Ahad 05 Apr 2015 14:08 WIB

Cenderamata Wisata Indonesia

Asma Nadia
Foto: Republika/Daan
Asma Nadia

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh : Asma Nadia

Selain sebagai penulis, orang mengenal saya dengan julukan Jilbab Traveler.

Di rumah, terpajang seribu lebih gantungan kunci dan ratusan magnet dari  negara dan kota yang pernah saya kunjungi. Di lemari kaca ada puluhan snow ball, topi, mug, dan koleksi beraneka ragam  kartu remi serta berbagai souvenir lain. Makin lama, rumah kami kata orang lebih mirip museum traveling dari pada tempat tinggal.

Sebagian tamu menjadikan pajangan tersebut sebagai icon travelling, tapi setelah melihat-termasuk yang saya upload di instagram, beberapa di antaranya justru protes.

"Kok, nggak ada yang dari Indonesia sih, Mbak!?"

Sekalipun sebenarnya ada gantungan kunci atau souvenir yang saya beli ketika berkunjung ke beberapa daerah di nusantara, seolah tertutup oleh begitu variatif dan menariknya gantungan kunci dari negara lain yang jumlahnya lebih banyak.

Kelihatannya sederhana, tapi pengalaman ketika traveling  ke berbagai negara menujukkan bahwa souvenir kecil seperti gantungan kunci, snow ball, kartu remi, kaus,  topi, dan lainnya bisa menjadi indikator seberapa serius sebuah masyarakat atau pemerintah menggarap potensi wisatanya.

Bahkan lebih dari itu, souvenir tersebut juga menjadi  parameter rasa memiliki dan bangga  kita sebagai anak bangsa.Coba cari gantungan kunci 'pabrikan' ala Indonesia yang dibuat dengan desain dan kualitas prima. Tidak mudah. Kita hanya menemukannya di Airport,  daerah wisata, atau pusat perbelanjaan tertentu, itu pun dengan desain yang masih kalah bersaing. Padahal, setiap orang asing atau turis biasanya ingin punya sesuatu yang dibawa pulang sebagai souvenir, dan kalau ingin membeli oleh-oleh  gantungan kunci  sering menjadi pilihan pertama.

Di Roma, Barcelona, Amsterdam, dan negara Eropa lainnya turis bisa dengan mudah menemukan ratusan desain gantungan kunci, magnet, dan souvenir yang menarik. Tidak hanya di daerah wisata,  di minimarket pinggiran jalan umum pun menyediakan sehingga turis dengan mudah bisa mendapatoan cenderamata di mana saja.

 

Souvenir yang dibeli dibawa pulang, dipajang dan dijadikan oleh-oleh. Secara tidak sadar oleh-oleh tanda mata  itu akhirnya menjadi daya tarik buat orang yang melihat untuk mengunjungi daerah tersebut. Sebagai  alat promosi yang tidak berbiaya, mereka  menjadi barang dagang yang menguntungkan sekaligus media promosi yang sangat kuat.

Singapura dan Malaysia sangat mengerti betapa penting menyediakan souvenir murah untuk para turis. Di sana kita bisa membeli gantungan kunci seharga lima puluh ribu sampai seratus ribuan untuk satu lusin gantungan kunci yang standar. Padahal di Indonesia gantungan kunci sejenis harus dibeli dengan harga Rp 50 ribu satu buah.

Setiap orang Indonesia yang pulang dan memberi hadiah gantungan kunci ke banyak orang seolah berkata, "Kunjungilah negeri ini suatu saat nanti!"

Di Tanah Air mungkin hanya Bali dan Jogjakarta yang  benar-benar siap menyediakan souvenir yang bisa menjadi alat promosi efektif ketika turis kembali ke negaranya. Padahal ada Raja Ampat, Mentawai, Wakatobi, Pulau Seribu, Pulau Komodo, dan  daerah-daerah  lain yang memiliki  potensi untuk diminati wisatawan mancanegara.

Sebenarnya alat promosi lain yang sangat penting dalam dunia pariwisata adalah keramahan dan keamanan. Wisata adalah kepuasan batin. Jika wisatawan merasa nyaman dan senang, mereka akan bercerita, dan dari sana muncul promosi dari mulut ke mulut yang sangat kuat. Infrastruktur dan transportasi juga penting untuk memajukan wisata, karena salah satu sebab wisata di Indonesia menjadi mahal adalah  kendala infrastuktur dan transportasi.

Untuk meningkatkan industri periwisata Indonesia, pemerintah merencanakan memberi fasilitas bebas visa pada 45 negara. Saat ini baru 15 negara yang bebas visa. Selain itu, pemerintah menaikkan anggaran  promosi pariwisata dari tahun sebelumnya Rp 300 miliar menjadi Rp 1,2 triliun pada tahun 2015.

Biaya promosi ini, seandanya berhasil akan membuat wisatawan datang ke Indonesia tapi tidak menjamin mereka akan  betah atau tertarik berkunjung kembali  dan mempromosikannya ke teman-teman mereka.Mereka akan datang lagi dan menjadi duta promosi jika keramahan kita memberi kenangan dan kesan mendalam.

Mereka merekomendasikan Indonesia jika kenyamanan dan keamanan mereka selama traveling di negeri kita, terjaga. Mereka secara tak sadar akan menceritakan Indonesia jika membawa pulang souvenir dan oleh oleh kecil yang dibagikan ke keluarga dan teman-teman mereka di negara asal. Jika ini terjadi, tanpa promosi berbiaya mahal pun pariwisata Indonesia akan terdengar dan memiliki citra bagus.

Alhamdulillah, enam puluh negara, 279 kota di dunia Allah izinkan saya menapakinya. Dan kian jauh berjalan, semakin tebal kesadaran akan  potensi kekayaan wisata negeri kita yang unik dan memiliki kekhasan yang tidak dimiliki negara lain. Saya percaya indonesia lebih indah, tinggal bagaimana kita mengelolanya.

 

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement