Jumat 30 Dec 2016 16:00 WIB

Alur Distibusi Buat Harga Cabai Mahal

Red:

JAKARTA -- Kementerian Pertanian (Kementan) kembali menyebut bahwa produksi cabai sebenarnya melebihi jumlah permintaan masyarakat dan industri. Namun, sulitnya pendistribusian membuat harga cabai melambung.

Kepala Pusat Distribusi dan Cadangan Pangan Badan Ketahanan Pangan Kementan Benny Rachman mengatakan, sejak Januari hingga Desember 2016 produksi cabai dari sejumlah sentra pertanian melimpah.

Berdasarkan data, produksi hingga bulan Desember, jumlah cabai besar mencapai 1.209.454 ton. Sedangkan konsumsi cabai, besar keseluruhan hingga Desember sebesar 914.827 ton, ditambah kehilangan hasil produksi sebesar 63.738 ton.

Maka akan ada kelebihan stok cabai besar 230.888 ton. Hal serupa terjadi pada cabai rawit. Produksi hingga akhir tahun sebesar 932.221 ton. Setelah ada kehilangan sebanyak 48.654 ton, kemudian kebutuhan dalam negeri yang mencapai 650.007 ton. Lebihnya 224.561 ton.

Merujuk kepada data, Benny menyatakan, sebenarnya persediaan cabai surplus. Karena dari jumlah produksi dan kebutuhan total kalau sudah dikurangi masih ada lebih banyak. "Yang menjadi permasalahan saat ini adalah alur pendistribusian dan pemasaran," katanya, Kamis (29/12).

Ia menjelaskan, tidak semua sentra produksi cabai berada di kota besar dan tidak ada di seluruh daerah di Indonesia. Berbeda dengan lahan produksi beras yang menyebar di banyak tempat. "Hal inilah yang sekarang harus segera dipecahkan," katanya.

Menurut dia, adanya kesulitan dalam pendistribusian dan pemasaran juga terlihat dari harga jual cabai di petani. Selama ini cabai di petani masih dibeli dengan harga sekitar Rp 18 ribu hingga Rp 20 ribu per kilogram (kg).

Namun, ketika sampai di pedagang eceran harga cabai bisa mencapai Rp 60 ribu per kg. "Ini naiknya saja sudah berapa ratus persen, tinggi sekali. Berarti alur distribusi ini yang terlalu panjang," kata Benny menegaskan.

Salah satu upaya memperpendek alur distribusi terlihat dari komoditas beras. Distribusi yang biasanya tujuh hingga delapan kali, ini bisa dipangkas mencapai tiga kali alur distribusi. Karena asosiasi yang mengumpulkan beras langsung diarahkan untuk menjual ke pedagang eceran.

Hasilnya sejumlah pasar di beberapa daerah dan juga toko tani indonesia (TTI) yang mendapatkan pendistribusian ini bisa menjual beras medium di harga Rp 7.500 per kg di saat toko lain menjual dengan harga Rp 9.000 per kg.

Harga cabai merah di sejumlah pasar tradisional Simpang Pematang, Kabupaten Mesuji, Provinsi Lampung, menjelang tahun baru 2017 terus mengalami kenaikan hingga menembus Rp 80 ribu per kg. Padahal sebelumnya hanya Rp 40 ribu.

Beberapa pedagang di Pasar Simpang Pematang, Tanjungraya, Mesuji, mengatakan bahwa kenaikan harga cabai merah yang meningkat tajam itu karena pasokan dari Jakarta maupun Pulau Jawa berkurang.

Angkutan kargo yang membawa bahan pangan dari Pulau Jawa atau Jakarta ke Lampung dan Sumatra, dialihkan untuk melayani penumpang yang membeludak menjelang Natal dan tahun baru, sehingga barang yang dibawa pun berkurang.

Barangnya sedikit, sehingga harganya menjadi tinggi, karena kargo yang membawa barang dialihkan membawa penumpang, barang-barang dari Jakarta menjadi mahal. Pedagang Pasar Tanjungraya Mesuji, Dedi, mengatakan, harga bahan pokok lainnya juga naik.

Harga telur ayam, kata dia, yang semula Rp 20 ribu menjadi Rp 30 ribu per kg. Ayam potong kini harus dibayar dengan harga Rp 30 ribu, dari semula hanya Rp 25 ribu per kg. rep: Debbie Sutrisno  antara ed: Ferry Kisihandi

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement