Iran Dilaporkan akan Serang Lebih Dulu Pangkalan Militer AS di Pulau Diego Garcia
British Telegraph mengutip sumber seorang pejabat senior Iran.
REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Militer Iran dilaporkan akan melancarkan serangan lebih dulu ke pulau Diego Garcia, pulau di Samudera Hindia . Langkah Iran itu, seperti dilaporkan British Telegraph dilansir Ynet, sebagai upaya untuk mencegah Presiden Donald Trump menggunakan pulau yang selama ini menjadi pangkalan militer AS.
British Telegraph mengutip sumber seorang pejabat senior Iran yang mengatakan, bahwa para komandan militer telah diminta bersiap jika ancaman Trump terhadap Iran menjadi semakin serius. "Diskusi tentang pulau itu meningkat sejak Amerika menempatkan pesawat-pesawat pengebom di sana," kata pejabat itu.
"Respons atas ancaman Trump harus melalui aksi, buka kata-kata. Semua pangkalan (AS) dalam jangkauan misil-misil kami."
Pejabat Iran itu mengatakan, misil-misil siap menghantam target apa pun yang mengancam di sekitar kawasan, termasuk yang ada di Bahrain atau Diego Garcia.
"Para komandan telah diinstruksikan untuk memastikan bahwa peluncur misil disiapkan dan fasilitas nuklir dilindungi. Mereka bersiap untuk perang total, dengan semua persiapan di momen Trump memutuskan untuk menyerang."
Berdasarkan citra foto satelit yang dirilis pekan lalu menunjukkan, setidaknya pesawat pembom B-2 Spirit milik AS telah tiba di pangkalan Diego Garcia, bersama dengan pesawat-pesawat pengisi bahan bakar. Pesawat-pesawat itu diketahui memiliki kemampuan untuk menghindari sistem pertahanan udara musuh sambil melancarkan serangan bom mematikan.
Adapun Diego Garcia adalah sebuah pulau di Kepulauan Chagos, wilayah yang selama ini dimiliki oleh Inggris. Perdana Menteri Inggris Keir Starmer sebelumnya telah mengekspresikan mengembalikan pulau itu ke Mauritius.
Pada Senin (31/3/2025) penasihat Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, Ali Larijani mengatakan, bahwa Iran tidak memiliki pilihan selain membuat bom nuklir jika diserang oleh AS dan sekutunya. Langkah itu, kata Larijani, sebagai upaya mempertahankan kedaulatan negara.
"Kami tidak sedang membuat senjata (nuklir), tapi jika Anda membuat sebuah kesalahan terkait masalah nuklir, Anda memaksa Iran untuk membuatnya untuk mempertahankan diri," kata Ali Larijani kepada stasiun television negara dikutip Anadolu.
"Iran tidak ingin melakukan ini (membuat bom nuklir), tapi ketika Anda menerapkan tekanan... (kami) tidak punya pilihan," kata Larijani menambahkan.
Pernyataan Ali Larijani dilontarkan setelah Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ancaman akan mengebom Iran secara besar-besaran jika negara itu menolak terlibat dalam perundingan nuklir dengan Amerika Serikat. Pernyataan itu menjadi ancaman Trump paling keras terhadap Iran sejak dia menjadi Presiden AS Januari lalu.
Presiden AS Donald Trump akhirnya mengeluarkan ancaman akan mengebom Iran secara besar-besaran jika negara itu menolak terlibat dalam perundingan nuklir dengan Amerika Serikat. Pernyataan itu menjadi ancaman Trump paling keras terhadap Iran sejak dia menjadi Presiden AS Januari lalu.
"Jika tidak ada kesepakatan, akan terjadi pengeboman. Pengeboman, yang belum pernah mereka alami sebelumnya, akan terjadi," kata dia dalam wawancara bersama NBC News pada Ahad (30/3/2025).
Dalam sebuah unggahan di X pada Senin (31/3), juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei mengecam komentar Trump sebagai "penghinaan yang mengejutkan" terhadap perdamaian dan keamanan internasional.
"Ancaman terbuka 'pengeboman' oleh Kepala Negara terhadap Iran ... melanggar Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan mengkhianati Pengamanan di bawah IAEA. Kekerasan melahirkan kekerasan, perdamaian melahirkan perdamaian. AS dapat memilih jalannya... dan [menghadapi] konsekuensi," tulis Baqaei.