Iran Ultimatum Bikin Bom Nuklir Jika AS Menyerang

Iran juga mengancam serang 50 ribu tentara AS di regional.

EPA-EFE/ABEDIN TAHERKENAREH
Warga Iran melewati papan iklan besar anti-Israel yang memuat gambar rudal Iran di Teheran.
Rep: Fitriyan Zamzami/Andri Saubani Red: Fitriyan Zamzami

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN –  Ali Larijani, penasihat senior Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei menyatakan negaranya tidak punya pilihan selain membuat senjata nuklir jika diserang oleh Amerika Serikat atau sekutunya. Hal ini disampaikan seturut perkiraan jenderal AS bahwa Iran mampu membuat senjata nuklir dalam waktu sepekan mendatang.

Baca Juga


“Kami tidak bergerak ke arah senjata (nuklir), namun jika Anda membuat kesalahan dalam masalah nuklir, Anda akan memaksa Iran untuk melakukan hal tersebut karena mereka harus mempertahankan diri,” kata Ali Larijani kepada TV pemerintah dilansir Anadolu. “Iran tidak ingin melakukan ini, tapi ketika Anda memberikan tekanan…(Iran) tidak punya pilihan,” tambahnya.

Larijani mengatakan AS akan memaksa Iran mengambil keputusan “berbeda” jika memilih untuk mengebom Iran sendiri atau melalui Israel. “Iran tidak ingin mengambil jalan ini, tetapi ketika Anda memberikan tekanan, Iran akan menemukan pembenaran sekunder dan tidak punya pilihan lain. Rakyat akan mendorongnya (kepemilikan senjata nuklir), dengan alasan bahwa hal itu perlu demi keamanan negara,” tambahnya.

Pernyataannya muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengancam Iran pada hari Ahad dengan pemboman yang belum pernah terjadi sebelumnya jika Iran tidak setuju untuk terlibat dengan Washington dalam negosiasi mengenai program nuklirnya. Ini merupakan peringatan paling eksplisit mengenai tindakan militer sejak ia mulai menjabat pada bulan Januari.

"Jika mereka tidak membuat kesepakatan, akan terjadi pengeboman. Ini akan menjadi pengeboman yang belum pernah mereka lihat sebelumnya," kata Trump saat wawancara dengan NBC News.

Meskipun komentar Trump tajam, tidak jelas apakah ia mengancam akan melakukan pemboman AS atau melakukan operasi yang dikoordinasikan dengan negara lain, yang kemungkinan merupakan musuh Iran, Israel.


Dalam tanggapan pertamanya terhadap Trump, Khamenei memperingatkan bahwa setiap “agresi eksternal” akan ditanggapi dengan “pembalasan yang tegas.” “Mereka mengancam akan melakukan kejahatan,” kata Khamenei mengenai pernyataannya saat berpidato pada hari raya yang menandai berakhirnya bulan puasa Ramadhan. "Jika itu dilakukan, mereka pasti akan menerima serangan balik yang kuat."

Pesan tersebut dikirim ke Dewan Keamanan PBB melalui surat Duta Besar Iran untuk PBB Amir Saeid Iravani yang mengutuk apa yang disebutnya sebagai "provokasi penghasutan". Iran "akan merespons dengan cepat dan tegas setiap tindakan agresi atau serangan yang dilakukan Amerika Serikat atau wakilnya, rezim Israel", tambah utusan itu.

Kementerian luar negeri Iran memanggil kuasa usaha kedutaan Swiss, yang mewakili kepentingan AS di Iran menyusul ancaman dari presiden AS kata sebuah pernyataan kementerian. “Amerika memiliki setidaknya 10 pangkalan di wilayah sekitar Iran, dan mereka memiliki 50.000 tentara,” Jenderal Amirali Hajizadeh, komandan senior Korps Garda Revolusi Islam Iran memperingatkan.

“Seseorang yang berada di ruang kaca tidak boleh melempari siapa pun dengan batu,” ancam orang yang bertanggung jawab atas program rudal balistik Iran di televisi pemerintah, Senin.

Sejak menjabat pada bulan Januari, Trump telah menerapkan kembali kebijakan “tekanan maksimum”, yang pada masa jabatan pertamanya membuat Amerika Serikat menarik diri dari perjanjian penting mengenai program nuklir Iran dan menerapkan kembali sanksi terhadap Teheran.

Kepala Komando Strategis Amerika Serikat (AS) Jenderal Anthony Cotton mengatakan, bahwa Iran telah berhasil mengurangi waktu proses pembuatan uranium menjadi satu bom nuklir dari sebelumnya 10-15 hari menjadi kurang dari sepekan. Hal itu diungkapkan oleh Cotton dalam rapat dengar pendapat dengan Senat AS pada Rabu pekan lalu dikutip Ynet.

"Republik Islam Iran terus mengembangkan program nuklirnya dengan meningkatkan stok uranium dan membangun (mesin) sentrifugasi tambahan," kata Cotton dalam keterangan tertulisnya.

"Teheran telah mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi uranium level-bom menjadi sebuah senjata nuklir," kata Cotton, menambahkan.

Cotton juga mengingatkan bahwa, Iran adalah negara dengan stok terbesar dalam jumlah rudal balistik di kawasan Timur Tengah, yang sebagian telah digunakan saat menyerang Israel pada 1 Oktober 2024 lalu. Menurut Cotton, Iran juga mempercepat pengadaan senjata canggih untuk kelompok proxy mereka di Timur Tengah.

Seorang pria Iran berjalan melewati spanduk anti-Israel yang memuat gambar rudal Iran, di Teheran, Iran, 16 April 2024. - (EPA-EFE/ABEDIN TAHERKENAREH)

Sehari sebelum pernyataan Cotton, komunitas intelijen di AS pada Selasa (25/3/2025), menyatakan bahwa Iran saat ini tidak sedang memproduksi bom nuklir. Meskipun, menurut laporan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) sebelumnya, Teheran secara cepat menaikkan kadar pengayaan uraniumnya.

"Kami terus mengasesmen Iran tidak sedang membangun sebuah senjata nuklir," demikian laporan komunitas intelijen AS.

Laporan komunitas intelijen AS yang dirilis setebal 21 halaman merepresentasikan gabungan pandangan dari 18 agen intelijen di AS, termasuk CIA, Pentagon, hingga NSA yang memonitor sistem komunikasi dan NRO yang mengoperasikan satelit pengintai AS.

Laporan komunitas intelijen AS dirilis saat Iran mengungkap infrastruktur militer bawah tanahnya yang dianggap sebagian analis dibangun untuk melindungi fasilitas nuklir dari serangan udara. Dalam rekaman video yang dirilis media Iran, Komandan Angkatan Bersenjata Iran Mayor Jenderal Mohammad Hossein Bagheri tampak melakukan tur bersama komandan angkatan laut, di situs bawah tanah yang dinamai 'kota misil'.

senjata mematikan Iran. - (national interest sputnik)

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Berita Terpopuler