Selasa 03 Jan 2017 17:15 WIB

Dunia Wisata Diyakini 'Hidup' Tahun Ini

Red:

JAKARTA — Dunia pariwisata di Tanah Air diyakini masih akan mengalami tren positif tahun ini. Pemerintah terus berupaya menggaet pelancong dari penjuru dunia untuk mengunjungi Indonesia. Tahun ini pemerintah coba membuka keran kedatangan pelancong dari kawasan perbatasan.

Deputi Bidang Pemasaran Pariwisata Mancanegara Kementerian Pariwisata I Gde Pitana mengatakan, ada potensi luar biasa dari pelancong yang dekat dengan perbatasan. Ia mencontohkan, para pelancong dari perbatasan Indonesia dengan Malaysia, Singapura, Papua Nugini, dan Timor Leste.

"Kita punya banyak, mestinya kita berusaha menjaring mereka untuk datang," kata Pitana kepada Republika, Senin (2/1).

Pitana menyebut, pelancong asal Kuching, Malaysia, cukup banyak yang ingin berwisata ke Entikong, Kalimantan Barat. Kunjungan para pelancong tersebut diyakini akan berdampak terhadap perekonomian masyarakat sekitar Entikong.

Berbagai upaya dilakukan Kementerian Pariwisata (Kemenpar) untuk mendatangkan pelancong dari luar negeri, termasuk mendorong perjalanan turis domestik. Salah satu langkah yang dilakukan pemerintah adalah pembebasan visa. Pitana mengakui, dampak bebas visa sebenarnya baru bisa disimpulkan setelah tiga tahun. Namun, selama evaluasi yang telah dilakukan Kemenpar, kebijakan bebas visa memiliki pengaruh sangat besar terhadap kedatangan turis asing.

"Pada periode yang sama sebelum berlaku dan setelah berlaku bebas visa, (turis) Amerika naik 31 persen," kata Pitana. Termasuk juga kedatangan pelancong dari Timur Tengah yang naik 17 persen dan Australia yang meningkat 14 persen.

Namun, kebijakan bebas visa juga harus tetap dipantau pemerintah. Wakil Ketua Asosiasi Travel Indonesia (Asita) Rudiana mengatakan, kebijakan bebas visa yang diberlakukan Indonesia untuk beberapa negara tampaknya perlu dibarengi dengan pengetatan keamanan di dalam negeri. Maksudnya, jangan sampai kebijakan bebas visa dimanfaatkan turis tidak bertanggung jawab di Tanah Air.

Ini mengingat banyaknya kasus tenaga kerja asing (TKA) yang bekerja dengan izin sebagai turis. "Kita nggak mau yang sekarang lagi rame mengenai TKA karena kebebasan visa kita dari Cina," kata Rudiana.

Dia mengakui, kebebasan visa memang berdampak pada volume kunjungan turis asing ke Indonesia. Cina dan Australia menjadi negara asal turis asing paling banyak ke Indonesia. Rudiana menegaskan, saat memberlakukan kebijakan bebas visa, pemerintah tetap harus mempertimbangkan dampaknya agar tidak merugikan Indonesia.

Berkaca dari tahun lalu, turis asing masih fokus menjadikan Pulau Bali sebagai destinasi utama. Untuk mengatasinya, pemerintah menciptakan 10 "Bali baru", yaitu Danau Toba (Sumatra Utara), Tanjung Lesung (Banten), Kepulauan Seribu (DKI Jakarta), Mandalika (NTB), Pulau Morotai (Maluku Utara), Bromo Tengger Semeru (Jawa Timur), Wakatobi (Sulawesi Tenggara), Labuan Bajo-Komodo (NTT), Borobudur (Jawa Tengah), dan Tanjung Kelayang (Bangka Belitung).

Destinasi tersebut diharapkan akan menjadi daya tarik selain Bali untuk mendatangkan turis asing. Namun, Rudiana mengatakan, kedatangan pelancong domestik ke destinasi tersebut juga harus didorong lebih gencar.

Tingkat okupansi turis asing ke Tanah Air juga diyakini akan tetap mengalami tren positif pada tahun ini. Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani optimistis kunjungan turis asing ke Indonesia tahun ini meningkat. Setidaknya pertumbuhannya melebihi tahun lalu yang berada pada kisaran sembilan persen. "Kalau nggak salah sembilan persen, 2017 pasti akan meningkat," katanya.

Guna menggenjot pertumbuhan sektor pariwisata di Indonesia, Hariyadi mengatakan, pihaknya berkoordinasi dengan Kemenpar dan maskapai penerbangan membuat calender event. PHRI juga menggelar berbagai program, salah satunya promosi bersama yang akan dilakukan selama Februari-Maret 2017.

Sepanjang 2016 lalu, menurut Hariyadi, turis Cina paling banyak berkunjung ke Indonesia, kemudian disusul Australia dan India. Tahun ini pemerintah menargetkan kunjungan 15 juta wisatawan mancanegara dan 265 juta pergerakan wisatawan domestik. Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan, target baru ini naik dari tahun 2016, yaitu 12 juta turis asing dan 250 juta pergerakan pelancong domestik

Kemenpar juga menetapkan target secara makro dan mikro. Target makro indikatornya meliputi kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB), devisa, dan jumlah tenaga kerja. Dikatakan, target 2017 pariwisata bisa menyumbang 13 persen PDB nasional, dari semula hanya 11 persen. Sedangkan untuk devisa ditargetkan naik jadi Rp 200 triliun, dari semula hanya Rp 172 triliun pada 2016. rep: Melisa Riska Putri ed: Citra Listya Rini

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement