Cegah Terulangnya Insiden The 1975, Malaysia Terapkan Kill Switch di Konser Coldplay
Personel The 1975 melakukan ciuman sesama jenis di panggung konsernya di Malaysia.
REPUBLIKA.CO.ID, KUALA LUMPUR -- Kementerian Komunikasi dan Digital (KKD) Malaysia memastikan bahwa band asal Inggris, Coldplay, akan tetap menggelar konser di Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur, Rabu (22/11/2023) malam. Akan tetapi, konser akan dihentikan jika melanggar aturan.
Mufti Wilayah Persekutuan sempat menyerukan pembatalan konser itu untuk menghormati krisis kemanusiaan yang terjadi di Gaza, Palestina. Dalam pernyataannya, KKD mengatakan Panitia Permohonan Pembuatan Film Asing dan Pertunjukan Artis Asing (JK-PUSPAL) pada 13 Oktober 2023 menyetujui rencana konser Coldplay
"Music of the Spheres World Tour".
"Penyelenggara konser itu telah memberikan jaminan bahwa Coldplay juga akan mematuhi hal-hal yang tertuang dalam Pedoman PUSPAL (GPP) serta peraturan dan hukum yang berlaku di Malaysia," kata KKD.
KKD menyebut seruan pembatalan oleh mufti setempat hanya pendapat, bukan fatwa. Konser Coldplay pun mendapat lampu hijau untuk digelar pada Rabu pukul 20.30 waktu setempat.
Sejalan dengan itu, Menteri Komunikasi dan Digital Malaysia Fahmi Fadzil mengatakan sistem kill switch akan digunakan selama konser berlangsung. Kebijakan ini sesuai kesepakatan dengan PUSPAL dan penyelenggara.
Sistem itu berfungsi untuk menghentikan gelaran konser secara tiba-tiba jika dianggap melanggar garis panduan yang telah ditetapkan. Pemerintah Malaysia menggunakan kill switch untuk mengantisipasi terulangnya insiden ketika pentas band pop-rock The 1975 pada Juli lalu.
Ketika itu, personel The 1975, vokalis Matty Healy, mencium basis Ross MacDonald di atas panggung. Healy juga membuat pernyataan yang menentang, melanggar, serta meremehkan UU anti-LGBT di Malaysia.