AS Sukses 'Nginjek' Kiev, Dapat Mineral Berharga Ukraina, Kini Perang Dapat Berlanjut?

Trump sebut tanpa bantuan AS, perang Ukraina lawan Rusia akan berjalan singkat.

AP Photo/Evan Vucci
Presiden Donald Trump
Red: Teguh Firmansyah

REPUBLIKA.CO.ID, KIEV -- Tekanan Amerika Serikat terhadap Ukraina sepertinya telah menunjukkan hasil. Ukraina kini telah menyetujui persyaratan kesepakatan mineral utama dengan AS.

Baca Juga


Dengan persetujuan AS diyakini dapat mengeksploitasi sumber daya mineral Ukraina. Sebagai imbalan, Paman Sam memberi sinyal 'dukungan' kembali ke Ukraina dalam perang melawan Rusia. 

"Kami memang telah menyetujuinya dengan sejumlah amandemen yang baik dan melihatnya sebagai hasil positif," kata pejabat itu, tanpa memberikan perincian lebih lanjut seperti dilansir BBC. 

Laporan media mengatakan Washington telah membatalkan tuntutan awal untuk hak atas potensi pendapatan sebesar 500 miliar dolar AS (£395 miliar) dari pemanfaatan sumber daya alam. Kendati demikian, AS diyakini tetap dapat hak atas pengolahan sumber mineral Ukraina melalui persetujuan ini.  Belum diketahui berapa nilai eksploitasi dan bahan mineral yang akan diberikan ke AS.

Presiden AS Donald Trump berharap mitranya dari Ukraina Volodymyr Zelensky dapat menandatangani kesepakatan pekan ini di Washington. Pernyataan itu disampaikan Trump setelah kedua pemimpin saling serang komentar  satu sama lain.

Tanpa mengonfirmasi bahwa kesepakatan telah tercapai, Trump mengatakan pada Selasa (25/2/2025) bahwa sebagai imbalan atas kesepakatan tersebut, Ukraina akan mendapatkan 'hak untuk terus berjuang'. "Mereka sangat berani," katanya kepada wartawan.

Tetapi, kata Trump,  tanpa Amerika Serikat dan uang serta peralatan militernya, perang ini akan berakhir dalam waktu yang sangat singkat. Ukraina bisa kalah dengan cepat. 

Ketika ditanya apakah pasokan peralatan dan amunisi AS ke Ukraina akan terus berlanjut? Trump mengatakan, mungkin pengiriman itu akan dilanjutkan sampai AS mencapai kesepakatan dengan Rusia. "Kita perlu mencapai kesepakatan, jika tidak, ini akan terus berlanjut."

 

Pekan lalu, Trump menggambarkan Zelensky sebagai 'diktator', dan tampaknya menyalahkan Ukraina - bukan Rusia - karena memulai perang, setelah pemimpin Ukraina menolak tuntutan AS atas kekayaan mineral senilai 500 miliar dolar AS.

Trump mendorong akses ke mineral Ukraina sebagai imbalan atas bantuan militer dan bantuan lainnya ke negara itu sejak Moskow melancarkan invasi besar-besaran tiga tahun lalu.

Namun Zelensky berpendapat bahwa bantuan Amerika tidak sebanyak itu. "Saya tidak bisa menjual negara kita," katanya menekankan. 

Pada Selasa, Trump mengatakan AS telah memberi Ukraina antara 300 miliar dan 350 miliar dolar AS.

"Kami ingin mendapatkan uang itu kembali," katanya. "Kami membantu negara melewati masalah yang sangat sangat besar... tetapi pembayar pajak Amerika sekarang akan mendapatkan kembali uang mereka."

Wakil Perdana Menteri Ukraina Olha Stefanishyna mengatakan kepada Financial Times - yang pertama kali melaporkan kesepakatan mineral pada Selasa - bahwa kesepakatan itu hanya sebagian dari gambaran besar.

"Kami telah mendengar berkali-kali dari pemerintah AS bahwa ini adalah bagian dari gambaran yang lebih besar," kata Stefanishyna, yang memimpin negosiasi tersebut.

Menurut sumber-sumber Ukraina, AS harus menarik diri dari beberapa tuntutannya yang lebih berat dari negara yang dilanda perang tersebut dan banyak rincian perjanjian ini akan memerlukan negosiasi lebih lanjut.

Namun, aturan main sudah ditetapkan. Bantuan AS di era Trump akan disertai dengan syarat-syarat tertentu. Bantuan demi bantuan – baik yang diberikan untuk alasan kemanusiaan maupun strategis – adalah sesuatu dari masa lalu.

Ukraina hanyalah permulaan. Trump dan tim kebijakan luar negerinya diharapkan akan menerapkan prinsip-prinsip 'America First' mereka di seluruh dunia selama empat tahun ke depan.

Situs berita Ukraina Ukrainska Pravda melaporkan bahwa kesepakatan mineral tersebut akan ditandatangani oleh Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha dan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio.

Ukraina memiliki simpanan besar unsur-unsur dan mineral penting, termasuk litium dan titanium, serta simpanan batu bara, gas, minyak, dan uranium yang cukup besar - persediaan yang bernilai miliaran dolar.

Pada Selasa, Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan bahwa ia terbuka untuk menawarkan akses kepada AS ke mineral-mineral langka, termasuk dari wilayah-wilayah Ukraina yang diduduki Rusia.

Ukraina dan sekutu-sekutunya di Eropa semakin khawatir atas mencairnya hubungan AS-Rusia baru-baru ini, termasuk pembicaraan bilateral mereka di Arab Saudi minggu lalu.

Ada kekhawatiran di Kiev dan di seluruh Eropa bahwa mereka mungkin dikecualikan dari negosiasi apa pun yang bertujuan untuk mengakhiri perang, dan bahwa keamanan masa depan benua itu secara keseluruhan dapat diputuskan di belakang mereka.

Mineral apa saja yang sebenarnya dimiliki Ukraina?

Diperkirakan sekitar 5% dari 'bahan baku penting' dunia berada di Ukraina - termasuk 19 juta ton cadangan grafit yang digunakan untuk membuat baterai kendaraan listrik. Sepertiga dari semua endapan litium Eropa, komponen utama dalam baterai saat ini.

Sebelum invasi skala penuh Rusia dimulai tiga tahun lalu, Ukraina juga memproduksi 7% titanium dunia, yang digunakan dalam konstruksi untuk segala hal mulai dari pesawat terbang hingga pembangkit listrik.

Tanah Ukraina juga mengandung endapan logam tanah jarang yang signifikan, sekelompok 17 unsur yang digunakan untuk memproduksi senjata, turbin angin, elektronik, dan produk lain yang penting di dunia modern

Beberapa endapan mineral telah disita oleh Rusia. Menurut Yulia Svyrydenko, menteri ekonomi Ukraina, sumber daya senilai $350 miliar masih berada di wilayah yang diduduki Rusia saat ini.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Berita Terpopuler