Semua orang tua mengharapkan memiliki anak yang sehat dan cerdas. Karena itu, berbagai cara dilakukan orang tua untuk memenuhi harapan tersebut, termasuk dengan memberikan berbagai kebutuhannya dengan kualitas yang baik. Namun, ada kalanya kebutuhan-kebutuhan anak tidak terpenuhi dengan baik, terutama menyangkut pengetahuan orang tua yang terbatas pada kebutuhan anak yang sebenarnya.
Dari keseluruhan kebutuhan anak untuk menjadi sehat dan cerdas adalah makanan. Gizi yang cukup dan seimbang adalah yang dibutuhkan oleh anak-anak. Kecukupan gizi dan nutrisi ini terutama dibutuhkan di awal-awal kehidupannya, yaitu seribu hari pertama kehidupan (HPK). Peranan kecukupan gizi tersebut menentukan tumbuh kembang anak di masa depannya. Jika di masa HPK anak-anak tidak mendapatkan pemenuhan gizi yang baik, dampaknya tak dapat diperbaiki (irreversible).
Menurut Kepala Sub-Direktorat Kewaspadaan Gizi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) R Giri Wurjandaru SKM MKes, kekurangan gizi di masa janin dalam kandungan hingga usia dua tahun tersebut berisiko menyebabkan anak mengalami tubuh pendek (stunting).
Giri mengatakan, kondisi tubuh anak seperti itu terjadi karena kekurangan gizi mendorong tubuh anak untuk melakukan 'kompensasi' dengan tidak tumbuh tinggi. Dengan begitu, tubuh anak tetap berfungsi normal secara keseluruhan. Kompensasi ini yang kemudian menyebabkan anak bertubuh pendek dari anak normal lainnya. "Ini beda dengan pendek karena genetik," kata dia, di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Pada anak, stunting dapat menghambat perkembangan, penurunan fungsi kekebalan dan fungsi kognitif, serta gangguan sistem pembakaran lemak.
Orang tua yang kurang memahami hal ini cenderung memberikan anak stunting banyak makan agar cepat tumbuh tinggi. Padahal, menurut dia, cara tersebut justru berisiko menyebabkan anak mengalami kelebihan berat badan dan kegemukan (obesitas). Obesitas sejak masa kanak-kanak berisiko menyebabkan beberapa masalah kesehatan ataupun masalah psikologi di masa depan.
Dengan perkembangan tubuh yang tidak optimal, anak stunting juga berisiko mengalami beberapa masalah kesehatan ketika dewasa. Menurut Branca dan Ferari (2002), beberapa masalah tersebut ialah obesitas, penurunan toleransi glukosa, penyakit jantung koroner, hipertensi, dan osteoporosis.
Anak yang mengalami gizi buruk saat bayi, menurut Giri, juga akan memiliki kemampuan intelegensi (IQ) yang lebih rendah. "Artinya, mereka hanya bisa belajar sampai kelas 9."
Dampak buruk yang berkepanjangan akibat malnutrisi di awal kehidupan tidak bisa diperbaiki, tetapi dapat dicegah dengan cara menjaga asupan gizi yang seimbang sejak dini. "Kejadian stunting selama seribu HPK masih bisa diperbaiki, kalau sudah di luar itu, akan menetap, tidak lagi berkembang otaknya," ujar Giri.
Proporsional makanan
Spesialis gizi klinik dr Ida Gunawan MS SpGK mengatakan, kebutuhan gizi yang tidak terpenuhi dengan baik di masa HPK berdampak pada gangguan perkembangan otak untuk jangka pendeknya. Selain pertumbuhan terganggu, terjadi pula kelainan pada program metabolik tubuhnya. Sementara, untuk masalah kurangnya kemampuan kognitif, tumbuh pendek, dan penyakit lainnya merupakan dampak jangka panjang malnutrisi.
Untuk menghindari masalah gizi pada anak ini, Ida mengatakan, makanan yang diberikan kepada anak harus sesuai dengan masa atau periode pertumbuhan anak. Makanan yang diberikan juga harus berdasarkan pola gizi lengkap yang meliputi makanan bervariasi, mengandung nutrisi karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral, dan serat.
Hal yang tak kalah penting, makanan yang dikonsumsi anak juga harus seimbang. Jumlah makanan yang dikonsumsi pun harus proporsional sesuai dengan kebutuhan tubuh. "Lakukan empat pilar gizi seimbang berupa makan beragam, hidup bersih, aktivitas fisik teratur, pantau berat badan," kata Ida di tempat terpisah.
Spesialis gizi klinik dari RS Cipto Mangunkusumo dr Nurul Ratna Manikam MGizi SpGK juga mengatakan, kekurangan gizi pada HPK bahkan, dapat diprediksi terjadi pada saat janin di dalam kandungan. Ini dilihat dari berat yang tidak sesuai dengan usia kehamilan.
Sedangkan, saat lahir sesuai waktunya, bayi yang dicurigai mengalami gizi kurang umumnya berbobot di bawah 2.500 gram. "Bisa juga dilihat di awal perkembangan, usia tiga sampai enam bulan. Lihat per bulan kenaikan berat badannya sesuai dengan usia atau tidak," kata Nurul.
Ketika anak diketahui mengalami kekurangan gizi, mereka harus diperlakukan sesuai dengan kondisinya. Jika masih berusia di bawah enam bulan, cara terbaik ialah dengan memberikan asupan susu yang cukup karena anak belum bisa mengangkat tegak kepalanya.
Jika seorang anak berusia enam bulan memiliki berat badan seperti anak berusia empat bulan, makanan yang boleh diberikan ialah makanan yang sesuai untuk anak berusia empat bulan. "Tapi, tidak bisa langsung banyak. Bertahap, ada rumusnya," ujar Nurul.
Itulah sebabnya tindakan pencegahan lebih tepat dilakukan di awal HPK. Ibu hamil seharusnya mencukupi asupan gizinya, baik protein dan nutrisi lainnya. Mereka disarankan tidak memilih-milih makanan sehat jika tidak memiliki riwayat alergi. Hanya, ibu hamil tidak boleh makan berlebihan, walau pun tengah berbadan dua.
Nurul mengatakan, pembentukan sel otak terjadi di dua tahun pertama anak. Di saat itulah kebutuhan zat besi dan yodium anak harus terpenuhi dengan baik untuk menunjang pembentukan sel otak tersebut. Sumbernya adalah lauk pauk. "Kalau sulit sekali makan, tidak naik-naik, bahkan kurang berat badan, bisa ditambah susu dan suplemen supaya dapat zat besinya."
Selain itu, pemenuhan gizi anak dimulai dari orang tua, karena pola makan anak terpengaruh orang tuanya. "Harus dimulai dari orang tua dulu, mereka harus jadi tren yang baik bagi anak, tidak pilih-pilih makan, kemudian makan tidak berlebih, tapi juga tidak kekurangan," kata Nurul. rep: Adhysa Citra Ramadani ed: Dewi Mardiani
FAKTA
- 25 persen bayi gizi buruk ber-IQ 51 - 70 di usia 40 tahun
- 40 persen bayi malnutrisi lainnya memiliki IQ 71 - 90 di usia 40 tahun.