JAKARTA -- Republika secara resmi meluncurkan laman Ihram.co.id. Peluncuran dilaksanakan pada rangkaian Dzikir Nasional Republika 2016 di Masjid at-Tin, Jakarta, Sabtu (31/12) malam.
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin secara simbolis membuka laman tersebut. Turut mendampingi beliau Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Hidayat Nur Wahid, Direktur Utama PT Republika Media Mandiri Agoosh Yoosran, dan Pemimpin Redaksi Republika Irfan Junaidi.
Irfan menjelaskan, Ihram.co.id merupakan laman dengan fokus ibadah haji dan umrah. Isinya beragam, dimulai dari perjalanan Islam, termasuk di dalamnya kajian -kajian Islam, guideline haji serta cerita-cerita tentang situs yang dikunjungi saat umrah maupun haji. "Tujuannya supaya kita tidak melupakan perjalanan Islam yang kaya raya. Supaya kita bangga punya sejarah yang kaya raya," kata Irfan di hadapan para jamaah.
Menurut dia, Ihram.co.id diresmikan di hadapan jamaah, guru-guru, maupun alim ulama agar perjalanan laman tersebut berkah. Apalagi di dalamnya terdapat informasi-informasi tentang peradaban Islam yang kaya. "Sejarah telah membuktikan bahwa peradaban Islam memiliki sumbangan yang sangat besar dalam perkembangan kehidupan manusia," ujar Irfan.
Jejak peradaban tersebut sangat penting untuk disampaikan kepada masyarakat. Irfan pun menjelaskan pemilihan domain "co.id" dalam laman tersebut.
"Kami memakai domain 'co.id' untuk menegaskan identitas keindonesiaan. Sebab, itu berarti domain milik Indonesia, bukan '.com'," katanya.
Menag mengapresiasi kehadiran laman Ihram.co.id. Dia berharap situs ini mampu menyajikan informasi yang akurat dan memperluas pengetahuan pembacanya.
Dalam kesempatan tersebut, Menag mengimbau masyarakat agar cerdas dan kritis dalam menggunakan media sosial (medsos) dan internet. Berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), dalam satu hari penuh rata-rata masyarakat menggunakan medsos selama 3,5 jam.
"Jadi betapa pengaruh dunia maya luar biasa dalam hidup kita. Dan itu trennya akan terus meningkat," ujar Menag. Ia mengakui, internet berisi informasi yang begitu melimpah yang tidak semuanya negatif. Namun, pelbagai isu yang menyesatkan juga mudah ditemukan.
"Banyak juga informasi-informasi yang bukan hanya sekadar tak berguna, tapi juga merusak kita sebagai sebuah bangsa," kata Menag. Lukman kemudian mengingatkan khalayak tentang sabda Nabi Muhammad SAW bahwa seseorang bisa masuk ke dalam golongan pembohong bila ia menyampaikan setiap kata-kata yang didengarnya. Atau dalam konteks sekarang, mengunggah (posting) atau membagikan (share) hal-hal yang kita dengar.
"Padahal, hal-hal itu belum tentu buruk semua. Bayangkan kalau hal-hal itu informasi yang belum diverifikasi, belum diklarifikasi, belum kita tabayun kebenarannya tetapi kita sudah main posting," tegas Menag.
Apalagi, lanjut dia, informasi yang sumir sering kali memancing emosi pembaca sehingga menimbulkan hujatan-hujatan di medsos. Untuk itu, Menag mengajak semua pihak untuk lebih cerdas.
"Jangan mau diadu domba lantaran posting yang tak jelas sumbernya. Alangkah lebih baiknya bila pengguna internet sering-sering membagikan konten yang bernilai ajakan positif, misalnya doa-doa atau ajakan-ajakan ibadah, amal soleh. Tetapi, kalau informasi yang kita sendiri ragukan kebenarannya maka cukuplah berhenti di kita, tidak usah kita lanjutkan," kata dia menjelaskan.
Lebih lanjut Menag mengatakan, Indonesia merupakan bangsa yang begitu majemuk. Dengan demikian, seluruh elemen bangsa, khususnya umat Islam, diharapkan terus berkomitmen menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
"Tidak tertutup kemungkinan isu-isu samar berasal dari pihak luar yang ingin melihat Indonesia hancur sehingga Indonesia kehilangan waktu pekerjaan yang bermanfaat karena waktunya terkuras di media sosial," ujar Menag. rep: Hasanul Risqa ed: Muhammad Iqbal