan pengungsi di Afghanistan, menyusul dengan cepatnya Taliban menguasai negara tersebut.

"Negara-negara perlu membuka perbatasan mereka untuk pengungsi Afghanistan," ujarnya dalam wawancara dengan Newsnight BBC Two, Senin (16/8) waktu setempat.

Malala yang kini berusia 24 tahun menjadi sasaran Taliban saat masih berusia 15 tahun karena membela hak anak perempuan memperoleh pendidikan. Dia selamat dari serangan ketika milisi Taliban menembaknya di bus sekolah di barat laut Swat.

Setelah pulih dari cederanya yang hampir fatal, Malala dan keluarganya pindah ke Birmingham. Berusia 17 tahun, ia kemudian menjadi perempuan termuda yang memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian. Dia belajar di University of Oxford, dan telah menjadi juru kampanye hak asasi manusia terkemuka.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Berita Terpopuler