Penelitian terbaru menunjukkan, tindak operasi yang umum dilakukan untuk menurunkan berat badan berkaitan dengan masalah gastrointestinal. Penelitian ini juga menunjukkan adanya hubungan antara operasi penurunan berat badan dan intoleransi makanan.
Untuk mencapai kesimpulan tersebut, tim peneliti menganalisis data dari 249 pasien yang sangat obesitas dan telah menjalani prosedur laparoscopic Roux-en-Y gastric bypass. Prosedur ini membuat ukuran kantong perut menjadi lebih kecil seukuran satu butir telur.
Penelitian ini dimulai pada 2012 lalu, yang mana usia rata-rata pasien ialah 46 tahun. Sekitar 45 persen di antara para pasien memiliki tekanan darah tinggi dan sebanyak 29 lainnya dinyatakan diabetes.
Dua tahun setelah operasi, para pasien ini diketahui mengalami penurunan badan sekitar 30 persen dari total berat badan rata-rata mereka. Di sisi lain, pasien yang menjalani bypass lambung juga cenderung mengalami gangguan pencernaan dan ketidakmampuan untuk menoleransi beberapa makanan.
Peneliti juga melakukan survei terhadap seluruh pasien terkait 16 gejala gastrointestinal yang dialami setelah operasi. Tim peneliti menemukan masalah gastrointestinal yang paling umum dialami pasien ialah gangguan pencernaan, perut berbunyi, kembung, sendawa, serta tinja yang terlalu keras atau terlalu lunak.
Tim peneliti pun melakukan perbandingan dengan kelompok pasien lain yang tidak menjalani operasi. Dari perbandingan tersebut, tim peneliti menemukan bahwa kelompok pasien yang menjalani operasi mengalami gejala gastrointestinal dengan rata-rata 2,2. Sedangkan, kelompok pembanding yang berisikan pasien tanpa tindak operasi mengeluhkan gejala dengan rata-rata 1,8.
Sekitar 71 persen pasien yang telah menjalani operasi juga mengalami intoleransi makanan. Jumlah ini jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan kelompok pembanding di mana hanya 17 persen pasien yang mengalami intoleransi makanan.
Umumnya masalah makanan yang dihadapi pasien ini berkaitan dengan makanan yang digoreng, minuman bersoda, kue, pai, dan pastry. Sebagian bahkan bermasalah dengan es krim dan makanan pedas.
"Sudah diketahui dari penelitian sebelumnya bahwa Roux-en-Y gastric bypass dapat memperberat gejala gastrointestinal setelah operasi," kata kepala peneliti Dr Thomas Boerlage dari MC Slotervaart di Amsterdam seperti dilansir FOX News.
Sayangnya, penelitian ini juga dinilai memiliki kekurangan terkait data gejala-gejala yang dirasakan pasien sebelum operasi. Kekurangan ini membuat tim peneliti cukup sulit unutk menentukan apakah masalah pencernaan dan gastrointestinal yang terjadi pasti disebabkan oleh operasi atau tidak.
Saat penelitian dilakukan, Roux-en-Y merupakan jenis gastric bypass yang paling umum dilakukan pada pasien. Tetapi, saat ini prosedur operasi sleeve gastrectomy yang mengecilkan ukuran perut menjadi seukuran pisang diketahui lebih sering diterapkan.
"Operasi ini (sleeve gastrectomy) kemungkinan besar memiliki efek samping gastrointestinal yang lebih sedikit," jelas Dr Andrei Keidar dari Rabin Medical Center dan Tel Aviv University. rep: Adhysa Citra ramadhani ed: Ferry Kisihandi