"Cukuplah kematian itu sebagai pelajaran." Demikian kata Rasulullah Muhammad saw.
Bila engkau ingin melihat kesalehan seseorang, lihatlah saat kematiannya. Berapa banyak orang yang datang melayat dan menshalatkan jenazahnya.
I'tibar itulah yang Allah SWT hamparkan pada kematian wartawan Republika H Damanhuri Zuhri. Lelaki kelahiran Bogor, 2 Mei 1964 itu wafat di RS Sari Asih Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Senin (2/1/2017), pukul 04.34 WIB. Ia sempat dirawat di RS tersebut selama enam hari, sejak Selasa (27/12/2016) petang, sebelum akhirnya ajal menjemputnya selepas shubuh tiba.
Sekitar pukul 06.30, jenazah almarhum yang bergabung dengan Harian Republika sejak pertama kali harian Islam ini terbit (tahun 1993) tiba di rumah duka, di Kampung Tulang Kuning, Desa Waru, Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Sejak itu, para pelayat datang silih berganti.
Hingga pelaksanaan shalat jenazah di Masjid Riyadhus Shalihin Parung -- masjid di mana almarhum menjadi ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) - ratusan bahkan ribuan pelayat dari pelbagai kalangan datang ke rumah almarhum untuk memberikan penghormatan terakhir dan mengiringkan doa untuknya. Mereka berasal dari berbagai kalangan: ulama, guru, pejabat pemerintah, direksi BUMN, pengusaha, jurnalis dari berbagai media, alumni Pondok Pesantren Gontor, alumni IAIN (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, dan sahabat almarhum dari lintas bidang.
Semasa hidupnya, alumnus Gontor dan IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu memang dikenal memiliki pergaulan yang sangat luas. Sebagai wartawan, lelaki yang sebelum bergabung dengan Republika, pernah berkiprah di Majalah Panjimas dan Media Dakwah itu, memiliki jangkauan liputan yang sangat beragam dan komplet.
Ia pernah menjadi wartawan peliput Istana Kepresidenan pada era Presiden Soeharto. Bahkan, almarhum menjadi saksi hingga Orde Baru tumbang kemudian berganti menjadi Era Reformasi.
Ia mungkin satu-satunya jurnalis Indonesia yang merupakan veteran peliput Perang Teluk I (1991). Dengan kemampuan bahasa Arabnya, dan keberaniannya yang luar biasa, ia hadir di medan liputan yang berbahaya tersebut, yang mungkin tidak semua jurnalis berani dan mau melakukannya.
Wartawan yang hafiz Alquran, bersuara merdu, sangat pandai bertausiyah, humoris, sekaligus bersahaja itu juga menggeluti bidang-bidang liputan lainnya, terutama bidang keislaman, pendidikan, hingga seni dan budaya.
Narasumbernya sangat beragam, dari kalangan ulama, pejabat, pengusaha, pendidik, pengasuh pondok pesantren, hingga artis.
Mungkin tidak ada satu pun jurnalis Indonesia yang memiliki pengalaman liputan selengkap lelaki yang di kantor Republika biasa dipanggil "ustaz" atau "kiai" itu. Saat memberikan sambutan menjelang shalat jenazah di Masjid Riyadhus Shalihin, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, Damanhuri Zuhri adalah seorang wartawan yang berdedikasi tinggi, yang menulis tanpa pretensi, dan kepentingan tertentu, serta selalu menulis secara berimbang dan objektif.
"Sekarang ini sulit kita mencari wartawan yang penuh komitmen dan berdedikasi tinggi seperti Damanhuri Zuhri," kata Menag. Dedikasi, loyalitas, dan ketulusan Damanhuri dalam melakukan perjuangan melalui pena memang tidak diragukan lagi.
Apalagi, kalau sudah bicara soal Islam. "Damanhuri adalah penyambung lidah para ulama. Banyak pemikiran ulama sampai kepada masyarakat berkat tulisan beliau. Banyak pemikiran saya yang sampai kepada umat berkat berita-berita yang beliau tuliskan. Damanhuri adalah muajid pena," kata Kepala Lembaga Lajnah Pentashihan Alquran Kemenag Muchlis Hanafi.
"Ustaz Damanhuri seorang pejuang masjid dan penulis hebat," kata Pimpinan Yayasan Dinamika Umat dan Dosen Unida Bogor KH Hasan Basri Tanjung. "Beliau orang baik. Saya baru kenal sebentar saja bisa merasakan keikhlasan beliau. Insya Allah beliau husnul khatimah," ujar Chief Executive Officer (CEO) PT Zahir Internasional Muhamad Ismail Thalib.
"Beliau guru mengaji saya, kami. Bukan hanya warga kampung sini yang tahu beliau," kata Trisna (60 tahun), warga Kampung Tulang Kuning, Desa Waru, Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor. Saat ditemui Republika, dia tampak tercenung memikirkan masa-masa bersama almarhum.
Damanhuri Zuhri tidak hanya aktif sebagai wartawan. Ia pun aktif di masyarakat, menjadi khatib dan dai. Hingga akhir hayatnya, ia masih memegang amanah sebagai ketua DKM Masjid Riyadhus Shalihin Parung.
Tak hanya itu. Ia pun mendirikan lembaga pendidikan di Parung yang bernaung di bawah Yayasan Bina Ilmu, sebuah yayasan yang mengelola TK dan SD IT Bina Ilmu.
Komitmen Damanhuri di bidang keislaman dan Republika juga dia nyatakan dengan tegas saat ditawari sejumlah pengusaha untuk bergabung dengan media baru yang bermunculan setelah reformasi. Namun, dia tidak pernah tergoda meski diiming-imingi gaji tinggi.
Apa jawabnya, "Saya ini dikenal sebagai Damanhuri Republika," ujarnya tegas.
Seusai dishalati di Masjid Riyadhus Shalihin, jenazah almarhum kembali dibawa ke rumah duka. Ratusan pelayat dari berbagai kalangan tetap setia menunggu kedatangan salah seorang kakak almarhum yang berangkat dari Solo, Jawa Tengah, dengan pesawat pukul 11.00 WIB.
Lewat tengah hari, perlahan jasad jurnalis yang di mata Pemimpin Redaksi Republika Irfan Junaidi, dikenal tidak pernah mengeluh itu, dimasukkan ke liang lahat. Kuburan tersebut berada di halaman belakang rumah keluarga Haji Zuhri, ayah almarhum.
Pohon rambutan yang rindang seakan disiapkan untuk meneduhi makam tersebut. Selamat jalan guru kami, sahabat kami, dan mujahid pena kebanggaan kami.
Sejatinya, seperti kata Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, engkau bukanlah pergi. Engkau pulang kepada Kekasih yang mencintaimu lebih dari kami, keluargamu, saudaramu, dan sahabatmu.
Dan engkau pun pulang dengan suka cita. Dengan senyum mengembang di bibirmu.
"Wahai pribadi yang tenang, pulanglah kepada Tuhanmu dengan penuh ridha dan diridhai-Nya, masuklah engkau ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah engkau ke dalam surga-Ku." (QS Al-Fajr: 27-30)
Oleh Irwan Kelana Amri Amrullah/Fuji Pratiwi/Hasanul Rizqa/Qommarria Rostanti/Santi Sopia/Syahruddin El-Fikri ed: Muhammad Iqbal